Berkatekese di Medsos, RD. Herman Y. Babey Dorong Gereja Hadir di Ruang Digital dengan Menjaga Martabat Manusia

LABUAN BAJO – Perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi karya pewartaan Gereja. Dalam semangat tersebut, Rapat Kerja Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Nusra yang berlangsung di Labuan Bajo, 31 Juli–2 Agustus 2026, menghadirkan materi bertajuk Berkatekese di Media Sosial (Medsos) dalam Terang Ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV.
Materi tersebut dibawakan oleh RD. Herman Y. Babey, Koordinator Komisi Komsos Regio Nusra, pada Sabtu (1/8/2026). Materi ini mengajak para pelayan Komsos untuk semakin kreatif dan bertanggung jawab menghadirkan pewartaan Injil di ruang digital.
Dalam paparannya, RD. Babey menegaskan bahwa dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan manusia masa kini. Jika dahulu pewartaan Injil dilakukan di jalan-jalan, rumah-rumah, pasar, dan sinagoga, maka saat ini media sosial telah menjadi ruang tempat manusia berkomunikasi, belajar, membangun relasi, bahkan mencari makna hidup dan Tuhan.
“Karena itu, Gereja dipanggil untuk hadir bukan hanya di altar dan mimbar, tetapi juga di berbagai platform digital sebagai ruang evangelisasi baru,” imbuh Ketua Komisi Komsos Keuskupan Denpasar itu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa katekese merupakan proses pembinaan iman yang bertujuan membawa umat kepada perjumpaan pribadi dengan Kristus, menumbuhkan kedewasaan iman, membentuk karakter Kristiani, serta mengutus setiap orang menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, pemanfaatan media sosial tidak dimaksudkan menggantikan bentuk-bentuk katekese yang telah ada, melainkan memperluas jangkauan pewartaan agar mampu menjawab kebutuhan zaman.

RD. Babey juga mengingatkan bahwa media sosial menghadirkan berbagai tantangan, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, polarisasi, budaya viral, hingga manipulasi melalui kecerdasan buatan (AI). Dalam konteks inilah, Ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV memberikan arah yang jelas bahwa teknologi harus selalu ditempatkan sebagai sarana yang melayani manusia dan menghormati martabat setiap pribadi. “Teknologi tidak boleh menjadi tujuan, apalagi menguasai manusia,” tegasnya.
Mengacu pada semangat ensiklik tersebut, para pewarta Injil di media sosial diajak mengedepankan lima prinsip penting, yaitu menempatkan martabat manusia di atas algoritma, mengutamakan kebenaran daripada sekadar mengejar viralitas, menghadirkan kasih dalam setiap komunikasi, memanfaatkan teknologi sebagai alat pewartaan, serta menjadi saksi hidup yang mencerminkan Injil, bukan sekadar kreator konten.
Lebih jauh, Vikjen Keuskupan Denpasar Keuskupan Denpasar ini, mengungkapkan keberhasilan pewartaan digital tidak diukur dari banyaknya pengikut atau jumlah tayangan, melainkan dari sejauh mana konten yang dibagikan mampu membawa orang semakin dekat kepada Kristus.
Sebagai bentuk konkret, ia mendorong pengembangan berbagai model katekese digital, seperti renungan harian, video singkat Injil, podcast, webinar, infografis, animasi Kitab Suci, hingga pemanfaatan AI yang tetap diverifikasi secara teologis. Di samping itu, setiap pewarta Injil diingatkan untuk selalu menguji setiap konten sebelum dipublikasikan dengan mempertanyakan apakah isinya benar, membangun, penuh kasih, menghormati martabat manusia, dan membantu orang semakin mengenal Kristus.
Melalui materi ini, para peserta Raker Komsos Regio Nusra diharapkan semakin terdorong membangun budaya komunikasi digital yang mencerminkan nilai-nilai Injil.

“Dunia digital bukanlah ancaman bagi Gereja, melainkan ladang misi baru yang perlu digarap dengan kreativitas, kebijaksanaan, dan semangat pelayanan. Dengan demikian, setiap unggahan di media sosial dapat menjadi sarana menghadirkan harapan, menumbuhkan iman, mempererat persaudaraan, serta semakin memperkenalkan Kristus kepada masyarakat luas,” pungkasnya.*
Penulis: RD. Herman Y. Babey



