PUSAT PASTORAL

Penyegaran LKM Paroki, Komisi PSE Selenggarakan Pendidikan Peningkatan Kapasitas

DENPASAR – Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Denpasar menghadirkan para penggerak Lembaga Keuangan Mikro (Credit Union atau CU dan Koperasi) dari paroki-paroki keuskupan ini.

Kehadiran para penggerak maupun pengurus CU dan koperasi itu dalam rangka mengikuti pendidikan peningkatan kapasitas CU atau koperasi yang ada di paroki. Kegiatan ini dilaksanakan di Catholic Center Keuskupan Denpasar, 22 – 24 Mei 2026. Diikuti oleh 66 orang peserta yang datang dari paroki-paroki, mulai dari Bima di ujung timur Provinsi NTB hingga Palasari dari Bali Barat. Ditambah Tim PSE dan Panitia 17 orang.

Selama tiga hari kegiatan ini, menghadirkan narasumber tunggal RD. Fredy Rante Taruk, Direktur Caritas Indonesia, dan pengurus Komisi PSE KWI khusus membidangi LKM dan CU. Sebelum menjadi Direktur Caritas Indonesia, Rm. Fredy, demikian akrab disapa, dikenal sebagai Ketua Komisi PSE Keuskupan Agung Makassar, selama 13 tahun.

Romo Fredy dikenal berpengalaman dalam mendirikan, menggerakan dan mengembangkan CU di Keuskupan Agung Makassar. Ada 3 CU besar berbasis Kevikepan yakni CU Sauan Sibarung Toraja, CU Mekar Kasih Makassar, dan CU Mentari Kasih Kendari, yang dipelopori dan dirintis oleh PSE Keuskupan Agung Makassar dan berkembang pesat hingga saat ini. Tiga CU itu memiliki puluhan ribuan anggota dan membuka banyak cabang di paroki-paroki dan assetnya sudah ada yang mencapai trilun rupiah.

Berharap pengalaman Rm. Fredy dapat ditularkan kepada para pengurus/penggerak dalam menyegarkan kembali CU/Koperasi paroki di Keuskupan Denpasar agar berkembang dengan benar dan sehat.

Ekaristi Pembuka

Kegiatan ini diawali dengan Misa (Ekaristi) Pembukaan yang dilangsungkan di Kapel Catholic Center. Misa dipimpin Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, didampingi Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro dan RD. Fredy Rante Taruk.

Dalam homilinya, Vikjen merefleksikan kondisi ekonomi saat ini yang sedang dalam tantangan yang tidak ringan. Ekonomi keluarga, kata Rm. Babey, salah satu persoalan hidup saat ini, harga-harga naik, pekerjaan tidak selalu pasti, usaha kecil masyarakat sering hadapi tantangan.

“Dalam situasi itu, ada yang mulai bertanya apakah Tuhan masih peduli dengan perjuangan kami?” tanyanya retoris. Rm. Babay mengatakan, selaras dengan bacaan Injil dalam perayaan ini, Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya sebagai wujud kasihnya kepadaNya.

Tugas perutusan pada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, lanjut Vikjen, merupakan seruan Yesus kepada semua umat beriman untuk menyelamatkan umat. Dalam konteks kegiatan ini, seruan Yesus tersebut ditujukan kepada para pengurus/penggerak LKM paroki untuk menjadi gembala dalam menggerakan dan melakukan tata Kelola yang baik bagi CU atau koperasi yang ada supaya menyelamatkan ekonomi umat dan keluarga.

“Bapak dan ibu adalah gembala yang mendampingi dan menggerakan LKM di paroki masing-masing. Kasih kepada Tuhan harus nyata dalam tindakan. Ekonomi umat bukan sekedar urusan uang, tetapi pelayanan kasih. Kita semua dipanggil untuk menjadi pelayan yang jujur dan tidak tipu-tipu,” tegas Vikjen.

Vikjen juga membuka secara resmi kegiatan ini seusai misa. Dalam sambutannya, Vikjen menegaskan, selain tantangan yang telah disampaikan dalam homilinya, tantangan lain yang dihadapi keluarga saat ini adalah merebaknya judi online dan pinjaman online illegal, gaya hidup konsumtif sehingga tekanan ekonomi menjadi ancaman serius bagi ketahanan keluarga.

Dalam situasi seperti itu, Vikjen yang juga Direktur Puspas ini mengungkapkan bahwa CU dan koperasi mesti tampil bukan hanya sebagai Lembaga keuangan, tetapi juga sebagai benteng perlindungan umat, tempat Pendidikan umat yang sehat dan sarana membangun kemandirian keluarga.

“Peningkatan kapasitas pengurus menjadi sangat penting. Pengurus CU tidak cukup hanya memiliki kemampuan administrasi, tetapi juga harus memiliki semangat pelayanan, integritas, tanggung jawab moral, dan visi pastoral dalam mendampingi anggota,” harapnya.

Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar, dalam kesempatan pertama acara pembukaan mengungkapkan, kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk melihat pentingnya CU dan koperasi di tengah ekonomi global yang rakus dan koruptif yang tidak akan pernah membawa kesejahteraan bersama.

“Kita paham betul bahwa LKM itu berhubungan dengan uang. CU dan Koperasi hadir untuk melayani komunitas. Cita-cita LKM yang disuarakan Gereja, juga disuarakan oleh CU dan koperasi adalah membangun eknomi yang berbasis solidaritas. Dan gerakan ekonomi berbasis solidaritas sudah lama dirintis oleh Gereja di Indonesia. Sejak tahun 1967 Gereja sudah merintis CU ditengah masyarakat Indonesia,” ungkap Rm. Venus, sapaannya.

Lanjut Rm. Venus, “solidaritas yang kita bangun bertolak dari nilai-nilai yang diajarkan Yesus dalam Injil. Dan LKM yang didorong Gereja, berbasis nilai itu untuk Kesejahteraan Bersama.”

Menurut Paus Benediktus XVI dalam Caritas In Veritate, kata Rm. Venus, LKM itu untuk mendidik libido konsumtif dan menumpuk harta, menjadi dorongan untuk berbagi dengan semangat saling berbagi sebagai saudara.

Credit Union sebagai salah satu LKM yang dikembangkan Gereja, menurut Rm. Venus, terpanggil untuk pembelajaran dan pemberdayaan umat. Sementara hubungan antara PSE dengan CU, lanjutnya, merupakan alat dan sarana pemberdayaan ekonomi umat.

Lebih jauh Rm. Venus, menggambarkan peta CU/Koperasi yang ada di paroki-paroki. Kekuatannya, umat sudah familiar dengan CU/koperasi, dan ada dukungan pastor paroki. Kelemahannya, umat enggan jadi anggota, kemauan menabung rendah, boros, dan pengaruh pengalaman buruk masa lalu.

Namun, ada peluang antara lain adanya dukungan pastor paroki, jumlah umat banyak, tetap ada keinginan menabung. Sedangkan tantangannya adalah bagaimana menyadarkan umat dan meningkatkan kepercayaan. Usul-saran Rm. Venus adalah perlunya sosialiasi dan keberanian untuk studi banding.

Mewakili Komisi PSE KWI RD. Fredy Rante Taruk, dalam sambutannya mengungkapkan Gereja melalui PSE sangat berperan menginisasi gerakan CU di Indonesia dengan basis gerakan adalah solidaritas.

“Gereja sebenarnya tidak ingin berekonomi secara praktis tapi gereja harus hadir di tengah masyarakat yang hidupnya prihatin secara ekonomi,” katanya.

Dari pengalaman, menurut Rm. Fredy, banyak muncul CU, di paroki, rumah sakit, sekolah tapi keberadaannya naik turun. Dalam SAGKI menegaskan CU harus disegarkan lagi, dan semangat seruan SAGKI inilah Komisi PSE Keuskupan Denpasar menginisiasi kegiatan ini, dan menjadi keuskupan pertama yang memulai.

 

“PSE keuskupan Denpasar sudah menggaris bawahi beberapa hal penting dan membutuhkan solusi dalam penguatan kapasitas dan pengembagan CU dari pertemuan ini,” katanya.

Setelah acara pembukaan, waktu kemudian diserahkan sepenuhnya kepada Rm. Fredy untuk berproses. Selain memaparkan materi, juga berbagi pengalaman kepada peserta. Kegiatan ini diselingi juga dengan diskusi berdasarkan kelompok dekenat. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button