PUSAT PASTORAL

Putaran Terakhir Pembekalan dan Pemberdayaan KBG Untuk Zona St. Yoseph, YGYB dan St. Petrus Denpasar

DENPASAR – Perjalanan Tim Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar yang dimotori oleh Bidang Pembinaan Iman (BPI) dalam rangka pembekalan untuk pemberdayaan KBG tuntas pada Minggu (19/7/2026).

Pembekalan bagi tiga paroki di kota Denpasar (Dekenat Bali Timur) yaitu Paroki St. Yoseph, Paroki Yesus Gembala Yang Baik (YGYB) dan Paoki St. Petrus, merupakan putaran terakhir untuk pemberdayaan KBG sekaligus refleksi 25 tahun perjalanan KBG di Kuskupan Denpasar yang mulai dicetuskan setelah Sinode I tahun 2001.

Tercatat bahwa Turba (turun ke bawah) untuk kegiatan ini telah menjangkau 10 zona yaitu 3 zona di Dekenat NTB, 2 zona di Dekenat Bali Barat, 2 zona Dekenat Bali Tengah dan 3 Zona Dekenat Bali Timur (termasuk zona terakhir ini untuk 3 paroki tersebut). Setiap zona merupakan gabungan 2 sampai 4 paroki berdekatan, kecuali Paroki Katedral karena jumlah umat yang besar dan Paroki Sumbawa Besar karena jarak jauh dengan paroki lainnya, sehingga dua paroki ini zona tersendiri.

Pembekalan putaran terakhir dilaksanakan di Catholic Center. Dihadiri sekitar 150 orang peserta utusan 3 paroki. Hadir pula para pastor paroki yakni St. Yoseph yang juga Deken Bali Timur RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD, YGYB RP. Yohanes Nyoman Madia Adnyana,SVD dan St. Petrus dan Pastor Rekannya RD. Yohanes Martanto dan RD. Firgianus Botu.

Mengawali pembekalan ini dibuka dengan doa yang dipimpin oleh RD. Firgianus. Acara pembukaan dilanjutkan sapaan kasih dari Deken Bali Timur RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD. Rm. Ketut, selaku Deken Bali Timur mengungkapkan, sudah 25 tahun umat Katolik Keuskupan Denpasar hidup dalam Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Pembekalan untuk pemberdayaan ini, katanya, sebagai momentum yang dirindukan oleh umat untuk melihat kembali perjalanan KBG.

“Saatnya kerinduan kita untuk melihat kembali perjalanan KBG kita selama 25 tahun ini. Semua terjawab hari ini. Kita akan mengevaluasi dan setelah itu terus melangkah untuk terwujudnya KBG yang solid dan solider,” kata Deken.

Deken Bali Timur RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD

Pastor Paroki St. Yoseph itu mengajak peserta dan seluruh umat untuk hidup menggereja dengan sukacita melalui KBG. Sebab KBG, lanjutnya, dipandang sebagai cara baru hidup menggereja, dengan jumlah umat yang kecil, secara territorial tinggal berdekatan, mudah berkumpul mendengarkan firman Tuhan dan dapat menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, urusan KBG ini, menurut Rm. Ketut, apakah sudah benar-benar beres, tentu saja ada yang belum dan pastinya akan berbeda setiap paroki atau lingkungan, maka perlu terus berbenah dan diberdayakan.

Berlanjut dengan sambutan Ketua BPI RD. Agustinus Sugiyarto. Kata Rm. Agus, sapaannya, kegiatan pembekalan ini merupakan jawaban atas tema karya pastoral Keuskupan Denpasar 2026 “Bangkit dan Bergerak Bersama mewujudkan Gereja Sinodal melalui Keluarga, Sekami, OMK dan KBG yang Solid dan Solider.”

Ketua BPI RD. Agustinus Sugiyarto

Menurut Rm. Agus, untuk menerjemahkan tema di atas, masing-masing bidang menyelenggarakan kegiatan yang bersentuhan dengan Keluarga, Sekami, OMK dan KBG. Pembekalan untuk pemberdayaan KBG ini menjadi program unggulan dari BPI, di mana tim melakukan Turba ke zona-zona yang sudan ditentukan. Materi-materi pembekalan disusun oleh para Ketua Komisi dalam BPI termasuk modul untuk simulasi katekese yang disiapkan oleh Komisi Keteketik. Pembekalan kali ini, lanjutnya merupakan puncak dari seluruh rangkaian Turba, yang nantinya pada akhir kegiatan ini akan ditutup secara resmi oleh Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San.

Panorama KBG di Paroki

Usai acara pembukaan, dilanjutkan dengan mempresetasekan panorama perkembangan KBG di tiga paroki ini. Panorama itu disampaikan secara bergilir oleh RD. Firgianus Botu dari Paroki St. Petrus, Budi Hartono dan Paroki St. Yoseph dan Arie Wibowo dan Paroki YGYB.

Dari Paroki St. Petrus, Rm. Virgi menyampaikan bahwa paroki ini merupakan pemekaran Paroki St. Yoseph Denpasar dan resmi menjadi paroki definitive pada 20 Desember 2009. Sampai tahun 2024, paroki ini terdiri dari 8 Lingkungan, lalu awal 2025 dimekarkan menjadi 15 Lingkungan. Saat ini, terdiri dari 38 KBG, dengan jumlah KK ada 938 dan total umat 3366 jiwa. Kegiatan rutin di KBG antara lain pendalaman iman saat masa AAP, APP dan BKSN, doa rosario serta mengunjungi dan mendoakan warga KBG yang sakit.

Peserta mendengarkan materi pembekalan

Pemekaran Lingkungan awal 2025 memberikan dampak positif terhadap keaktifan umat dalam kehidupan menggereja. Hal yang menggembirakan lainnya adalah kreativitas membuat konten katekese yang menambah pengetahun dan menumbuhkan iman umat, umat semakin sadar untuk saling berbagi dan mendoakan. Sedangakan yang menjadi kesulitan dan tantangan adalah pemekaran Lingkungan dan pembentukan KBG terutama dalam Menyusun struktur organisasi baru.

Tim Puspas Keusukupan Denpasar

Sementara Paroki St. Yoseph yang dilaporkan Sekretaris DPP Budi Hartono. Paroki yang memasuki usia 91 tahun ini telah melahirkan banyak paroki sekitarnya, dan saat ini memliki jumlah umat 2.029 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.005 orang dan perempuan 1.074 orang. Paroki yang menjadi tonggak sejarah perjalanan Gereja Katolik di Keuskupan Denpasar ini terdiri dari 5 Lingkungan dan 16 KBG.

Kegiatan rutin KBG antara lain doa bulanan, pendalaman AAP, APP dan BKSN, doa rosario, koor, HUT Lingkungan dan bakti sosial seperti kungjugan sosial (keluar), mengunjungi warga KBG yang sakit, saling berbagi, dan arisan. Ada juga beberapa KBG yang melakukan katekese tematis di luar pendalaman wajib.

Sukacita dan kekuatan KBG, umat umumnya antusias dalam menjalankan hidup menggereja dan kegiatan KBG. Sedangkan kesulitan dan tantangan antara lain soal jumlah anggota dan masalah territorial. Umat juga umumnya enggan untuk untuk menjadi pengurus terutama menjadi Ketua KBG dengan pelbagai alasan.

Peserta aktif menanggapi saat sesi tanya jawab

Dari Paroki Yesus Gembala Yang Baik, sebagaimana disampaikan Arie Wibowo selaku Sekretaris DPP, paroki ini belum genap satu tahun diresmikan menjadi paroki definitif dan merupakan pemekaran Paroki St. Yoseph Denpasar. Paroki ini memiliki visi dan misi selaras dengan arah dasar Gereja Keuskupan Denpasar, dengan spiritualitas Yesus Gembala Yang Baik.

Paroki bungsu ini memiliki jumlah umat 3.109 jiwa dengan jumlah KK 884. Umat tersebar di 6 Lingkungan dan 21 KBG. Kegiatan rutin KBG sama seperti paroki lainnya, ada pendalaman AAP, APP dan BKSN, doa rosario dan kegiatam rutin lainnya. Di samping itu, ada juga pelayanan kasih melalui kunjungan kepada warganya dengan berbagai kebutuhan dan penggalangan Dana Sosial Pendidikan (Dasopen) untuk keluarga kurang mampu.

Paroki juga menyelenggarakan pelayanan Kesehatan gratis, konseling, donor darah 4 kali setahun, bantuan sosial dan aksi peduli lingkungan. KBG juga wajib melakukan pendataan dan pembaruan data umat, menjalankan dan mendukung kegiatan lingkungan, terlibat dalam liturgi paroki, aksi sosial, dan sebagainya. Tantangan ber-KBG di antaranya peran aktif warga yang perlu ditingkatkan, dominasi warga yang tidak berdomisili tetap di satu territorial, persebaran dan pertumbuhan umat yang tidak merata.

Bangun Gereja dari Bawah

Setelah masing-masing paroki mempresentasekan panoramanya, dilanjutkan pendalaman materi oleh Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey, dengan materi “Membangun Gereja dari Bawah.” Materi ini menjadi materi wajib yang diberikan di setiap zona dalam pembekalan untuk pemberdayaan KBG dan secara garis besar materi pembekalan telah diwartakan melalui media ini pada kesempatan-kesempatan sebelumnya.

Rm. Babey, demikian sapaan akrabnya, merefleksikan bahwa setelah 25 tahun KBG menjadi pilihan hidup menggereja di Keuskupan Denpasar, hal-hal yang masih menjadi perhatian antara lain jumlah kk yang masih melebihi ketentuan Keuskupan dengan maksimal 15 KK, masih ada warga yang lintas territorial, kegiatannya masih seputar doa dan pendalaman Kitab Suci, dan belum banyak yang sampai pada pemberdayaan secara ekonomi, dan sebagainya.

Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey saat memberikan pembekalan tentang Membangun Gereja dari Bawah

Dalam kesempatan ini, Rm. Babey, menekankan lagi 5 fungsi esensial KBG. Pertama, bertumbuh dalam pendalaman iman, Kitab Suci dan sharing iman; kedua, membangun persaudaraan dengan saling mengenal, mengunjungi dan menguatkan; ketiga, pelayanan di mana KBG garda terdepan membantu orang sakit, lansia, miskin dan korban bencana; keempat, evangelisasi. KBG harus merangkul yang jauh, pasangan muda, anak-anak dan kaum muda; kelima, kepemimpinan. KBG merupakan rahim lahirnya Gereja.

Beberapa penegasan lain yang disampaikan Vikjen Keuskupan Denpasar ini yakni lokus utama KBG, bukan sekedar unit organisasi melainkan tempat Gereja hadir nyata di rumah umat. Maka, struktur ideal KBG terdiri dari 10 – 15 Kepala Keluarga dan tinggal berdekatan dalam satu teritori tertentu. Pola keberhasilan sebuah KBG, menurut Rm. Babey adalah umat aktif (subyek), relasi kuat dan peduli, aksi nyata dan kongkret.

RD. Maxi Soge (kiri) dan RD. Tony Ekadana Putra turut memberikan pembekalan tentang Fasilitator Kitab Suci dan Pedoman Memimpin Ibadat Sabda

Setelahnya, RD. Maximus Soge, Ketua Komisi Kitab Suci, memberikan pembekalan terkait Kitab Suci sebagai dasar iman kehidupan ber-KBG dan Fasilitator Kitab Suci. Kemudian, RD. Antonius Gede Ekadan Putra, Ketua Komisi Liturgi, memberikan pencerahan kembali tentang liturgi khususnya Pedoman Memimpin Ibadat Sabda di KBG. Acara kemudian dilanjutkan simulasi dan misa penutup yang dipimpin Bapak Uskup Denpasar. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button