Konsolidasi Rasul Awam yang Solid – Solider untuk Menjadi Garam dan Terang Dunia

DENPASAR – Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Denpasar mengumpulkan para Rasul Awam yang terdiri dari Seksi Kerasulan Awam Paroki se-Bali dan tokoh-tokoh awam Katolik, di Aula Keuskupan Denpasar, Sabtu (17/10/2026), dalam kegiatan bertajuk ‘Konsolidasi Rasul Awam yang Solid-Solider.’
Kegiatan ini diawali dengan doa, lalu sapaan kasih dari Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Keuskupan Denpasar RD. Flavianus Endi, yang sekaligus membuka kegiatan tersebut.
Kepada peserta konsolidasi, Ketua Komisi Kerawam mengharapkan Rasul Awam Katolik harus selalu siap diutus menjadi Garam dan Terang Dunia. “Apapun kapasitas kita, harus siap diutus menjadi garam dan terang dunia, seraya gemakan terus api misioner kita,” katanya.

Menurut Rm. Vian, demikian biasa disapa, kegiatan konsolidasi hari itu merupakan kesempatan untuk membicarakan dan berdialog bersama tentang hal-hal yang mestinya bisa dilakukan rasul awam seturut peran masing-masing.
“Sebagai rasul awam, apa yang perlu kita buat sesuai peran masing-masing, agar kita semakin solid dalam iman dan solider dalam tindakan kasih. Di samping itu, apapun yang kita jalankan harus bergerak bersama, kita menggerakan mesin pelayanan kita bersama dengan cahaya api kristus sendiri,” imbuhnya.
Konsolidasi ini diisi dengan pembekalan tentang peran kaum awam, dengan dua narasumber yaitu Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey dan Ketua Kerawam RD. Flavianus.
Di sela-sela kegiatan, juga diberi kesempatan kepada sejumlah tokoh awam Katolik yang terlibat dalam politik praktis di Bali, yaitu Grace Anastasi (Politisi PSI yang kini duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Bali), Komang Purnama (Ketua ISKA dan Mantan Ketua Partai Perindo, yang kini Ketua Dewan Penasehat Perindo), Antonius I Made Restika (Ketua Partai Nasdem Kabupaten Badung) dan dr. Nisa (Ketua WKRI dan juga politisi PDIP).

Para peserta juga diberi kesempatan untuk bertukar wawasan sekaligus hal-hal yang dapat dilakukan bersama atau di paroki masing-masing melalui diskusi kelompok, di mana peserta dibagi dalam dua kelompok besar.
Spiritualitas Kaum Awam
Tampil pada pembekalan sesi pertama, Vikjen Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey, memberikan spirit dan kekuatan kepada rasul awam ini dengan materi ‘Spiritualitas Kaum Awam: Menjadi Garam dan Terang di Tengah Tata Dunia’.
Romo Babey, mengawali paparannya dengan pertanyaan singkat “Siapa kita sebagai kaum awam?” Kaum awam, katanya, para murid Kristus yang berperan dalam tata dunia. Oleh karena itu, Gereja menugaskan para awam Katolik untuk menjadi rasul di tengah dunia.

“Perintah Yesus, kita menjadi garam dan terang di tengah dunia lewat karya dan pelayanan masing-masing,” katanya, seraya menambahkan, bahwa dunia adalah ruang perutusan, dan Gereja hidup di tengah realitas dunia itu.
Dalam menghadapi tantangan zaman, lanjut Vikjen, Gereja Katolik harus berperan, sebab iman tidak boleh terpisah dari dunia. “Kita tidak bisa hanya diam dan berdoa dalam gereja. Kita harus bergerak, harus pergi keluar ke tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dan melalui profesi masing-masing, setiap orang adalah sarana menguduskan dunia,” katanya.
Dengan demikian Rm. Babey mengajak untuk budayakan solidaritas sosial, integritas, kebenaran, kasih demi bonum commune. Hal itu, sekaligus untuk melawan realitas saat ini, yang didominasi ego (aku) dengan budaya individulisme, korupsi, hoax, dan intoleransi baik di dunia nyata maupun maya.
Rm. Babey juga menegaskan, Gereja bukan sekadar hadir, tetapi panggilan sejati awam adalah menghadirkan Kristus di tengah dunia, keluarga, masyarakat, dunia kerja, dan pemerintahan. “Dalam tata dunia, kita menghadirkan nilai injil melalui profesi kita.”
Khusus politisi Katolik, Rm. Babey, berpesan untuk selalu membela martabat dan keadilan. Panggilan politik, kata Vikjen, adalah memperjuangkan keadilan sistemik dengan mengutamakan kepentingan umum di atas ambisi pribadi atau partai, serta berani bersuara untuk membela kelompok yang miskin dan rentan, juga menjadikan hukum dan kebijakan sebagai instrument kasih yang nyata.
Pada bagian lain pemaparannya, Rm. Babey mengingatkan tentang kompas moral sebagai seorang murid Kristus dengan berpegang pada pilar Ajaran Sosial Gereja (ASG), yaitu mengedapankan martabat manusia, kesejahteraan umum (bonum commune), solidaritas dan keutuhan ciptaan. Kemudian ada 5 langkah perjalanan kaum awam sebagai jalan kekudusan yaitu berdoa, berakar dalam Kristus, bergerak, berdampak dan bersaksi.
Di ujung paparannya, Rm. Babey menjelaskan tentang visi dan harapan Gereja bagi kaum awam, yakni harus hadir di garis depan menjadi jembatan kasih Allah sesuai peran masing-masing; menjadi ragi keselamatan untuk membawa perubahan positif bagi sesama; dan pemimpin politik yang berhati gembala dengan membawa landasan moral Katolik yang kuat dan berpihak pada yang lemah.
Bertolak ke Tempat Lebih Dalam
Sementara Ketua Komisi Kerawam RD. Flavianus Endi, yang mengangkat topik ‘Menjadi Rasul Awam Katolik yang Solid dan Solider’ mengajak para rasul awam untuk bertolak ke tempat lebih dalam.
“Kita harus berani bertolak ke tempat lebih dalam. Selama ini kita mungkin di tempat dangkal saja.
Saatnya kita ke tengah dunia yang penuh tantangan dengan menjalankan tugas perutusan kita sebagaimana yang diwariskan Yesus sebagai Nabi untuk mewartakan, Imam untuk menguduskan dan Raja untuk memimpin (melayani),” katanya.

Menjadi Rasul Awam Katolik yang Solid dan Solider itu, lanjut Rm. Vian, harus membawa Terang Kristus ke Jantung Tata Dunia. “Kita bergerak tidak hanya seputar altar, tapi bergerak juga di pasar. Ini tugas rasul awam,” tegasnya.
Menurut Rm. Vian, dalam tata dunia modern saat ini, sedang dilanda krisis ganda yaitu krisis integritas personal, di mana banyak orang dengan mudah terombang-ambing moralnya demi keutungan sesaat, dan krisis kepedulian sosial yang ditandai meningkatnya budaya egois dan ketidak pedulian terhadap penderitaan sesama.
“Rasul awam dipanggil hadir mematahkan tren negative ini dengan kualitas diri yang kokoh (solid) sekaligus hati yang penuh bela rasa (solider),” kata Romo Vian, seraya menambahkan, sebagai Garam dan Terang Dunia harus Solid (identitas), Solider (melebur), Hasil (transformasi). Kaum awam harus sepenuhnya berjuang bagi urusan tata dunia tanpa kehilangan identitas kekatolikannya.
Menurut Rm. Vian, ada 4 ranah keterlibatan rasul awam yaitu bidang politik dan pemerintahan, ekonomi dan bisnis, sosial dan lingkungan, keluarga dan profesi. “Walau di berbagai profesi, tapi penting untuk solid dan bergerak bersama keluar (solider).
Para peserta kegiatan ini juga mendengarkan kisah-kisah inspiratif dari para tokoh awam, khususnya para politisi Katolik yang hadir dalam kesempatan itu, antara lain Grace Anastasia, Komang Purnama, Antonius Made Restika, dan dr. Nisa.

Peserta sendiri juga berbagi gagasan mereka dalam diskusi kelompok sekaligus menyepakati beberapa hal yang nantinya ditindaklanjuti oleh Seksi Kerawam masing-masing paroki.
Kesepakatan kelompok antara lain pendataan kaum awam sesuai profesi; melakukan pertemuan atau kosolidasi kaum awam di paroki; sosialisasi dan pendidikan politik tentang pemilu kepada umat; terlibat dalam aksi dan bakti sosial di lingkungan tempat tinggal, kaderisasi kaum muda khususnya di bidang politik, dan sebagainya.

Kegiatan konsolidasi itu ditutup dengan pembahasan rekomendasi untuk dilaksanakan seksi kerawan maupun umat Katolik umumnya sebagai tindak lanjut yang dapat dilakukan ke depan. Beberapa usulan peserta dari hasil diskusi mereka, juga perlu diakomodir dalam rekomendasi itu sehingga harus dimatangkan oleh Komisi Kerawam. *
Hironimis Adil



