KKP-PMP Gelar Literasi Adaptasi Perubahan Iklim Bagi Fungsionaris Pastoral Se-Dekenat NTB

SUMBAWA BESAR – Pemanasan global yang disertai perubahan pola cuaca yang ekstrim menyebabkan terjadinya bencana seperti kekeringan, banjir bandang, angin kencang, dan sebagainya merupakan akibat dari perubahan iklim. Penyebab utamanya hampir dipastikan oleh karena ulah manusia sendiri.
Berangkat dari dasar pemikiran sederhana ini, Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Keuskupan Denpasar menggelar ‘Literasasi Adaptasi Perubahan Iklim’ bagi para fungsionaris pastoral se-Dekenat Nusa Tenggara Barat (NTB) di Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar, 12 – 13 September 2026.
Ketua KKP-PMP Keuskupan Denpasar Yosep Yulius Diaz, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan program unggulan 2026 komisi yang dipimpinnya. Tujuan utama literasi ini, katanya, adalah untuk mengedukasi umat tentang fenomena perubahan iklim serta dampak-dampaknya. Dengan mengetahui dampak perubahan iklim, umat dan masyarakat pada umumnya diajak untuk berprilaku yang benar terhadap alam dan membangun kesadaran menjaga lingkungan hidup.

Di samping itu, peserta kegiatan ini juga diharapkan untuk pro aktif dalam upaya mengedukasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim serta upaya-upaya mengurangi risiko (mitigas) akan dampak perubahan iklim itu.
Hal tersebut diungkapkan pria yang akrab disapa Yusdi Diaz, ini pada sambutan pembukaan kegiatan tersebut. “Kita perlu memahami perubahan iklim yang sangat nyata dirasakan dan memengaruhi kehidupan manusia,” tegasnya.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Eksekutif KKP-PMP Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD. Marten Jenarut, yang juga hadir sebagai narasumber. Rm. Marten mengungkapkan apresiasi kepada KKP-PMP Keuskupan Denpasar yang membuat kegiatan tersebut.
“Perubahan ikilm bukan lagi isu tapi fakta. Saya akan tunjukan dalam materi saya nanti, bagaimana perubahan iklim itu memiliki dampak yang luas bagi kehidupan manusia juga terhadap kerusakan ekosistem,” kata Rm. Marten.

Peserta literasi ini merupakan utusan dari paroki-paroki yang ada di Dekenat NTB yaitu Paroki: Bima, Donggo, Dompu, Mataram, Ampenan dan Sumbawa Besar selaku tuan rumah. Para peserta umumnya fungsionaris pastoral paroki, tidak hanya dari Seksi KP-PMP, tetapi dari unsur BPU, BAK, Komisi PSE, aktivis perempuan maupun OMK.
Sedangkan narasumber, terdiri dari RD. Marten Jenarut, dengan materi ‘Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim’ dan ‘Pendekatan Pastoral Ekologi Integral.’ Narasumber lainnya yaitu Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, dengan materi ‘Panggilan Gereja dalam Mewujudkan Keutuhan Ciptaan’ dan Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro yang memaparkan materi ‘Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Dampaknya pada Perubahan Iklim (bertolak dari Esiklik Ladato Si) dalam Konteks NTB.

Ketua KKP-PMP Yusdi Diaz, juga tampil sebagai narasumber dengan mengetengahkan tanggung jawab pastoral di bidang keadilan, perdamaian dan pastoral migran perantau dengan topik materi ‘Konsolidasi Pastoral serta Fungsi dan Peran KKP-PMP.’
Tiga Krisis Besar Ekologi
Sementara itu, saat tampil pada sesi kedua, RD. Marten Jenarut lebih banyak menujukkan data-data dan fakta terkait dengan dampak perubahan yang terjadi saat ini termasuk di NTB.
Menurut Sekretaris Eksekutif KKP-PMP KWI itu, dunia saat ini sedang mengalami tiga krisis besar ekologis yaitu perubahan iklim, kepunahan keanekaragaman hayati dan Polusi tanah, air, udara. Tiga krisis besar ini terjadi karena kerusakah lingkungan yang sangat masif akibat ulah manusia.

“Panas bumi saat ini melampau batas toleransi. Demikian pula curah hujan yang sangat ekstrim, angin kencang, dan sebagainya. Dampak dari semua perubahan ekstrim ini adalah ancaman terhadap kemanusiaan dan perubahan iklim merupakan pemiskinan baru. Efek lain dari perubahan iklim adalah terjadi migrasi dan perdagangan orang,” tegasnya.
Menurut Rm. Martin, perubahan iklim adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Maka yang bisa dilakukan adalah prilaku yang adaptif terhadap perubahan iklim dan tindakan mitigasi (mengurangi risiko).
“Yang paling penting adalah dari materi ini ada penyadaran ekologis, bukan sekedar pengetahuan.
Maka, perlu menciptakan gerekan ekologis, mulai dari hal kecil tapi bedampak,” katanya.
Di sisi lain, Rm. Martin menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya soal krisis lingkungan, tapi juga menjadi krisis sosial, krisis ekonomi dan krisis budaya. Maka, strategi atau pendekatan pastoralnya bersifat ekologi integral. Ekologi integral itu mulai manusia, alam, sosial, ekonomi, budaya dan spiritual merupakan satu kesatuan. Jadi ketika bicara ekologi, tidak hanya menangani krisis lingkungan, tetapi ditangani satu kesatuan sebagai ekosistem.

“Keadilan ekologis adalah bagian dari keadilan sosial. Sebab krisis ekologi bagian dari krisis kemanusiaan. Dalam konteks ini, adaptasi dan mitigasi penting dan Gereja harus punya strategi yaitu penanganan ekologi secara integral,” tegasnya.
Rm. Marten juga mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim sangat berpengaruh besar pada kelompok rentan seperti petani kecil, nelayan tradisional, termasuk masyarakat pesisir, masyarakat miskin kota, perempuan-anak-lansia.
Sementara pada sesi peran dan fungsi KKP-PMP, Rm. Marten mengungkapkan isu besar yang ditangani komisi ini adalah tentang keadilan dan perdamaian, kemudian isu migran perantau dan isu lingkungan.
“Semua ini ini adalah masalah sosial dan menjadi pertanyaan mengapa Gereja mengurus masalah sosial. Jawabannya karena urusan sosial merupakan jati gereja,” ungkapnya.
Romo Marten selanjutnya menerangkan imperatip moral karya sosial Gereja yang meliputi Prinsip Keadilan; Prinsip Kesejahteraan Umum; Prinsip Solidaritas; Prinsip Supremasi Martabat Manusia; Prinsip Subsidiarita; Prinsip Keutuhan Ciptaan-Ekologi Berkelanjutan dan Aktif Menolak Kekarasan. *
Hironimus Adil



