Memulai dan Meneruskan Gerakan CU di Lingkungan Gereja

DENPASAR – Dalam Pendidikan Peningkatan Kapasitas Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang diselenggarakan Komisi PSE Keuskupan Denpasar di Catholic Center Denpasar 22 -24 Mei 2026, RD. Fredy Rante Taruk, selaku narasumber memfokuskan materinya dengan sharing dan pendalaman mengenai bagaimana memulai dan meneruskan Gerakan Credit Union (CU) di lingkungan Gereja.
Secara detail, Rm. Fredy, demikan akrab disapa, memberikan pencerahan mengapa Gereja perlu mengembangkan CU di Paroki, Nilai-nilai dan prinsip CU, serta tujuan gerakan CU.

Dari pengalamannya, alasan buat CU, seperti saat mengisiasi pendirian CU di Keuskupan Agung Makassar, terutama untuk membantu umat (masyarakat) ekonomi menengah ke bawah. CU dibuat lebih didorong karena mengalami perubahan pola pikir, tindakan, kebiasaan, karakter dan nasib.
Lewat CU dapat memberdayakan umat yang miskin, mereka yang mengandalkan uang dari perantau, kebiasaan konsumtif/pesta, malu dan malas berdagang, menjual tanah, dan sebagainya. Pemberdayaan ini selaras dengan 3 pilar Gerakan PSE yaitu: APP, HPS dan LKM (CU) yang bertujuan untuk pemberdayaan ekonomi umat.
Rm. Fredy kemudian memberi tips bagaimana memulai CU di paroki atau komunitas. Pertama, harus ada inisiasi awal, maka perlu ada inisiator yang percaya akan CU sebagai solusi membangun kesejahteraan bersama. Kemudian dalam tahap ini, ada kesepakatan komunitas atau paroki (DPP misalnya) untuk mendirikan CU. Setelah itu, lanjut dengan membuat Sosialisasi dan Pendidikan Dasar untuk orang-orang yang tertarik dari komunitas atau paroki.

Tahap berikutnya adalah Lokakarya Pendidikan. Mulai membuat Lokakarya Pendirian CU, sekaligus perencanaan strategi CU ( untuk 3 tahun). Kemjudian membuat kelengkapan administrasi organisasi, seperti Akta Pendirian, AD/ART, mengurus Badan Hukum, izin-izin. Selanjutnya merekrut staf dan memberikan kesempatan Pelatihan Ilmu Dasar CU, membuat Kebijakan-kebijakan Utama CU: Organisasi, Produk dan Layanan Keuangan, Kredit, Pendidikan, Pelatihan, Kepegawaian, Pengawasan, dan SOP-SOP Dasar, serta membuat MoU dengan paroki untuk peran dan tanggung jawab (bahkan kontribusi awal paroki untuk fasilitas dan akses).
Tahap ketiga adalah pelayanan kepada anggota. Memberikan pelayanan kepada anggota: Simpanan, Pinjaman, Solidaritas. Dalam tahap ini juga harus aktif melakukan Pendidikan dan Pelatihan kepada anggota, dan menciptakan jaringan pemberdayaan dan pemasaran produk anggota.
Sejarah dan Misi Sejati CU
Rm. Fredy menjelaskan, dalam sejarahnya Credit Union (CU) berawal dari ide Friedrich Wilhelm Raiffeisen, berkebangsaan Jerman, yang ingin memerangi kemiskinan di kalangan penduduk pedesaan. Gagasan Raiffeisen bahwa cara terbaik untuk memerangi kemiskinan adalah membantu orang untuk membantu diri mereka sendiri. Solusinya adalah Credit Union. “Ide Raiffeisen ini harus menjadi pusat dari setiap CU,” tegas Rm. Fredy.

Misi sejati CU berdasarkan gagasan Raiffeisen adalah tidak boleh membatasi dirinya hanya sebagai pemberi pinjaman. Tujuan utama dari CU adalah mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik dari setiap orang dan memberdayakan mereka bertindak secara mandiri.
Lebih lanjut Rm. Fredy menjelaskan prinsip-prinsi CU, antara lain (1) Keanggotaan yang terbuka dan sukarela; (2) Dikontrol secara demokratis oleh anggota; (3) Tidak diskriminatif; (4) Pelayanan kepada anggota; (5) Pendidikan yang terus menerus; (6) Kerjasama antar lembaga; (7) Tanggung jawab sosial.

Selain prinsip-prinsip tersebut, CU juga memiliki Nilai-nilai dasar yaitu menolong diri sendiri, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, demokrasi, kesetaraan, dan setia kawan (solidaritas).
Rm. Fredy juga menekankan secara khusus tentang pilar pendidilan dalam CU. “Pendidikan merupakan salah satu pilar dari CU, maka moto Pendidikan CU dirumuskan: dimulai dengan Pendidikan, berkembang dengan Pendidikan, dikontrol oleh Pendidikan, dan tergantung pada Pendidikan,” tegasnya.
Hal penting dan strategi lain dalam mengembangkan CU yang dibahas tuntas dalam kegiatan ini adalah soal tata Kelola Lembaga (CU) yang baik dan professional, pelayanan kepada anggota yang semakin meningkat, serta kepemimpinan para pengurus dan managemen agar mampu memimpin dan mengelola Lembaga secara strategis, transparan, berintegritas tinggi dan bertanggung jawab.

Dibahas juga strategi lain dalam mengembangkan CU, antara bersinergi dengan para aktivis di wilayah teritori (KBG), dan merekrut para volunteer di wilayah teritori. Hal penting lainnya, jika ingin mengembangkan CU harus ‘Belajar, Belajar dan Belajar.’
Rencana Tindak Lanjut
Di penghujung kegiatan, peserta diajak untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL). Untuk RTL ini, langsung dipimpin oleh Ketua PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro.
Sebelum menggali masukan dan usul saran peserta, Rm. Venus, panggilannya, terlebih dulu mengajukan dua hal penting yang nantinya masuk dalam RTL, yaitu (1) Melaporkan kepada pastor paroki proses pelatihan ini, dan pentingnya CU di paroki dalam memberdayakan ekonomi umat; dan (2) Sosialisasi dan Memotivasi umat akan manfaat CU.

Kemjudian, Rm. Venus membuka kesempatan kepada peserta untuk memberikan masukan dan usul saran. Beberapa masukan dari peserta untuk diakomodir dalam RTL terdiri dari beberapa poin yakni
(1) Komisi PSE perlu asistensi ke paroki untuk pendampingan pembentukan CU paroki
(2) Pelatihan perlu dilanjutkan, tidak berhenti dalam kegiatan ini
(3) Dukungan aktif PSE Keuskupan kepada paroki untuk pembentukan CU
(4) Gagasan membentuk Forum LKM Keuskupan Denpasar sangat diperlukan
(5) Perlu pembelajaran Online agar informasi lebih cepat.
Baik usulan Komisi PSE maupun masukan dari peserta ini, akan dirumuskan kembali oleh Tim Perumus dan nantinya hasil kerja Tim Perumus akan menjadi RTL yang sah untuk ditindaklanjuti di paroki-paoki.
Rm. Venus berpesan, “Hal pertama adalah lapor dulu kepada pastor paroki masing-masing, dan bagaimana tanggapannya, penting untuk langkah kita selanjutnya, termasuk merealisasikan RTL.”

Seluruh rangkaian Pendidikan Peningkatan Kapasitas LKM (CU dan Koperasi) ini ditutup dengan misa penutup sakligus perayaan Pentakosta. Perayaan Ekaristi kembali dipimpin Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, didampingi RD. Evensius Dewantoro dan RD. Fredy Rante Taruk. *
Hironimus Adil


