Hangatnya Silaturahmi Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka ke Paroki MBSB Nusa Dua

NUSA DUA – Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIII di Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua memiliki sesuatu yang istimewa. Pada misa pukul 09.30 WITA di Minggu (28/06/2026), Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka datang berkunjung untuk merayakan Ekaristi bersama.
Misa dipimpin oleh Pastor Paroki MBSB Nusa Dua, RD. Adianto Paulus Harun, serta didampingi oleh Pastor Paroki Tuka, Romo Paskalis Nyoman Widastra, SVD, Diakon Pedro Agus Dwi Juniantara Ramos, serta Frater TOP Fr. Yohanes I Ketut Salvatore Cardia.

Koor pada perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka dengan menggunakan lagu berbahasa Bali. Iringan gamelan dan kendang Bali juga terdengar dari barisan koor. Suasana Bali kian tampak dari pakaian yang dikenakan oleh koor, yakni busana adat Bali Madya.
Dipercaya membawakan homili, Romo Paskalis, awal memperkenalkan Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka sebagai Betlehem of Bali karena dari sana lahir komunitas orang Bali pertama yang menjadi pengikut Kristus dalam Gereja Katolik. Julukan tersebut menjadi hal yang sangat penting dalam perjalanan iman, sekaligus tugas dan tanggung jawab.
“Gereja kalau kita definisikan itu tidak lain adalah sebuah komunitas umat dan iman yang percaya kepada Kristus. Gereja tidak lain adalah sebuah komunitas yang di dalamnya itu ada komunitas inti, yakni 12 orang murid,” ungkap Romo Paskalis.
Romo Paskalis menceritakan mengenai kisah perjalanan 12 murid Yesus yang dipanggil untuk menjadi pengikut Kristus. Misalnya, Yakobus dan Yohanes yang dipanggil untuk mengikuti Kristus di saat sedang membereskan jala. Mereka tidak hanya meninggalkan perahu dan pekerjaan sebagai nelayan, tetapi juga ayahnya, Zebedeus.

“Itulah arti kata-kata Yesus pada hari ini, mengasihi. Lebih daripada mengasihi orang tuanya. Kalau begitu siapa sebenarnya paling layak? Tidak ada seorang pun. Namun demikian, kita selalu diajak untuk melihat kembali kepada bagaimana Yesus membangun sebuah komunitas ini supaya mereka itu betul menjadi komunitas yang kuat,” jelasnya.
Tantangan yang dihadapi oleh murid-murid dalam mengikuti Yesus sangat berat, tetapi Yesus mau mendidik mereka agar mereka menjadi orang yang nanti siap melanjutkan apa yang menjadi misi dan karya perutusan Yesus di tengah dunia. Tantangan tersebut juga terasa dalam kehidupan komunitas Gereja, tetapi Yesus tetap ingin mendampingi.
Setelah para murid mendengar dan melihat dengan mata sendiri, mereka paham bahwa Yesus adalah Mesias atau Putra Allah yang hidup. Mereka tetap melanjutkan karya perutusan Yesus, meskipun Yesus harus wafat di kayu salib.
“Gereja itu adalah sebuah komunitas inti, di mana Yesus memiliki visi dan misi untuk membangun sebuah kerajaan Allah. Namun, di dalam bagian yang lain, kita juga melihat bagaimana peran kita. Gereja itu bukan hanya terdiri dari kelompok-kelompok inti, tetapi gereja itu adalah semua yang mau mendukung,” terang Romo Paskalis.
Romo Paskalis menjelaskan, Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka berupaya untuk merelokasi gereja di usianya yang menjelang 90 tahun tersebut. Hal tersebut dilakukan karena letak gereja yang dekat dengan jalan, serta kesulitan untuk menampung umat dalam jumlah banyak pada perayaan besar.
Selain untuk bersilaturahmi, kedatangan mereka ke Paroki MBSB Nusa Dua adalah untuk memohon bantuan. Bagi Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, bantuan sekecil apa pun menjadi sangat berarti untuk membangun gereja.
“Mudah-mudahan kehadiran gereja, khususnya di Kabupaten Badung, menjadi sebuah simbol keberadaan kita. Bahwa melalui Gereja Katolik kita juga mau menghadirkan kerajaan Allah, maka kita tunjukkan solidaritas dengan saling membantu dan saling menolong,” kata Romo Paskalis.
Romo Paskalis juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Paroki MBSB Nusa Dua yang telah berkenan menerima Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka untuk melayani perayaan Ekaristi.
Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Relokasi Gedung Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Nyoman Aloysius, mengungkap kedatangan mereka adalah untuk melayani sekaligus memperkenalkan bahwa Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka sedang membangun gereja. Mereka memerlukan bantuan berupa doa, semangat, dan donasi.
“Untuk koor, ini bukan persiapan khusus karena sudah latihan dan sudah hadir melayani di beberapa paroki. Kami sudah mengunjungi hampir semua paroki yang ada di Bali,” ungkap Aloysius.
Aloysius menerangkan, bangunan Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka sudah hampir selesai dalam tahap konstruksi dan akan memasuki tahap kedua untuk atapnya. Oleh sebab itu, Aloysius berharap tahun ini Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka sudah dapat dihadirkan secara lengkap.

“Kami sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak, karena kami percaya yang ada di Tuka itu bukan gereja untuk umat Katolik Tuka saja, tetapi gereja untuk umat Katolik di mana pun,” terangnya.
Selain itu, Aloysius terkesan dengan suasana Paroki MBSB Nusa Dua yang tertib. Hampir semua umat datang tepat waktu sebelum misa dimulai, serta mengikuti ibadah Rosario menjelang misa.
“Gerejanya bagus dan tenang, kami merindukan suatu saat kami juga boleh memiliki gereja seperti ini. Semoga kita betul-betul berjalan bersama menuju gereja dengan iman yang tangguh dan berani bersaksi sebagai minoritas di Bali ini,” tutupnya. *
Penulis: SGT-BT Komsos Paroki MBSB Nusa Dua
Editor: Hiro/KomsosKD



