PUSAT PASTORAL

TURBA BAK KE NTB

MEMBANGUN KELUARGA YANG SOLID, SOLIDER DAN EKOLOGIS

Tema Pastoral Keuskupan Denpasar tahun 2026  adalah  Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja yang Sinodal melalui Keluarga, OMK, Sekami dan KBG yang solid dan solider. Menjawabi tema tersebut Bidang Aksi Kemasyarakatan (BAK) Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar memprogramkan kegiatan  Membangun Keluarga Katolik Yang Solid, Solider dan Ekologis. Sasarannya adalah para seksi keluarga di lingkungan dan Tim KPP Paroki.

Tujuan kegiatan ini adalah  Membangun keluarga Katolik yang solid dan solider serta menjadikan keluarga sebagai Gereja mini (Ecclesia Domestica) yang  berwawasan ekologis. Keluarga diharapkan menjadi pusat persemaian iman, tempat meneladani kasih Kristus, serta menjadi komunitas yang kuat secara internal dan peduli terhadap sesama dan keutuhan ciptaan.

Kegiatah dilaksanakan dengan cara Turun ke Bawah (Turba) di beberapa zona. Tahap pertama dilaksanakan di Dekenat NTB dalam tiga Zona. Zona Bima (3/8) untuk Paroki Bima, Dompu dan Donggo, diikuti oleh 58 peserta. Zona Sumbawa Besar (5/7) untuk Paroki Sumbawa Besar yang diikuti  65 peserta. Khusus Paroki Sumbawa dilayani khusus mengngiat  letaknya berjauhan dengan paroki lainnya. Zona Lombok (6/8) bertempat di Rumah retret Aryo Ampenan, diikuti oleh 52 Peserta.

Kegiatan disambut positif oleh para pastor paroki dan  pastor rekan dan  peserta dari unsur seksi keluarga Paroki dan lingkungan. Romo Agustinus Wayan Yulianto – Pastor Paroki Bima, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan BAK ini diharapkan dapat membantu para keluarga Katolik di tiga Paroki Bima, Dompu dan Donggo dalam membangun keluarga yang solid dan solider serta mampu memberi kesaksian keluar, megingat  tiga paroki ini berada di  tengah mayoritas non Katolik.

RD. Agustinus Wayan Yulianto, Pastor Paroki St. Yusuf Bima

Romo Wayan juga berharap dengan pendampingan ini para keluarga Katolik mampu menjadi Ecclesia domestica yang berarti “Gereja rumah tangga” atau “Gereja mini”. Istilah ini mendefinisikan keluarga Kristen sebagai persekutuan iman terkecil yang mencerminkan sifat dasar Gereja yang utuh, tempat di mana cinta kasih, doa, pelayanan, dan pewartaan Injil pertama kali dihidupkan, diajarkan, dan dialami sehari-hari.

Sementara itu  Romo Laurensius Maryono Pastor Paroki Sumbawa Besar, dalam sambutannya mengapresiasi kesuksesan kegiatan Marriage Encounter (ME) di Maluk dan Kemah SEKAMI tingkat Dekenat. Namun, merujuk pada pemaparan Romo Eko Wahyu tentang problematika keluarga, beliau memberikan peringatan tegas: kurangnya cinta kasih adalah akar dari hancurnya sebuah keluarga.

Oleh karena itu, Romo Maryono berharap para Ketua KBG dapat lebih peka dan responsif terhadap persoalan umat di wilayahnya. Melihat kompleksnya masalah yang dihadapi keluarga-keluarga Katolik, Ia berharap, melalui  pembekalan  oleh Tim BAK  Puspas Keuskupan Denpasar ini, setiap rumah tangga di Paroki Sumbawa Besar dapat bertumbuh menjadi keluarga yang sehat, kuat, dan berakar pada kasih Kristus.

RD. Laurensius Maryono, Pastor Paroki Sang Penebus Sumbawa

Senada dengan Romo Wayan dan Romo Maryono, Romo Martinus Eman Ano selaku  Pastor Deken Dekenat NTB dan Pastor Paroki Mataram, dalam sambutannya mengungkapkan rasa gembiranya atas kunjungan tim BAK di Dekenat NTB. Ia berterima kasih telah melayani umat NTB mulai dari Timur yakni di Paroki Bima dan Sumbawa Besar dan terkahir di Lombok. Turba BAK ini juga bermakna untuk saling menyapa dan meneguhkan. Ia  berharap melalui kegiatan ini  keluarga-keluarga  di Paroki Mataram, Ampenan dan Praya mampu menjadi Gereja Rumah Tangga – Ecclesia Domestica putra-putri kesayangan Allah.

RD. Martinus Emanuel Ano, Pastor Paroki St. Maria Immaculata Mataram dan Deken NTB

Keluarga sebagai ecclesia Domesica artinya keluarga menjadi pusat hidup beriman yang pertama, tempat di mana anggota keluarga belajar berdoa, saling mengasihi, tekun merayakan Ekaristi dan saling peduli, akhirnya menjadi keluarga yang  solid dan Solider.

  1. Adianto Paulus Harun: Keluarga sebagai Solah Iman dan Sekolah Moral

Materi pertama disampaikan oleh Romo Adianto Paulus Harun, ketua Komisi Keluarga Puspas Keuskupan Denpasar. Mengawali materinya Romo Adi, demikian ia biasa disapa mengatakan bahwa Keluarga merupakan tempat orang berjumpa dan mengenal orang lain, bersosialisasi dan menumbuhkan kesadaran sosial akan kehadiran orang lain. Keluarga merupakan tempat pertama orang mengenal nilai-nilai moral: baik-buruk, benar-salah, kasih, saling menghargai, memperhatikan, memaafkan (Tolong, Maaf, Terimakasih)

Keluarga sebagai Sekolah Iman

Romo Adi menekankan pentingnya keluarga sebagai sekolah iman. Dikatakannya, Keluarga merupakan tempat pembinaan iman yang pertama dan utama bagi anak-anak. Alasannya, karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka.

Suasana pertemuan di Paroki St. Yusuf Bima

Maka, orang tua adalah pengajar iman pertama dan utama (primus et principalis) bagi anak-anaknya (Gravissimum Educationis, art. 3, FC art.36). Anak-anak harus sudah sejak dini diajar mengenal Allah serta berbakti kepadaNya dan mengasihi sesama.

Romo Adi juga menyadarkan bahwa para orang tua melalui Sakramen Perkawinan yang menandakan kesatuan cinta kasih Kristus dengan Gereja, memiliki kewajiban  mendidik anak untuk menjalani hidup suci, menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka melalui perkataan dan teladan (Lumen Gentium, art. 11).

RD. Adianto Paulus Harun, ketua Komisi Keluarga Puspas Keuskupan Denpasar

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam keluarga sebagai sekolah iman: membiasakan doa bersama, membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengajak anak-anak  mengambil bagian dalam sakramen-sakramen,  (Baptis, Tobat, Ekaristi, Krisma, Perkawinan, dll)

Keluarga sebagai Sekolah Moral

Hal kedua yang disampiakan Romo Adi adalah Keluarga sebagai sekolah moral. Keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangan moral anak. Orang tua sebagai pendidik bertanggung jawab melalui afeksi dan kesaksian untuk menciptakan kepercayaan kepada anak-anak dan mengilhami mereka dengan rasa hormat dan penuh kasih, pengembangan kebiasaan baik serta kecendrungan terhadap hal-hal yang baik (AL, 263)

Pendidikan moral harus selalu dilakukan dengan metode aktif (teladan) dan dialog edukatif (komunikasi yang terus-menerus) serta terjadi secara induktif (membiarkan anak menemukan sendiri nilai-nilai atau norma-norma moral yang absolut), AL, 264.

Suasana pertemuan di Paroki Sang Penebus Sumbawa

Pendidikan moral dapat dilakukan melalui pengembangan kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga seperti penggunaan kata “tolong”, “terima kasih” dan “maaf” (AL, 266).

Pendidikan moral dapat dilakukan dan dikembangkan dalam keluarga melalui pembinaan kebebasan melalui ide-ide, pemberian motivasi, penghargaan, contoh, model, simbol, refleksi, imbauan, perbaikan dalam cara bertindak dan dialog yang terbuka satu sama lain (AL, 267).

Mendalami tema Keluarga sebagai sekolah iman dan Sekolah Moral, peserta dibagi dalam tiga kelompok untuk mengikuti Simulasi Katekse keluarga. Masing-masing kelompok mendalami tema berbeda. Tema pertama Keluarga sebagai Sekolah Kemanusiaan, kedua Keluarga sebagai Sekolah Iman dan ketiga Keluarga sebagai sekolah Moral, dengan Fasilitator Christin, Kustati dan Lorens yang tergabung dalam Tim BAK. Bahan katesese ini selanjutnya akan di dalami di KBG masing-masing.

2. Evensius Dewantoro: Membangun Keluarga yang Ekologis

Materi kedua bertajuk Membangun keluarga yang Ekologis disampaikan oleh RD. Evensius Dewantoro-Ketua Komisi  PSE Puspas Keuskupan Denpasar.

Romo Venus demikian ia biasa disapa mengatakan bahwa Bumi sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pola hidup konsumtif dan pembangunan  sering mengabaikan keseimbangan ciptaan. Akibatnya terjadi perubahan iklim, pencemaran, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya timbunan sampah. Khusus di Bali, sampah menjadi persoalan serius.

RD. Evensius Dewantoro, ketua komisi PSE Pusat Pastoral keuskupan Denpasar

Romo Venus mengajak para peserta  memahami pesan Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang berbicara tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidup.

Ketua PSE Keuskupan Denpasar itu menjelaskan bahwa Laudato Si’ yang berarti “Terpujilah Engkau” merupakan seruan Gereja kepada seluruh umat manusia, untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama yang telah dipercayakan Allah kepada manusia.

“Merawat lingkungan bukan sekadar tugas pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi tanggung jawab kita sebagai anak-anak Tuhan,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Suasana pertemuan untuk paroki-paroki di wilayah Lombok

Melalui materi tersebut, keluarga-keluarga  disadarkan  bahwa bumi adalah ciptaan Allah yang indah dan berharga. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk menghormati seluruh makhluk hidup, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi sampah dan polusi, serta menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan wujud kasih kepada sesama, terutama mereka yang paling merasakan dampak kerusakan alam.

Romo Venus, memotivasi para peserta  agar keluarga-keluarga memiliki peran penting dalam menjaga masa depan bumi. Kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menanam pohon, menghemat air dan Listrik.

Mengutip pesan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laodato Si, Pastor Raoki FX Kuta  itu mengingatkan bahwa “Segala sesuatu saling berhubungan.” Karena itu, perubahan besar selalu berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ice breaking di sela-sela acara

Peserta dijelaskan berbagai jenis sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga sampah B3  (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Sebagai bentuk aksi nyata, Romo Venus  mengajak para keluarga membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah sesuai jenisnya, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memanfaatkan kembali barang-barang yang masih dapat digunakan.

Mendalami materi ini peserta  masuk dalam diskusi kelompok, dengan menjawab pertanyaan: 1. Apa yg terjadi dengan bumi kita sekarang ini, dan apa dampaknya terhadap kehidupan kita manusia ? 2. Apa yang bisa kita lakukan utk merawat bumi dan memulihkan bumi sebagai rumah tinggal bersama ? 3. Langkah kecil apa yg bisa kita buat untuk menyadarkan keluarga dlm merawat bumi dan menjadikannya sebagai habitus (kebiasaan) hidup yang baik ?

Peserta diajak untuk diskusi kelompok mendalami materi ekologi

Semangat Laudato Si’ menjadi pengingat bahwa mencintai bumi berarti ikut menjaga karya ciptaan Allah dan mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Mari kita rawat bumi tempat tinggal semua makhluk hidup. Tindakan kecil dari keluarga-keluarga setiap hari bisa menjaga bumi tetap sehat dan hijau untuk masa depan. Christin***

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button