Perayaan 100 Tahun Minggu Misi, Direktur KMKI Keuskupan Denpasar: Gereja Hadir Tidak Sekedar Berkumpul

DENPASAR – Direktur KMKI, yang juga Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, menegaskan bahwa Gereja hadir bukan sekadar untuk berkumpul, melainkan untuk diutus. Namun, kenyataan yang sering terjadi, sebagai gereja kita menunggu, pasif dan diam; hanya menjaga altar, menanti umat datang, bersikap eksklusif.
Hal itu dikatakan Rm. Babey, ketika tampil pada sesi kedua Animasi Misi untuk menyongsong 100 Tahun Minggu Misi. Kegiatan tersebut diselenggarakan Komisi KMKI Keuskupan Denpasar, selama dua hari untuk dua dekenat, Kamis (15/10) bagi Dekenat Bali Timur dan Dekenat Bali Tengah (16/10), bertempat di Catholic Center Denpasar. Pada sesi pertama tampil sebagai narasumber adalah Uskup Denpasar Mgr. Silvester San.
Menurut Rm. Babey, Gereja itu harus pergi, bergerak untuk melayani, meninggalkan zona nyaman, menjumpai masyarakat, dan bersikap inklusif. Dan dalam konteks misi atau pewartaan saat ini, lanjutnya, katekese digital perlu dikembangkan.

“Keuskupan Denpasar sudah melatih banyak remaja, orang muda, tapi masalahnya apakah ilmu yang diperoleh untuk misi gereja atau untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.
Terlepas dari itu, problem sesungguhnya, menurut Rm. Babey, bukan soal katekese digitalnya sebab anak-anak muda sudah sangat kreatif, namun persoalannya pengetahun iman mereka. Remaja dan orang muda atau umat awam umumnya perlu dikuatkan dengan iman yang kuat. Di sini peran seksi katekese paroki penting, dan juga bimbingan dari pastor paroki.

“Menghadirkan pewartaan yang baik, maka perlu pembekalan iman yang baik, ini menjadi tanggung jawab seksi katekse paroki. Penting pula fungsi kontrol para imam untuk mereka yang dikirim pelatihan supaya memanfaatkan Ilmu yang didapatkan untuk pewartaan,” tegas Rm. Babey.
Romo Babey, menganjurkan perlunya bentuk tim di paroki untuk katekese digital, dengan melibatkan orang muda. Selain itu, Seksi Komsos juga harus di depan untuk mempublikasikan pewartaan.
Misi Sejati
Selanjutnya Vikjen menerangkan bahwa misi sejati selalu mengalir dari kasih Allah Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus kepada Gereja. “Bapa mengutus putra ke dunia karena kasih (Yoh 3:6). Putra (Yesus) adalah misionaris pertama yang datang mengasihi, melayani, dan menyelamatkan (Yoh 20:21). Roh Kudus adalah Daya misi yang memberi kuasa, keberanian, kesetiaan dan sukacita (Kis 1:8). Kemudian Gereja lahir dari kisah ini untuk diutus kembali ke tengah dunia,” kata Rm. Babey.
Dengan demikian, dalam karya misi Gereja jangan kerja sendiri, tapi melibatkan Allah Tritunggal dan perlunya bekerjasama dalam tim. Perlu disadari juga bahwa, setiap umat yang dibaptis secara otomatis adalah seorang misionaris: datang, tinggal, diubah dan diutus (keluar dari diri sendiri).

Romo Babey, menambahkan memasuki satu abad minggu misi dedikasi melalui 4 pilar utama misi: doa, korban, bersaksi dan berbagi. “Doa: membawa penderitaan dan harapan dunia langsung kepada Allah. Korban: memberi diri dan berkorban sepenuhnya demi keselamatan sesama. Berskasi: menunjukan otentisitas iman dalam tindakan sehari-hari. Berbagi: membuka tangan, bersolidaritas dari apa yang kita miliki,” imbuh Direktur Puspas ini.
Lebih jauh Rm. Babey menjelaskan tentang 4 Serikat Karya Kepausan yang membangun kesadaran misioner, yaitu kesadaran misioner dan partisipasi seluruh umat (Propagation of Faith); Menumbuhkan semangat misi sejak anak (Holy Childhood/Sekami); Mendukung dan merawat penggilan suci (St. Peter Apostle); Formasi dan pendampingan iman yang berkelanjutan (Missionary Union).
Romo Babey menegaskan, supaya seluruh elemen paroki bergerak sebagai satu kesatuan yang utuh dengan Yesus sebagai pokok dan kekuatan. Sebab, misi bukanlah tugas soliter satu orang. Misi adalah gerak bersama seluruh element.

Mulai dari Sekami sebagai generasi misioner masa kini yang hidup dan bergerak hari ini. Anak-anak adalah msioner sekarang, bukan sekadar menunggu dewasa, mereka bermisi lewat doa-berbagi-bersahabat.
Kemudian OMK sebagai generasi penggerak misi yang menembus batas dunia nyata dan digital lewat kreativitas-pelayanan-kesaksian.
Lalu gerakan misi selalu dimulai dari garis depan yang paling dekat yaitu KBG-Lingkungan. KBG adalah mata dan telinga Gereja untuk melihat, mendekati, menemani tetangga. Lingkungan merupakan wajah Gereja yang paling nyata dan dekat dengan penderitaan umat. Lingkiungan menjawab tantangan langsung: siapa yang sakit hari ini, siapa yang sedang sendirian, dan sebagainya.
Kemudian, kepemimpinan paroki berfungsi sebagai animator pengerak umat: DPP-DKP, Imam. DPP-DKP harus fokus struktur, memastikan setiap kebijakan, program, dan anggaran paroki selalu menjawab satu pertanyaan utama: siapa yang belum tersentuh oleh kasih gereja?
Sementara Imam berfokus pastoral. Imam sebagai animator utama untuk mengemakan panggilan Kristus kepada umat-Nya secara terus menerus: engkau dipanggil, engkau diutus.
Selanjutnya Rm. Babey menjelaskan Lima Langkah Strategis mencetak lebih banyak misioner, yakni Menginspirasi, Menggerakan, Mendampingi, Menghubungkan, Mengutus.
“Mengisnpirasi: membuka mata hati umat terhadap realitas; Menggerakan: mengubah umat dari posisi diam menjadi siap bersaksi; Menghubungan: membangun sinergi antar kelompok di dalam paroki; Mengutus: mengirim umat keluar dari batas-batas fisik gedung gereja,” ungkapnya.
Di samping itu, aksi nyata diwujudkan melalui lima gerekan misi keuskupan: Doa, Berbagi, Bersaksi, Diutus dan Peduli. Romo Babey juga mengajak umat (peserta) animasi untuk mengubah angka 100 menjadi budaya kampanye 100 langkah, misalnya 100 doa dipanjatkan khusus untuk misi, 100 kunjungan ke lingkungan dan sesama yang terpinggirkan, 100 aksi anak, 100 aksi OMK dan 100 aksi keluarga.
Di bagian akhir materinya Rm. Babey, mengajak ‘Pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku (mat 28:19)’, dengan tindakan kongkret dari Altar ke Kehidupan; dari Gereja kepada Masyarakat; dan dari Keluarga kepada Dunia.
Setelah pemaparan materi, kemudian dilanjutkan pendalaman materi dengan memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan tanggapan dan pertanyaan. *
Hironimus Adil



