Salib Kecil dari Gabus

Prolog
Beberapa tulisan saya telah terunggah pada website keuskupan Denpasar tercinta ini (ada pula yang hilang, semoga masih bisa recovery), sebagian besar tentunya tidak lepas dari RD bartholomeus Bere yang adalah pastor paroki kami, namun ya, ada waktu bertemu, ada pula waktu berpisah.
SK Monsinyur Silvester San sudah rilis per 15 Agustus 2025, opa Bartho, demikian sapaan akrab umat, pindah tugas, menjadi Vicaris (Pastor Rekan) di Paroki Santo Petrus Negara, Bali Barat. Masuk menjadi Pastor Paroki kami selanjutnya adalah RD. Klemens ‘Cece’ Bere. Missa serah terima jabatan di pimpin oleh RD. Emanuel Ano, Deken NTB pada hari Minggu, 7 September 2025 di Gereja Katolik Santo Yohanes Pemandi Kampus IPDN Praya.

Kenosis Opa Bartho
Istilah kenosis ini pertama di sampaikan Romo Deken, sejenak ku googling, wah, hebat, ini dia, makasih Mo Emano, pengosongan diri, mengapa bisa kenosis?
Ini dia, oleh-oleh retret imam UNIO, menurut Opa yang mengutip Socrates, Hidup yang tidak di teliti-di refleksikan, tidak layak untuk di jalani seseorang.
Opa sampaikan, “Ya 2018, saya kesini waktu itu dalam keadaan gawat darurat, situasi gempa, semua orang takut dan khawatir. Tak lama setelah itu Covid19 melanda, lebih parah, ekonomi hancur, situasi menjadi kota mati. Lengkap penderitaan terasa manakala umat tinggal berjauhan di antara 2 kabupaten, bangunan Gereja tidak bisa di gunakan (karena semuanya ada di tanah milik Pemerintah, IPDN, komplek Polres dan komplek TNI AD).”
“Ya pak Jon, saya hanya bertanya, jika besok tidak akan datang? Apa yang harus saya perbuat? Itu saya coba refleksikan, saya biarkan saja dalam penyelenggaraan Tuhan Allah, To be Loved, To Love… semuanya berlalu, puji Tuhan 45 Tahun imamat lewat, sebuah perjalanan panjang dan sekarang di Praya pula, saya akan mengucapkan selamat tinggal untuk umat kesayangan ini, sebuah salib kecil dari gabus, salib ringan karena stola ini Pak Jon, stola ini artinya saya panggul salib, tapi di sini ada Tuhan juga, setiap saat Ia bertanya, Bartho, mari, engkau mengasihiKu, mari kita pikul salib ini!, itulah Kenosis, itulah pengosongan diri, tidak hanya memahami, tapi menghayati!”
Harapan dan Misteri?
Memang ada pekerjaan rumah yang belum beres saya tinggalkan Jon, yakni kita belum bisa membangun Gereja di tanah kita sendiri, namun ya masih ada harapan, setelah temu dialog kebangsaan 22 Mei 2024 saya berharap akan terealisasinya kompleks wisata religi di Kabupaten ini, entah lokasinya dimana? Namun saya tahu Jon, ini ada harapan, namun harapan kepada orang kadang mungkin mengecewakan, namun ya, spes non confundit, berharap pada Tuhan saja,Tapi harapan ini tidak boleh pasif, tapi juga komitmen, Tuhan Allah maharahim ini bekerja dengan misteri, misteri yang kadang kita tak duga.
Epilog
Saya harus menyelesaikan tulisan tentang Opa Bartho kali ini, tapi tentu saja banyak yang belum tersampaikan. Para pembaca nan Budiman, memang paroki ini seperti Yohanes Pembaptis sendiri, menyiapkan jalan bagi Tuhan, perintis sekaligus pelopor diwarnai suka dan duka sejak 10 Februari 1995, jumlah umat boleh sedikit, tapi tak teragukan kualitas dan militannya pada iman Katolik, atau mungkin karena pelindung paroki kami ini adalah orang yang pertamakali mengenal suara ibu Tuhan pula? Demikianlah, selanjutnya providentia Dei. Amin.*
Penulis: Wastuwijaya
Editor: Hiro/Komsos KD



