Pembekalan Liturgi Bersama Komisi Liturgi KWI

DENPASAR – Seminar sehari dalam rangka pembekalan liturgi digelar oleh Komisi Liturgi Keuskupan Denpasar, Sabtu (19/9/2026) di Aula Keuskupan Denpasar. Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI RD. Fransiskus Yance Sengga, hadir sebagai narasumber. Sementara itu, peserta seminar adalah seksi liturgi paroki-paroki se-Bali dari tiga dekenat.
Seminar dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, Rm. Yance, demikian Sekretaris Eksekutif Komlit KWI akrab disapa, berbicara tentang perayaan Ekaristi (secara umum), dan sesi kedua selepas makan siang secara khusus membahas musik liturgi. Seminar ini dipandu langsung Ketua Ketua Komlit Keuskupan Denpasar RD. Antonius Gede Ekadana Putra, selaku moderator.

Rm. Yance Sengga, mengawali materinya dengan menegaskan bahwa Ekaristi adalah Puncak dan Pusat Hidup Gereja (berdasarkan Sacrosanctum Consulium/SC), ”Ekaristi itu untuk mengenangkan dan menghadirkan kurban Kristus,” katanya.
Tiga hal penting dalam Liturgi: Validitas (valid/Sah), seperti imamnya harus imam yang sah; Licietas (Pantas), apakah mengikuti sesuai aturan, apakah lagu yang dinyanyikan sesuai; Fructuosa (berbuah dalam bentuk partisipasi).

Ada 5 prinsip yang mengikutinya yaitu Bonum (Baik), Verum (benar), Pulchrum (indah insani/liturgis), Fructum (membangkitkan partisipasi), divinum (mengalami sukacita ilahi).
Dalam Ekaristi, lanjut Rm. Yance, mengenal 4 bagian utama: Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup. Ritus Pembuka (Populo Congregato): Pentingnya persiapan batiniah. Enam unsur dalam ritus pembuka yaitu Perarakan Masuk – Penghormatan Altar – Tanda Salib & Salam – Kyrie – Gloria – Doa Kolekta
”Dalam Ritus Pembuka bukan sekadar formalitas, melainkan anak tangga persiapan batin menuju Liturgi Sabda. Karena itu, penting diperhatikan Antifon Pembuka, Doa Kolekta, Bacaan Injil merupakan tiga aspek penting dalam memilih Nyanyian Pembuka yang sesuai,” tegasnya.
Kemudian lagu Kyrie adalah lagu pujian kepada Kyrios yang bangkit. Kepada Dia kita mohon ampun, tidak selalu lagu yang mendayu-dayu, sedih, dan sebagainya. Selanjutnya, Gloria adalah madah malaikat; bagaimana liturgi di surga terikat dengan liturgi di bumi.

Ritus pembuka berpuncak pada Doa Kolekta. Imam sebagai in persona christi menyatukan intensi-intensi umat dalam hati. ”Baik jika intensi dari umat yang mau dibacakan disebutkan di awal misa,” katanya.
Romo Yance menambahkan, tiga Pengakuan dalam Ritus Pembuka: Confessio Praesentiae (Pengakuan akan Kehadiran) – Confessio Pecatorum (Pengakuan atas Dosa) – Confessio Gloriae (Pengakuan akan Kemuliaan Allah) yang disimpulkan dalam Doa Kolekta.
Sedangkan untuk pengukupan, berdasarkan SC-7, disebut Tribus Ductibus (3 kali pengukupan – 2 kali ayunan).
Liturgi Sabda
Dari Ritus Pembuka, melangkah Liturgi Sabda. Liturgi Sabda: Allah yang Bersabda, umat yang Menjawab.
Struktur Makro: Sebuah Dialog, Bukan Monolog. Bacaan I: Akar sejarah (Proklamasi = Allah yang bersabda); Mazmur Tanggapan: syukur kepada Allah; Bacaan II: Ajaran Rasul (Proklamasi = Allah yang bersabda); BPI: (Umat yang Menanggapi); Injil : Puncak Kristus Berbicara (Proklamasi = Allah yang bersabda); Syahadat (credo) dan Doa, sebagai tanggapan puncak mengakui iman dan mendoakan dunia.
Dikatakan, Kitab Suci mendapat kepenuhannya dalam Liturgi Ekaristi; Ekaristi adalah Kitab Suci yang dibacakan, Kitab Suci yang dinyanyikan, Kitab Suci yang dirayakan. Puncak Pewartaan adalah bacaan Injil.

Berbicara tentang homili, menurut Rm. Yance, homili itu harus membuat hati umat berkobar-kobar, mensharingkan hasil dari kontemplasi yang diwartakan. Dalam kotbah: biblis, litrurgis, kerigmatis, akrab (homilia).
Kesimpulan: dari meja sabda menuju meja ekaristi: mendengar (telinga), meresapi (hati) dan mempersembahkan (tangan).
Liturgi Ekaristi
Liturgi Ekariti, strukturnya persembahan, doa syukur agung dan ritus komuni. Menurut Rm. Yance, spirit persembahan dalam Gereja Katolik terinspirasi dari pemberian seorang janda miskin, bukan perpuluhan. “Memberi dengan total seperti janda miskin. Bukan dengan perhitugan seperti perpuluhan,” katanya.
Evolusi kolekte: dari hasil bumi menuju symbol karya. Pada abad 3: tradisi apostolik; abad 11: hasil bumi; era modern: uang sebagai sumber karya. Kolekte adalah bentuk partisipasi umat sebagai ungkapan persembahan sejati dari umat kepada Allah.
Dalam liturgi Ekaristi ada percampuran Air dan Anggur, maknanya penyatuan kodrat (Air lambang keinsanian Kristus, Anggur lambang Keilahian Kristus.
Doa syukur agung adalah jantung ekaristi. Sikap batin dan tata gerak umat: hening, penuh hormat dan mendengarkan.
Dalam liturgi Ekaristi ada Prex Eucharistica, Misteri Surga dan Bumi disatukan dalam: Pilar Kiri (Doa Pujian): Dialog Ajakan, Prefasi, Aklamasi, Kudus (ada unsur pertemuan liturgi bumi dan surga). Kemudian Pilar Kanan (Doa Syukur): Epiklesis, Konsekrasi, Anamnesis, Doa Kurban & Permohonan, Doksologi.
”Ekaristi menghadirkan (zikkaron) kurban Kristus yang kemudian menjadi bekal kita untuk menuju keabadian. Sedangkan Komuni dan Perutusan, bermakna dari Altar Menuju Kehidupan Nyata,” urainya.
Ritus Penutup
Dalam Ritus Penutup ada pengumuman (singkat tidak bertele-tele), berkat dan sapaan penutup, perarakan (transisi menuju dunia). ”Sapaan Penutup sebagai suatu panggilan untuk diutus mewartakan Dia yang kita dengar, Dia yang kita santap setiap hari (Kristus). Lalu perarakan keluar transisi menuju dunia,” katanya.
Ada catatan penting juga disampaikan Rm. Yance dengan mengutip kalimat dari Paus Fransiskus bahwa Ekaristi (Roti) bukan hadiah bagi orang-orang kudus, melainkan roti bagi orang-orang berdosa (Paus Fransiskus)
Ditekankan juga bahwa Ekaristi bukan sarana untuk mencari mukjizat, tetapi karena kita yakin bahwa Dia sungguh hadir di sana. ”Kata Thomas a Kempis: Kekuatan cinta yang membuat kita rindu untuk berjumpa dengan-Nya dalam Ekaristi,” ujarnya
Sesi berikutnya, tentang musik liturgi.Rm. Yance mengatakan lagu liturgi diciptakan untuk ritus liturgi.
Ada tiga pilar bobot kudus musik liturgi: (1) mengabdi tujuan liturgi, (2) terintegrasi ritus, (3) kualitas seni dan kesucian (Berdasarkan dokumen musicam sacram No. 4)

Menurut Rm. Yance, ada beberapa lagu yang tidak cocok untuk musik liturgi. Seperti lagu Bapa Kami, ada yang tidak pas untuk dinyanyikan sebagai lagu liturgi seperti Bapa Kami Filipina atau Bapa Kami Putut, dan sebagainya.
Dalam sesi ini, beberapa umat sempat menanyakan tentang misa inkulturasi, di mana lagu-lagu berbahasa daerah cukup mendominasi. Romo Yance menegaskan “Salah kaprah kalau misa inkulturasi itu harus lagu daerah di tempat yang umatnya tidak mengerti artinya. Kalau lagu Bahasa Ende nyanyi di Ende, masuk akal. Tapi ingat lagu daerah itu belum tentu liutrgis. Tetapi banyak lagu liturgis hasil inkulturasi (motif) daerah tertentu yang sudah sah (imprimatur).” katanya.
Sebelum sesi inti seminar, didahului acara pembukaan yang diisi dengan sapaan kasih dari Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Denpasar RD. Antonius Gede Ekadana Putra, dan sambutan Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, sekaligus membuka Seminar.
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Denpasar, RD. Antonius Gede Ekadana Putra, akrab disapa Rm. Tony, dalam sapaan kasihnya mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan tawaran dari Komisi Liturgi (Komlit) KWI kepada Keuskupan Denpasar.
”Selama bertugas sebagai Ketua Komlit, ini merupakan pengalaman pertama saya mengadakan kegiatan bersama Komlit KWI. Tujuannya supaya liturgi hidup dan umat berpartisipasi di dalamnya. Selama ini, jalannya liturgi terkesan ’memang begitu’ atau ’ikut kata romonya’” katanya.
Rm. Tony mengucapkan terima kasih atas kehadiran umat dari berbagai paroki sambil mengajak untuk belajar bersama dalam seminar ini, sekaligus bawa semangat dan pemahaman baru tentang liturgi dan dibagikan di paroki kita masing-masing.
Sementara Romo Babey, Vikjen dan Direktur Puspas, dalam kesempatan ini menegaskan, sejak TPE 2020 dirilis sudah disosialisasikan Keuskupan Denpasar ke seluruh paroki. ”Bersama dengan RD. Yasintus Nahak (alm) kami berbicara du, hal yaitu Ekaristi dan Musik Liturgi,” katanya.

Dalam Ekaristi, lanjut Vikjen, kadang-kadang kita bangga menyanyikan nyanyian rohani non liturgis atau lagu dari Kristen lain yang tidak ada hubungan dengan misteri perayaan ekaristi.
”Maka setelah kegiatan minta tolong untuk lapor ke pastor paroki masing-masing, karena yang mengirim anda sekalian adalah pastor paroki. Besar harapan kegiatan ini juga dilakukan di NTB (Lombok – Sumbawa) karena merupakan bagian dari Keuskupan Denpasar. Anda merupakan agen-agen penting yang menjaga agar Perayaan Ekaristi dilaksanakan dengan baik dan benar,”ungkap Rm. Babey, dan selanjutnya membuka kegiatan itu.*
Hironimus Adil



