LINTAS PAROKI

Etnis Manggarai Bali Layani Misa Inkulturasi di Paroki Sanmari Gianyar

GIANYAR – Paroki Santa Maria Ratu Rosari (Sanmari) Gianyar, mengundang etnis Manggarai melalui Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) untuk melayani misa inkulturasi di paroki itu, Minggu (27/4/2025).

Misa inkulturasi dengan latar budaya Manggarai-NTT, itu bertepatan dengan Misa Minggu Paskah Kedua, yang oleh Gereja ditetapkan menjadi Minggu Kerahiman Ilahi.

Nuansa Budaya Manggarai cukup kental mewarnai misa tersebut. Hampir semua umat asal Manggarai yang hadir dalam misa, termasuk jajaran IKMB dan petugas liturgi membalut tubuh mereka dengan pakaian adat Manggarai.

Sebagai informasi, IKMB mempercayakan Paguyuban Inkulturasi Manggarai Paroki St. Yoseph Denpasar untuk menjadi petugas liturgi mulai dari Koor, Lektor, Pemazmur dan Penari dalam misa itu.

Perayaan liturgi pada Minggu Paskah kedua itu tetap seperti biasanya, hanya lagu-lagu liturgi didominasi oleh lagu liturgi bermotif Manggarai dan umumnya mamakai bahasa Manggarai juga. Kecuali ordinarium diambil dari Misa Kita II dan lagu penutup menyanyikan hymne ‘Yubileum’.


Perayaan tepat dimulai pukul 08.00 Wita. Sesaat sebelum perarakan masuk gereja, didahului dengan ritual adat Manggarai yang berlangsung di halaman gereja paroki itu. Keluarga Besar Manggarai Paroki Gianyar menyambut Keluarga Besar IKMB beserta petugas liturgi inkulturasi yang datang dari Denpasar.

Mereka menyambut dengan ritual adat berupa ‘tuak kapu dan kepok.’ Kemudian diterima oleh salah satu tetua adat dari IKMB yang diwakili oleh Pius Mat. Ritual dilanjutkan dengan “Renggas” berupa pekikan adat yang dilanjutkan dengan nyanyian budaya yang berisi pujian kepada Tuhan yang begitu baik dalam kehidupan manusia.

Prosesi Renggas hingga di tangga masuk gereja. Pius Mat kemudian menyampaikan ritual adat berupa kepok dan menyampaikan “Tuak Baro Sai” sebuah ritual yang bermakna bahwa Keluarga IKMB telah datang memenuhi undangan dari Paroki Gianyar. Selanjutnya ‘Tuak Baro Sai” itu diterima oleh Pastor Paroki Gianyar RD. Domnikus I Gusti Kusumawanta.

Tiga orang sesepuh Manggarai kemudian mengalungkan Pastor Paroki dengan selendang khas Manggarai, dua selendang lainnya dikalungkan kepada Pengurus DPP yaitu Hironimus Gali dan Yohanes.

Usai ritual adat Manggarai itu, dilanjutkan perarakan masuk gereja. Imam dan para petugas liturgi lainnya dalam perarakan itu dihantar dengan sebuah tarian khas Manggarai sampai di altar, diiringi lagu pembuka, sebuah lagu liturgi berbahasa Manggarai. Para Penari juga mementaskan kepiawaiannya saat menghantar persembahan serta sebuah tarian lagi dipentaskan saat acara kebersamaan setelah misa.


Perayaan misa dipimpin oleh Pastor Paroki RD. Kusumawanta. Rm Wanta, demikian akrab disapa, dalam sapaan pengatar misa mengatakan bahwa sebagai orang Indonesia bangga karena memiliki kekayaan budaya dan sekaligus menjadi kekayaan Gereja Katolik Indonesia, sebab Tuhan juga hadir lewat ekspresi budaya yang ada.

Sementara di sela-sela homilinya, Rm. Wanta, mengatakan bahwa salah satu kata dalam Bahasa Manggarai yang diketahuinya dan sering dipakai dalam ritual adat Manggarai adalah “yoo”. Yo, kata imam yang pernah satu tahun menjadi Frater TOP di Seminari Kisol-Manggarai Timur, ini bermakna ‘Salam’.

Hal itu, menurut Rm. Wanta, sangat relevan dengan bacaan Injil hari Minggu itu, di mana Yesus, setelah kebangkitanNya menampakkan diri di tengah-tengah para murid dan menyampaikan salam damai.

Marcel Jemalit, selaku sesepuh Manggarai, mewakili Ketua IKMB, menyampaikan terima kasih kepada Pastor Paroki, DPP dan seluruh umat Gianyar atas undangannya kepada IKMB untuk berpartisipasi dalam Misa Inkulturasi Manggarai hari itu.

“Kami sungguh merasa apresiatif dan gembira bisa diundang dan berpartisipasi dalam misa inkulturasi ini. Terima kasih kepada Pastor Paroki, DPP dan seluruh umat Paroki Gianyar,” ungkap Marcel Jemalit, sesaat sebelum berkat penutup misa.

Salah satu tokoh Manggarai Gianyar Lodovikus Luru, dalam acara kebersamaan dengan keluarga Manggarai setelah misa juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran keluarga Manggarai dari Denpasar dan perjumpaan dalam misa inklulturasi ini menjadi perjumpaan penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

Ucapan terima kasih juga diungkapkan pengurus DPP Paroki Gianyar, Hironimus Gali. Dia juga memuji kekompakan yang ditunjukan oleh orang-orang Manggarai di perantauan.

Sementara Pastor Paroki Gianyar, RD. Kusumawanta, mengungkapkan rasa bangganya dengan umat Katolik yang datang dari variasi budaya berbeda.

“Gereja itu harus menampung semua orang, baik yang terluka maupun tidak terluka. Gereja juga harus terbuka dan akomodir semua organ dengan membuka tembok-tembok penyekat antara umat,” katanya.

Menurut Rm. Wanta, ide misa inkulturasi di paroki itu harus terus berjalan. “Sebagai umat Katolik dengan kekayaan budaya masing-masing sedang berziarah di Bali dan harus juga menjunjung tinggi budaya Bali,” ungkapnya seraya mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dan pelayanan dalam misa inkulturasi itu dan berharap kelompok etnis Manggarai tetap eksis di Bali, lebih khusus lagi di Paroki Sanmari.

Persembahan tarian dari ‘molas-molas’ Manggarai Paroki St. Yoseph menutup perjumpaan dan kebersamaan hari itu, sebelum akhirnya santap siang bersama yang disediakan Paroki Sanmari Gianyar. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button