Pembekalan untuk Pemberdayaan KBG yang Solid & Solider Zona Bali Selatan

PECATU – Semangat membangun Komunitas Basis Gerejawi (KBG) yang semakin solid dan solider, kembali digaungkan dalam momen istimewa memperingati 25 tahun perjalanan KBG di Keuskupan Denpasar.
Hal ini tercermin dalam giat Pembekalan Pemberdayaan KBG untuk zona Paroki: Pecatu, Nusa Dua, dan Kuta oleh Tim Puspas Keuskupan Denpasar, langsung dipimpin Direktur Puspas/Vikjen RD. Herman Yoseph Babey , Minggu, 21 Juni 2026 di Gereja Silvester Pecatu.
Acara diikuti oleh Pastor Paroki St. Silvester Pecatu, RD. Alfonsius Kolo selaku tuan rumah, RD. Adianto Paulus Harun, Pastor Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua, dan RD. Evensius Dewantoro Boli Daton, Pastor Paroki FX Kuta yang juga adalah Deken Dekenat Bali Tengah; serta para ketua lingkungan, ketua KBG, fasilitator, dan perwakilan DPP dan DKP dari ketiga paroki.
Keseluruhan acara dipandu secara sinergis oleh Christine Herman, Jeanne d’Arc Kustati, Laurensius L. Sogen dari Tim Puspas Keuskupan Denpasar, dan dibantu oleh Agustina Basinah Bataratu dari tim Katekese Paroki Katedral.
Dalam sambutannya, Romo Evensius selaku Deken Bali Tengah, mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama melihat dan meninjau ulang perjalanan KBG selama 25 tahun, apakah ada pelanggaran etika yang perlu diluruskan sesuai dengan pedoman dan aturan yang berlaku.
Sementara Romo Babey dalam sambutannya menegaskan bahwa KBG harus sejalan dengan hasil Sinode Pertama Keuskupan Denpasar tahun 2001. “KBG bukan hanya komunitas tempat berdoa dan membaca kitab suci bersama, tetapi juga tempat memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan hidup bersama,” tegas Vikjen Keuskupan Denpasar ini.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan panorama dari ketiga Paroki yang dimulai dari FX Kuta oleh Romo Venus. Rm. Venus melaporkan, per Juni 2026, jumlah KK sebanyak 1.463 yang terdiri dari 4.842 jiwa di dalam 10 lingkungan dan 30 KBG.
“Kemandirian KBG yang solid dan solider makin terlihat nyata dalam kegiatan di 5 bidang pelayanan (Liturgia/pengudusan, Kerygma/pewartaan, Koinonia/persekutuan, Diakonia/pelayanan kasih, dan Martyria/kesaksian). Tantangan yang dihadapi dalam ber-KBG adalah masih ada jumlah umat dalam 1 KGB yang terlalu besar dan umat yang tinggal di luar teritorial KBGnya,” kata Pastor Paroki Kuta itu.
Romo Alfons, Pastor Paroki St. Silvester Pecatu, menyatakan bahwa sejak pemekaran dari Paroki MBSB pada tahun 2018, jumlah umat yang awalnya 1.200 jiwa, 3 lingkungan, dan 11 KBG telah berkembang menjadi 4.035 jiwa, 8 lingkungan, dan 43 KBG; di mana 90% umatnya berasal dari NTT.
“Aspek positif umat hidup menggereja yang kompak di dalam lingkungan dan KBG terlihat dari solidaritas saat ada yang kesusahan, aktif dalam tugas pelayanan di Gereja, dan minat yang tinggi dalam pertemuan doa rosario,” ungkapnya.
Namun demikian, lanjutnya, saat Pendalaman Kitab Suci minat umat masih belum banyak. Tantangan yang dihadapi di Paroki Pecatu ini adalah ketaatan dalam jumlah umat per KBG dan tertib teritorial. Hal ini karena masih banyak umat yang pindah-pindah kost. Tantangan lainnya adalah masih banyak anak muda yang belum terdaftar dan jalan yang macet. Oleh karena itu paroki sudah membeli tanah di daerah Jimbaran untuk pemekaran Gereja.
Romo Adianto menyampaikan data Paroki MBSB per Januari 2026, jumlah umat 4.295 jiwa yang terdiri dari 1.336 KK, tersebar di 12 lingkungan dan 54 KBG. Jumlah umat KBG masih di angka 70 bahkan ada yang sampai 200 jiwa.

“Pelayanan liturgi dan sosial umat sudah sangat baik, terlihat dari kegiatan doa dan sharing Kitab Suci, karya sosial karitatif, arisan dan sejenis koperasi simpan pinjam di rukun ibu. Peran KBG dalam peristiwa suka dan duka hadir dalam bentuk fisik, moral, dan materi,” ungkapnya.
Tantangan yang dihadapi, lanjut Rm. Adi, mirip dengan penjelasan dua Paroki sebelumnya, yaitu masih banyak umat yang tempat tinggalnya tidak tetap dan keterikatan emosional menyebabkan lintas teritorial KBG/Lingkungan.
Setelah ketiga pastor paroki menyampaikan panorama, selanjutnya Romo Babey selaku Direktur Puspas Keuskupan Denpasar, memberikan materi pembekalan yang merupakan bagian dari refleksi 25 tahun Gereja yang hidup secara partisipatif dan misioner.
“Gereja sebagai persekutuan umat Allah yang bukan sekedar institusi primodialis. KBG bukan sekadar unit organisasi, melainkan tempat Gereja hadir nyata di rumah umat yang mengambil teladan jemaat perdana, di mana Gereja yang menyapa dengan nama, mengetahui saat suka dan duka, dan mencari solusi bersama,” katanya.
Struktur ideal KBG, kata Rm. Babey, adalah 10–15 KK, agar setiap anggota saling mengenal nama dan situasi, serta menjadi garda terdepan mendeteksi umat yang sakit atau susah. Bila lebih dari 15 KK perlu dimekarkan, karena kunjungan pastoral menjadi tidak maksimal.
Menurut Rm. Babey, revitalisasi KBG sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan seperti individualitas dan kesibukan umat. Kejenuhan karena rutinitas kegiatan yang monoton dapat diatasi dengan variasi yang kreatif; bila terdapat konflik internal dapat melakukan pendampingan pastoral atau rekoleksi pengampunan. KBG hendaknya fokus menjadi komunitas perjuangan yang memiliki visi spiritual, serta melawan kesan eksklusif sebagai ‘klub doa tertutup’ melalui orientasi keluar dengan terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan (RT/RW).

“Strategi di masa depan adalah melalui Digitalisasi: koordinasi cerdas melalui IT dengan memanfaatkan teknologi tanpa melupakan perjumpaan fisik, Solidaritas: lumbung ekonomi KBG, dan Liturgi: doa yang lahir dari persoalan nyata warga,” imbuh Vikjen.
Romo Babey melanjutkan dengan menjelaskan prinsip Gembala yang Melayani yaitu: 1) Gembala yang berbau domba: melayani bukan memerintah, berinisiatif mencari domba yang lelah. 2) Spiritualitas bau domba: mencari yang terluka, sakit, dekat dengan umat dan memahami persoalan secara mendalam. 3) Spiritualitas membasuh kaki: merendahkan diri, siap mendengar keluhan umat dan fokus pada tanggung jawab dan bukan pada kekuasaan.
Rm. Babey juga memberikan Pedoman Praktis Pelayanan yaitu dilarang menhapus anggota yang tidak aktif, prioritas kunjungan anggota yang menjauh, dan gunakan bahasa kasih yang merangkul. Kegiatan khas KBG adalah Sharing Kitab Suci, Kunjungan Kasih, dan Kerja Bakti Sosial semua itu sarana untuk menghidupi iman secara konkret. Adapun rahim regenerasi iman melalui tiga jalur: SEKAMI (anak sebagai subjek iman), OMK & Remaja (motor teknologi dan kreativitas aksi sosial), serta Keluarga (ekosistem pewarisan iman alami).
Setelah selesai pembekalan, acara dilanjutkan dengan simulasi Pelatihan dan Pemberdayaan penggerak KBG dengan metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach) dengan dipandu oleh tim Puspas Keuskupan Denpasar yang terbagi menjadi empat kelompok.

Sebagai penutup rangkaian acara, Romo Babey memberikan penegasan bagi seluruh peserta pembekalan dengan mengambil frasa dari Injil Lukas yaitu Duc in Altum (bertolak ke tempat yang lebih dalam).
“Tuhan Yesus memilih dan menggunakan perahu Simon dan menjadikannya penjala manusia. Saat ini Tuhan ingin memakai perahu kita untuk mengunjungi umat-Nya. Ia yang sudah memberikan bakat dan talenta kepada kita secara cuma-cuma, hendaknya kita berikan pula kepada orang lain secara cuma-cuma melalui karya pelayanan kita,” pungkasnya.
Penulis: Made Shinta/Komsos MBSB Nusa Dua
Editor: Hiro/KomsosKD



