PUSAT PASTORAL

Giliran Tatubakul Mengikuti Pembekalan dan Pemberdayaan KBG

BADUNG – Tim Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, kembali turba (turun ke bawah) memberikan pembekalan dan pemberdayaan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Giliran 4 paroki di Dekenat Bali Tengah yaitu Tengeb, Tuka, Babakan dan Kulibul (Tatubakul) yang mendapatkan pembekalan, pada Minggu (28/6/2026) di Rumah Khalwat Tegaljaya.

Tempat pembekalan bagi paroki Tatubakul, Rumah Khalwat Tegaljaya, mengingatkan kembali pertama kalinya atau 25 tahun lalu, KBG dicetuskan sebagai cara baru hidup menggereja di Keuskupan Denpasar. Di tempat itu, Januari 2001 Sinode I dilaksanakan, dan salah satu keputusan strategisnya adalah menjadikan KBG sebagai kendaraan atau cara baru baru berpastoral.

Total 125 orang utusan dari 4 paroki Tatubakul ambil bagian dalam kegiatan yang merupakan program unggulan tahun 2026 dari Bidang Pembinaan Iman (BPI) Puspas Keuskupan Denpasar. Di antara peserta, hadir juga Pastor Paroki St. Paulus Kulibul RD. Flavianus Endi dan Pastor Rekan Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, RP. Gabriel Madja, SVD.

Sebelum kegiatan, para peserta bersama Tim Puspas mengikuti Perayaan Ekaristi terlebih dahulu Minggu pagi (28/6) pada pukul 08.00, di Kapela Rumah Khalwat Tegaljaya. Misa difasilitasi oleh Tim Puspas, yang dipimpin oleh Ketua BPI RD. Agustinus Sugiyarto, didampingi Deken Bali Tengah RD. Evensius Dewantoro Boli Daton, dan petugas liturgi lainnya adalah para staf Puspas.

Usai misa para peserta melakukan registrasi dan dilanjutkan dengan kegiatan pembekalan di aula besar Rumah Khalwat. Acara dibuka dengan doa oleh Rm. Flaviansu Endi, dilanjutkan sambutan dari Dekenat Bali Tengah dan Ketua BPI Keuskupan Denpasar.

RD. Evensius Dewantoro

Deken Bali Tengah RD. Evensius Dewantoro, dalam sambutanya mengatakan bahwa cara hidup jemaat perdana yang terinspirasi dari ajaran Yesus sendiri menjadi roll model kehidupan KBG. “Hari ini kita akan melihat kembali KBG kita setelah 25 tahun dimulai di Keuskupan Denpasar. Wajah gereja paling kongkret, paling nyata itu ada di KBG.,” kata Rm. Venus, sapaannya.

Betapa pentingnya pembekalan tersebut sekaligus sebagai evaluasi atas perjalanan KBG selama 25 tahun, maka Rm. Venus, mengajak peserta untuk mengikuti secara penuh sampai selesai simulasi, jangan sampai ada yang pamit lebih dulu dengan menganalogikan Yudas yang meninggalkan perjamuan lebih awal.

“Dalam kelompok 12 Rasul ada Yudas, dia meninggalkan perjamuan lebih awal,” katanya, yang disambut dengan kata paham sambil tertawa oleh peserta, saat Romo Venus bertanya “Apakah bapak ibu paham maksud saya?”

Sementara itu, Ketua BPI Keuskupan Denpasar, Rm. Agustinus Sugiyarto, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak lepas dari tema Pastoral Keuskupan Denpasar 2026, di mana KBG yang solid dan solider menjadi fokus perhatian, bersamaan dengan perhatian pada keluarga, Sekami dan OMK.

Workshop Pemberdayaan KBG yang Solid dan Solider, kata Romo Agus, salah satu tekanannya untuk merefleksikan 25 tahun perjalanan KBG di Keuskupan Denpasar. Romo Agus menegaskan supaya apa yang didapatkan dan pengalaman dalam pembekalan ini harus disampaikan ke anggota KBG masing-masing, dengan harapan terwujudnya KBG yang solid dan solider.

Panorama Paroki

Selepas acara pembukaan dilanjutkan panorama mengenai dinamika KBG dari masing-masing paroki.

Dari Paroki Roh Kudus Babakan, Sekretaris DPP Pak Putu didampingi pengurus DPP lainnya Pak Werna, menyampaikan bahwa paroki Babakan memiliki 144 kk dengan jumlah umat 630 jiwa, yang tersebar di 5 Lingkungan. Masing-masing Lingkungan terdiri dari 2 KBG. Kendati demikian, saat misa hari Minggu apalagi hari raya, gereja selalu dipadati umat, sebab banyak umat diaspora yang ikut misa di sana. Jumlah kk dalam satu KBG antara 11-19 kk.

Dinamika saat pembekalan diselingi ice breaking

Sementara itu, dari Paroki St. Paulus Kulibul, panorama paroki dilaporkan sendiri oleh Pastor Paroki, RD. Flavianus Endi. Romo Vian melaporkan, jumlah umat ada 1.389 jiwa. Mereka tersebar di 7 Linkungan (4 di pusat Paroki Kulibul dan 3 di stasi pegending). Sampai saat ini masih ada KBG yang jumlah kk lebih dari 20 dan berencana untuk dimekarkan. Kegiatan rutin KBG antara lain membagun hidup rohani, melayani kegiatan rohani di gereja, pertemuan rutin, ada beberapa KBG yang menyelenggarakan arisan. Solidaritas dalam KBG dan Lingkungan di antaranya membantu anggota yang membutuhkan dan saling berbagi serta mengunjungi orang sakit. Tantangan: jumlah anggota kk dalam satu KBG masih ada yang sampai 22 kk dan batas teritorial masih menjadi persoalan, sehingga perlu penataan dan harus berani pemekaran.

Dari Paroki St. Theresia Tangeb, dilaporkan pengurus DPP Pak Yosef Lado Tukan. Selain gereja di pusat paroki di Tangeb, paroki ini juga memilik 3 stasi dan masing-masing stasi memiliki gereja. Dilaporkan, di Tangeb terdiri dari 4 KBG dengan 60 kk dan 256 jiwa. Stasi Abianbase ada 3 Lingkungan dan 6 KBG terdiri dari 120 kk dengan total jiwa 615. Sementara Stasi Cemagi terdiri dari 3 KBG dan 215 jiwa serta Stasi Sading ada 2 KBG dengan jumlah umat 115 jiwa. Dari komposisi tersebut total umat paroki ini ada 1.202 jiwa dan ada 15 KBG yang tersebar di pusat paroki dan satu stasi.

Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, melalui Sekretaris DPP Pak Agus Widodo, didampingi Pastor Rekan Paroki Tuka, RP. Gabriel Madja, SVD, melaporkan tentang panorama paroki itu. Paroki Tuka, memiliki 11 Lingkungan, dengan jumlah KBG 24. Namun berdasarkan data paroki, ada 5 lingkungan yang belum memiliki KBG. Dari 11 lingkungan itu, jumlah kk ada 724. Jumlah keseluruhan umat 2.976 jiwa, dengan rincian laki-laki 1.359, dan perempuan 1.617 jiwa.

Setelah masing-masing paroki mempresentasekan panorama, dilanjutkan pembekalan materi oleh Rm. Agustinus Sugiyarto. Topik pembekalan setiap zona selalu sama yaitu ‘Membangun Gereja dari Bawah – 25 Tahun Perjalanan KBG Keuskupan Denpasar’.

Romo Agus, mengungkapkan 25 tahun perjalanan KBG, tidak lepas dari penyertaan Allah terhadap umatNya di Bali dan NTB dalam membangun Gereja yang hidup, partisipatif dan misioner. Ditegaskan bahwa lokus utama KBG bukan sekadar unit organisasi, melainkan tempat Gereja hadir nyata di rumah umat.

RD. Agustinus Sugiyarto

“KBG merupakan wajah Gereja yang kongkret, Gereja yang menyapa dengan nama, mengetuk pintu saat sakit dan menangis bersama saat duka,” kata Ketua BPI reflektif. Romo Agus juga mengungkapkan bahwa KBG sebagai cara baru hidup menggereja tidak hanya ada di Indonesia. Beberapa negara disebutkan Romo Agus, dengan ciri khas KBG masing-masing seperti Filiphina, India, Malaysia, Thailand, Afrika, dan negara-negara Amerika Latin.

Menurut Rm. Agus, pola keberhasilan KBG dapat diukur dari umat sebagai subyek aktif, relasi kuat dan peduli serta ada aksi nyata dan kongkret. Disegarkan kembali oleh Romo Agus, bahwa idealnya sebuah KBG terdiri dari 10-15 kk. Jumlah kecil ini dimaksudkan agar setiap anggota saling mengenal nama dan situasi, mencegah komunikasi formal-birokratif dan dapat menjadi garda terdepan mendeteksi umat yang sakit atau susah.

“Kegiatan khas KBG antara lain doa bergilir, sharing Kitab Suci, kunjungan kasih dan kerja bakti sosial,” imbuh Rm. Agus. Struktur kepengurusan diusahakan simple terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara dan beberapa seksi sesuai kebutuhan seperti Seksi Sosial dan Seksi Sekami dan OMK.

Dalam kesempatan itu, Romo Agus juga menjelaskan tentang Kepemimpinan. Dikatakan kepemimpinan dalam Gereja termasuk KBG adalah Gembala yang melayani, meneladani Yesus, dengan spiritualitas ‘Gembala berbau domba” yaitu inisiatif untuk mencari, menyentuh daging (melayani yang sulit, sakit dan tidak aktif) serta dekat dengan umat (memahami persoalan anggota secara mendalam). Ada juga spritualitas pembasuhan kaki, yaitu merendahkan diri (siap mendengarkan keluhan umat) dan merawat dengan fokus pada tanggung jawab, bukan kekuasaan.

Berkaitan dengan territorial, Romo Agus menegaskan, tidak boleh lintas wilayah lingkungan, namun berdasarkan kedekatan tempat tinggal dan bukan berdasarkan kelompok hobi/profesi. Selain menjelaskan tentang KBG, Rm. Agus melanjutkan dengan penjelasan tentang liturgi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan KBG.

Selanjutnya, Ketua Komisi Kitab Suci RD. Rm. Maximus Soge, memberikan pembekala terkait dasar biblis KBG. Kitab Suci, menurut Rm. Maxi, merupakan Sabda yang hidup, bukan sekadar buku cerita masa lalu. Kehidupan KBG harus terinspirasi dan digerakkan oleh Kitab Suci, maka pendalaman Kitab Suci dan menghayatinya dalam kehidupan nyata merupakan wajib dalam kehidupan KBG.

RD. Maximus Soge

Agenda berikutnya setelah pembekalan adalah simulasi pelatihan dan pemberdayaan penggerak KBG dengan metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Peserta dibagi dalam lima kelompok, dan dipandu oleh Tim Puspas.

Usai simulasi, dilanjutkan dengan evaluasi dan beberapa penegasan dari narasumber. Para peserta merasa puas dengan simulasi menggunakan metode AsIPA di mana semua peserta berperan aktif.

Suasana simulasi. Peserta dibagi dalam lima kelompok

Dalam penegasan akhir, Rm. Agus mengingatkan agar materi yang didapatkan dan pengalaman dalam pembekalan ini harus dijalakan di KBG masing-masing, dan yang akan memimpin di KBG hanya yang ikut dalam simulasi.

“Hanya yang ikut sampai simulasi ini yang boleh menjadi fasilitator di KBG ketika pertemuan untuk pelatihan bersama umat di KBG. Jangan berikan kepada mereka yang tidak ikut, walalupun mereka bisa, tapi kalau tidak tahu proses yang kita lalui seperti simulasi tadi, maka tidak ada manfaatnya. Bapak ibu yang ikut simulasi yang menjadi fasilitator. Usahakan, jalankan pendalaman dengan metode AsIPA ini sepanjang bulan Juli sampai Agustus, karena September kita sudah masuk pendalaman BKSN,” tutup Rm. Agus.

Seluruh rangkaian pembekalan ditutup dengan doa dan berkat oleh Rm. Maxi dan berkahir dengan foto bersama. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button