PUSAT PASTORAL

MENJADI PENDAMPING YANG SOLID DAN SOLIDER

SOMA Bagi Pendamping SEKAMI Pemula se-Bali

Denpasar-Sebanyak 85 animator pemula dari berbagai paroki se-Bali mengikuti School of Missionary Animators (SOMA) yang diselenggarakan oleh KMKI Keuskupan Denpasar di Catholic Center pada 13-14 Juni 2026.

Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan pastoral modern, psikologi anak, dan literasi digital, guna menjadi pendamping yang relevan bagi anak dan remaja di era AI, sekaligus persiapan menuju rangkaian Kemah dan Jambore SEKAMI.

Menjadi Pendamping yang Relevan

Pada bagian pembuka RD. Herman Yoseph Babey selaku Direktur KMKI Keuskupan Denpasar menyampaikan sapaan kasih. Romo Babey antara lain menekankan bahwa menjadi animator SEKAMI bukan sekadar menjalankan kegiatan melainkan menjadi sahabat, pendamping, dan saksi iman bagi anak-anak.

Di tengah hadirnya teknologi digital pendamping Sekami dipanggil menghadirkan wajah Gereja yang dekat, ramah, kreatif, dan mampu menjawab kebutuhan mereka.

RD. Herman Yoseph Babey, Dridios KMKI Keuskupan Denpasar

Sebagai pendamping pemula, kata Romo Babey, barangkali ada yang masih bertanya-tanya: apakah saya mampu? Apakah saya memiliki cukup pengalaman?

Tuhan tidak memilih yang hebat, namun yang bersedia menjawab panggilan-Nya. Semangat melayani, kemauan untuk belajar, dan hati terbuka adalah modal utama  menjadi animator yang baik.

Masih dalam sapaan kasihnya, Romo Babey  menyadarkan peserta bahwa masa depan Gereja ada di tangan generasi muda. Pelayanan kepada anak-anak adalah bagian penting dari karya evangelisasi Gereja, seperti mendampingi anak mengenal Yesus, belajar berdoa, mencintai Gereja, dan peduli terhadap sesama.

Dengan melakukan hal ini sesungguhnya sedang menanam benih-benih iman yang akan bertumbuh dan berbuah di masa depan, tegas Romo Babey.

Mengakhiri sapaan kasihnya Romo yang dikenal dikenal dekat dengan anak-anak  berharap melalui kegiatan SOMA lahir animator-animator SEKAMI yang kreatif dalam metode, teguh dalam iman, penuh semangat misioner, serta mampu menjadi pendamping yang relevan bagi anak-anak di zaman ini, pungkas Romo Babey.

Dipanggil Menjadi Pendamping yang Solid dan Solider

Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San yang hadir memberikan pengarahan dan membuka kegiatan SOMA, menyadarkan peserta bahwa medan pelayanan berubah drastis. Anak-anak di zaman ini adalah  generasi digital native, lahir di era internet dan biasa disebut dengan Gen Z.  Mereka lahir dan tumbuh di tengah kepungan layar gawai, penetapan algoritma media sosial dan arus informasi yang tanpa batas.

Mgr. Silvester saat membuka dan memberikan pengarahan.

Terkait dengan tema yang diusung dalam SOMADipanggil Menjadi Pendamping yang Solid dan Solider”, Bapak Uskup menegaskan bahwa kata Solid dan Solider bukan sekadar slogan melainkan identitas dalam karya pelayanan.

Pendamping yang solid artinya kuat, tangguh dan  berkualitas. Terkait hal ini Bapak Uskup menekankan 3 hal penting,  pertama Solid dalam Kehidupan Doa: Tekun merayakan Ekaristi, membaca Kitab Suci dan doa pribadi.

Kedua Solid dalam Pengetahuan Iman: Di era digital, anak-anak sangat kritis. Mereka akan bertanya hal-hal sulit tentang iman, maka pendamping harus rajin belajar, membaca katekismus, dan memahami ajaran Gereja agar tidak salah dalam membimbing anak-anak.

Ketiga Solid dalam Komunitas: Tim pendamping  harus kompak, tidak egois, tidak berkompetisi/persaingan yang tidak sehat, atau bergosip yang dapat merusak pelayanan. Kepemimpinan dan kerja sama tim  harus solid.

Lebih Lanjut Bapak Uskup menjelaskan, jika “Solid” adalah ke dalam, maka “Solider” adalah bergerak ke luar. Solider berarti memiliki belas kasih seperti Yesus (Compassion).

Peserta menyimak materi yang dibawakan Uskup tentang Dipanggil Menjadi Pendamping yang Solid dan Solider

Pendamping SEKAMI dipanggil untuk solider terhadap situasi hidup anak-anak zaman sekarang. Tiga hal penting yang perlu dilakukan adalah pertama Solider dengan Dunia Anak-Anak: Jangan menghakimi ketergantungan anak-anak pada dunia digital. Sebaliknya, masuklah ke dunia mereka. Jadilah pendamping yang mau mendengar, bukan hanya pandai menceramahi. Pahami bahasa mereka, ketahui apa yang mereka tonton, dan hadir di sana untuk mengarahkan mereka secara bijak.

Kedua Solider dengan anak-anak yang terpinggirkan: Di dalam SEKAMI, mungkin ada anak-anak yang mengalami broken home, korban bullying, atau mereka yang minder karena keterbatasan ekonomi dan fisik. Pendamping yang solider akan mencari anak-anak yang berada di “sudut ruangan” ini, merangkul mereka, dan membuat mereka merasa berharga di mata Tuhan.

Ketiga Solider Menghadapi Sekularisme (Situasi yang berpeluang menggeser peran Tuhan dalam kehidupan): Tunjukkan dengan  teladan bahwa  hidup bersama Tuhan itu indah, gembira, dan penuh makna. Tepis narasi sekularisme dengan cara menampilkan wajah Gereja yang ramah, asyik, kreatif, dan penuh kasih melalui kegiatan-kegiatan SEKAMI

Sebagai Uskup dan Gembala  di Keuskupan Denpasar ini, Bapak Uskup  menitipkan beberapa harapan konkrit  untuk dibawa pulang setelah SOMA, pertama Digitalisasi Misi: Jangan musuhi teknologi, tetapi baptislah teknologi itu untuk misi. Gunakan media sosial dan gawai sebagai sarana katekese SEKAMI yang kreatif. Buat konten-konten rohani anak yang menarik, edukatif, dan penuh sukacita.

Kedua Metode yang Kreatif dan Kontekstual: Anak-anak zaman sekarang butuh visual, interaksi, dan aksi nyata. Buat gerakan sosial kecil, seperti mengunjungi panti asuhan atau menanam pohon, agar semangat misioner (Children Helping Children) tertanam dalam tindakan nyata.

Ketiga Sinergi (kerjasama) dengan Orang Tua: harus diingat bahwa pendampingan anak yang utama oleh keluarga. Buatlah jembatan komunikasi yang baik dengan orang tua anak-anak SEKAMI. Edukasi para orang tua agar iklim iman  di SEKAMI dapat berlanjut di dalam rumah mereka masing-masing.

Mengakhiri pengarahannya, Bapak Uskup berpesan agar para pendamping Sekami selalu ingat  janji Yesus: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Saat kalian merasa lelah, datanglah kepada-Nya dalam tabernakel-Nya tempat Yesus Ekaristi bersemayam. Di sanalah kekuatan kalian diperbaharui.

RD. Babey saat memberikan materi kepada para pendamping SEKAMI baru

Kemudian Bapak Uskup Membuka kegiatan SOMA: “Dengan memohon rahmat Allah yang Mahakuasa, dan bersama  doa Bunda Maria, Pelindung Karya Misioner,  SOMA KMKI ini secara resmi saya nyatakan dibuka”.

SOMA berlangsung dalam suasana sukacita, dengan nara sumber Romo Herman Yoseph Babey. Dalam SOMA para peserta dibekali dengan pemahaman mengenai misi Gereja, spiritualitas animator, psikologi anak dan remaja, pemanfaatan Kitab Suci dalam pertemuan SEKAMI, keterampilan komunikasi, kreativitas dalam pendampingan, hingga pewartaan iman melalui media digital.

Seluruh materi tersebut diharapkan dapat membantu para peserta menjadi pendamping yang semakin kompeten, berkarakter Kristiani, dan mampu menghadirkan pengalaman iman yang menyenangkan bagi anak-anak SEKAMI.

Suasana simulasi temu SEKAMI

Bersama Kak Bowo dan Kak Ina para peserta juga mendapatkan kesempatan menyiapkan satu materi pembinaan SEKAMI yang dikemas semenarik mungkin. Ada animasi untuk membangkitkan suasana sukacita di hati anak-anak, lalu masuk ke Materi dengan sumber utama Kitab Suci yang diikuti dengan  kreativitas yang memudahkan anak menangkap pesan yang disampikan.

Dalam SOMA para peserta juga mendapat bekal berkaitan dengan Animasi Misioner: mengenal nyanyian khas anak SEKAMi, Yel-Yel ala Sekami dan berbagai tepuk penuh makna.

Para pendamping SEKAMI mengcapkan doa dan janji misioner.

 

SOMA diakhiri dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapak Uskup Denpasar. Dalam kesempatan misa ini para peserta dengan semangat mengucapkan janji Misioner sebagai komitmen mereka untuk melayani anak-anak dengan  tulus, gembira dan setia. Salam Misioner . Christin

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button