Misa Inkulturasi Batak di MBSB Nusa Dua, Merawat Iman dalam Balutan Budaya

NUSA DUA – Beriring dengan tabuhan Gondang Batak dan seruling bambu, perayaan ekaristi di Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua pada Minggu (20/09/2026) berlangsung istimewa. Misa pada pukul 09.30 WITA tersebut mengusung Inkulturasi Batak, etnis yang berasal dari Sumatera Utara.
Misa dipimpin oleh Pastor Rekan RD Ferdy Panggur Burhan, serta didampingi oleh RD Johannes Handrijanto Widjaja dan Frater TOP Yohanes I Ketut Salvatore Cardia. Turut hadir pula Pastor Tamu yang berasal dari Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Romo Gabriel Madja.
Perarakan misa diawali dengan sambutan di pintu masuk gereja dengan menggunakan bahasa Batak. Selanjutnya, perarakan masuk diiringi dengan Tari Tortor dan lagu pembukaan yang dimainkan dengan Gondang Batak dan seruling bambu. Tidak lupa, petugas liturgi mayoritas mengenakan pakaian tradisional Batak dan kain ulos.

Homili dalam Misa Inkulturasi Batak dibawakan oleh Romo Gabriel Madja. Dalam homilinya, Romo Gabriel menyebutkan adanya falsafah hidup orang Batak Toba, yakni bercita-cita tinggi. Falsafah hidup tersebut berarti, ke mana pun orang Batak pergi, maka tujuannya adalah untuk memenuhi cita-cita hidupnya.
Cita-cita tersebut terdiri atas harta kekayaan (hamoraon), kehormatan, dan keturunan atau keluarga. Ketiga hal tersebut selalu dipegang teguh dan dicari oleh orang Batak, sehingga tecermin dalam perbuatan sehari-harinya.
Romo Gabriel lantas berbicara mengenai bacaan Injil dari Kitab Matius. Bacaan Injil tersebut dianggap menampar kesombongan dan logika manusia. Romo Gabriel juga menyebut bahwa Tuhan tidak menghitung jam kerja, tetapi tetap terus memberikan rahmat dan keselamatan kepada setiap orang tanpa terkecuali.
“Itu tidak berarti jam kerja dan sumbangsih kita tidak penting. Kita semua dipanggil supaya mengisi kehidupan ini seturut rencana dan rancangan-Nya,” ungkap Romo Gabriel.
Dalam Perayaan Ekaristi, Romo Gabriel mengajak umat untuk memohon kepada Tuhan, semoga menjadikan umat sebagai orang-orang yang mau membagi kekayaan dan membangun persaudaraan yang berlandaskan cinta.
“Marilah kita membangun persaudaraan, bahwa kita ini adalah satu keturunan. Mari kita mempertahankannya bukan karena ego diri, tetapi karena pemberian Tuhan yang harus kita bagikan kepada siapa saja,” ucapnya.

Koordinator Misa Inkulturasi Batak, Nita Tagor, mengatakan persiapan untuk mengadakan Misa Inkulturasi Batak sudah dimulai sejak akhir Juli. Namun, karena umat beretnis Batak di Paroki MBSB sedikit, jalannya misa turut dibantu dengan koor paroki dan Keluarga Batak Katolik di Bali.
Nita mengatakan, tujuan Misa Inkulturasi Batak adalah untuk memperkenalkan budaya Batak ke dalam liturgi. Di Batak sendiri terdapat enam sub-suku, tetapi Misa Inkulturasi pada pagi hari itu mengadaptasi dari budaya Batak Toba.
“Kami ingin memperkenalkan kepada umat di luar etnis Batak, bahwa inilah Suku Batak yang jauh dari Bali. Selama ini yang paling sering adalah misa inkulturasi dari etnis yang daerah Indonesia Timur, kami ingin memperkenalkan ada Suku Batak yang unik dan juga seru. Kami punya manortor,” kata Nita.
Hal unik lainnya yang terdapat dalam misa adalah persembahan yang mengadaptasi elemen yang selalu ada dalam upacara adat Batak. Nita menyebut terdapat beberapa elemen yang selalu ada, yakni beras, saksang, arsik, dan lapet. Masing-masing dari elemen tersebut mempunyai maknanya tersendiri.
Nita meyakini umat yang hadir dan para petugas liturgi juga ikut ceria karena adanya Misa Inkulturasi Batak. Selain itu, Nita juga merasa senang dengan adanya Misa Inkulturasi di Paroki MBSB Nusa Dua.

“Karena bisa memberikan nuansa budaya dan pengetahuan kepada umat-umat dari etnis lainnya yang bukan dari etnis suku yang pada saat itu sedang bertugas,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu umat, Sri Aini Hasibuan, mengungkap adanya Misa Inkulturasi Batak pada pagi hari itu merupakan kesempatan yang cukup langka. Oleh sebab itu, dia merasa mendapatkan rasa khidmat dari hadirnya rona Batak di Paroki MBSB.
“Kebetulan mengikuti misa di gereja ini sudah satu tahun dan baru merasakan Bataknya lagi, baru kali ini. Kebetulan karena saya Batak, pesannya semoga umat bisa beberapa kali lagi untuk melakukan misa dalam pesona Batak,” ungkapnya.

Kesan positif juga dirasakan oleh Tania yang berasal dari Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. Dia merasa Misa Inkulturasi Batak di Paroki MBSB berjalan seru, terutama dengan hadirnya tari-tarian dan budaya khas Batak.
“Semoga bisa lebih sering-sering lagi dari budaya-budaya yang lain, misalnya kayak budaya Toraja atau yang lain-lainnya,” imbuhnya.
Di penghujung misa, para imam konselebran ikut serta dalam ‘monotor pasu-pasu’ sambil memberikan berkat kepada umat. *
Sumber: Komsos Paroki MBSB
Editor: Hiro/KomsosKD



