Dipanggil Bersinar; Camping Misdinar SVD Distrik Bali Lombok

BEDUGUL, BALI – Misdinar atau Putra-Putri Altar atau Ajuda adalah salah satu kelompok pelayan imam dalam perayaan Ekaristi. Peran mereka sangat penting dalam liturgi Gereja Katolik. Mereka mengambil peran liturgis hingga ke panti imam, yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Rentangan usia mereka mulai dari anak-anak hingga remaja. Mereka menjalankan perannya layaknya seorang Akolit dalam Gereja. Akolit adalah pelayan Altar yang dikukuhkan dengan persiapan, pembinaan, pemilihan dan pelantikan. Dalam sejarah Gereja, kehadiran mereka sangat erat dengan tahbisan-tahbisan, karena mereka menjadi landasan awal perjalanan pelayanan tahbisan atau panggilan khusus.
Bertempat di Pondok SVD Pancasari, Buleleng, Bali, pada 27-29 Juni 2025, 147 orang Misdinar didampingi oleh 20 orang pembina mengikuti Camping Misdinar 150 tahun misi SVD di dunia.

Camping misdinar diprakarsai oleh komunitas SVD Distrik Bali-Lombok sebagai bagian dari kegiatan menyongsong perayaan puncak 150 tahun misi SVD, yang berpuncak pada 8 September 2025. Tema utama perayaan ini ialah “Witnessing to the Light: From Everywhere for Everyone”.
Fokus materi yang diberikan selama Camping Misdinar berpusat pada animasi misi dan animasi panggilan khusus untuk hidup membiara.
Di Tengah zaman yang dijejali oleh dunia internet, perangkat elektronik modern serta media sosialnya, para peserta yang didominasi remaja ini, diajak untuk sejenak meninggalkan semua perangkat elektroniknya dan menepi di Kebun Anggur Brazil (jaboticaba), Pondok SVD Pancasari.

Mereka tinggal dalam tenda-tenda dan diajak untuk bersosialisasi bersama rekan-rekan misdinar dari paroki lain. Hal ini tidak biasa bagi beberapa anak muda yang terbiasa segalanya serba beres dalam hitungan detik. Camping misdinar ini bukan wisata glamping melainkan sebuah kesempatan untuk memaknai kebersamaan tanpa perangkat elektronik.
Camping misdinar didampingi langsung dan didanai oleh para romo, bruder dan frater SVD yang berada di Distrik Bali Lombok dan kerjasama dengan Paroki-paroki SVD. Bruder Pius Himaang SVD selaku direktur kebun anggur Pondok SVD Pancasari menjadi tuan rumah camping misdinar 150 tahun SVD diselenggarakan.
Beberapa pastor SVD yang turut hadir dalam kegiatan ini sebagai berikut. P. Sifronisius Iron Risdianto, SVD dan P. Kristophorus Retas Steprih, SVD dari Paroki Ampenan. P. Yoseph Casius Wora, SVD dari Katedral Denpasar, P. Yohanes Madia A.SVD, P. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD, P. Gregorius Loudowick Lengga Wangge, SVD dan Diakon Oktovianus Baunsele, SVD dari Paroki Santo Yoseph Denpasar.
Ada juga P. Paskalis Nyoman Widastra, SVD dan P. Gabriel Madja, SVD dari Paroki Tuka; P. Alexius Dato’L, SVD, P. Johanes Kenny Seran,SVD, Frater Ignasius Aprilianus Sutejo, SVD dari Paroki Tangeb. Tidak lupa hadir juga dari komunitas Biara SVD Kepundung, P. Martinus Fatin, SVD, Bruder Sutomo, SVD. Satu lagi, para saudari SVD suster-suster SSpS Provinsi Jawa: Sr. Verena, SSpS dan Sr. Veronika Sedo Bura, SSpS.
Kebun SVD Tempat Favorit
Sejak tiba di tempat Camping, para peserta dapat memetik buah Anggur Brazil atau Jaboticaba sepuasnya karena bertepatan dengan musim panen bulan Juni. Bruder Pius Himaang, SVD selaku pengelola Kebun SVD Pancasari bersama dengan tiga staff kebun, membebaskan semua peserta untuk memetik dan memakan buah anggur atau membawa pulang sebagai oleh-oleh.
Kebun SVD Pancasari memang dibuka untuk umum dan menjadi salah satu pilihan favorit rekreasi bagi keluarga, kelompok, siswa sekolah maupun mahasiswa yang ingin belajar berkaitan dengan tanaman sayur dan lingkungan hidup.

Tempat ini dikembangkan sebagai lahan Eco-Pastoral atau wisata edukasi yang sangat mendukung kelestarian lingkungan dan memberi kesempatan bagi pengunjung untuk belajar bagaimana menanam dan merawat sayur-sayuran.
Camping Misdinar ini sengaja dipersempit khususnya bagi para sahabat para misionaris yang turut berperan penting dalam perayaan ekaristi yaitu para misdinar. SVD Distrik Bali Lombok meminta masing-masing paroki untuk mengutus 20 orang misdinar dan empat pembina untuk mendampingi. Seluruh rangkaian kegiatan ini dikoordinatori oleh Koordinator Orang Muda Distrik Bali Lombok, P. Kristo, SVD. Sub tema kegiatan ini adalah “Dipanggil untuk Bersinar: satu Terang, satu iman, satu kesaksian”.

Pada hari pertama yang bertepatan dengan Hari Raya Hati Kudus Yesus, peserta diminta melakukan registrasi dan langsung menuju lokasi tenda dengan bawaan masing-masing. Di tenda para perserta berjumpa dengan anggota misdinar dari paroki yang lain.
Seiring waktu mereka semakin diakrabkan dalam pebagian tugas-tugas harian kelompok selama mereka mengikuti kegiatan. Setelah semua persiapan ini selesai, kegiatan resmi dibuka pada sore harinya melalui perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rektor SVD Distrik Bali Lombok, P. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD.
Pater Ketut menegaskan kembali latar belakang terselenggaranya camping misdinar ini yaitu perayaan syukur 150 tahun para misionaris SVD di dunia. Ia juga menjelaskan tema utamanya yakni, “Witnessing to the Light: From Everywhere for Everyone”. Kegiatan hari pertama ditutup dengan refleksi dan doa malam yang dipimpin oleh P. Gerry dan Suster Veronica, SSpS.
Pada hari kedua yang bertepatan dengan Peringatan Hati Suci Maria, para peserta mengawali hari kedua dengan senam pagi, MCK dan sarapan pagi. Setelah itu para peserta diajak mengenal lebih jauh tentang panggilan sebagai seorang bruder dalam Serikat Sabda Allah.
Sesi yang dibawakan oleh Br Pius Himaang, SVD ini berisi kesaksian hidupnya dan karya misi yang dikerjakannya di Kebun SVD Pancasari. Ia mengisahkan bagaimana pelayanannya dapat membuahkan hasil sebagaimana yang dinikmati langsung oleh para peserta di tempat mereka berada saat ini.
Pada sesi berikutnya, para suster SSpS memberikan animasi misi kepada peserta tentang panggilan khusus sebagai biarawati SSpS. Para peserta putri tampak terkesan dengan kesaksian dan kehadiran para suster SSpS bersama mereka. Beberapa peserta bahkan bersedia menjadi suster ketika ditanya siapa yang ingin menjadi suster.
Dua sesi animasi panggilan yang dibawakan oleh suster dan bruder adalah sebuah bentuk menaburkan benih panggilan ke dalam hati peserta. Namun, semuanya kembali kepada Tuhan yang tahu misterinya.
Pada siang harinya para peserta diberi kesempatan berlatih mempersiapkan acara kelompok untuk kegiatan malam rekreasi bersama. Setelah perayaan ekaristi sore hari usai, para peserta melanjutkan kebersamaan dalam acara malam api unggun dan rekreasi bersama.
Setiap kelompok diwajibkan membawakan acaranya masing-masing. Ada yang membawakan tablo singkat berdasarkan Kitab Suci, tarian-tarian dan nyanyian-nyanyian indah. Meski sempat hujan rintik dan dingin, semangat mereka tidak pudar di bawah rimbunnya pohon anggun Brazil.
Pada hari ketiga yang bertepatan dengan Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, para peserta dijak masuk dalam kebersamaan melalui kegiatan outbond dan games. Semua peserta diliputi dengan semangat dan sukacita.
Akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan Camping Misdinar 150 tahun SVD dimahkotai oleh perayaan Ekaristi. Pada kesempatan ini hadir pula Anggota DPRD II Kabupaten Badung, Bapak Yohanes I Wayan Edy Sanjaya,SH, tokoh umat Paroki Santa Theresia Tangeb. Ia hadir memberikan dukungan dan semangat kepada panitia.

Menabur benih panggilan di saat merayakan tahun syukur 150 tahun SVD mungkin hanya bagian kecil dari sejarah Gereja di masa depan. Keprihatinan terhadapan merosotnya panggilan-panggilan khusus di zaman ini, mendorong para penabur untuk giat menabur dan menanam panggilan di jantung hati kaum muda.
Maka sebagaimana Santo Arnoldus Janssen mendirikan SVD pada 8 September 1875 dengan visi “Vivat Deus Unus et Trinus in cordibus nostris, et vivat Cor Iesu in cordibus hominum” (semoga hiduplah Allah Tritunggal dalam hati kita dan semoga Hati Yesus hidup dalam hati semua manusia), para misionaris di era digital harus terus menabur benih panggilan di hati melalui kehadiran nyata, tidak sekedar eksis di dunia maya.
Ketika Santo Arnoldus Janssen telah mendirikan SVD 150 tahun yang lalu, ia dipandang sebelah mata dan tidak sedikit kritikan tajam ditujukan kepadanya. Tindakannya dipandang sebagai sebuah kebodohan di tengah zaman itu.

Namun, Santo Arnoldus Janssen sesungguhnya memiliki visi jauh ke depan hingga mencapai usia ke-150, dengan keberaniannya untuk melawan arus zaman. Demikianlah tugas seorang nabi, yakni mampu dengan pandangannya membawa orang melewati zaman meski itu tampak bodoh bagi manusia pada zamannya.
“Bersaksi Tentang Terang: Dari Segala Penjuru Bagi Setiap Orang” merupakan sebuah panggilan untuk dunia dan kita untuk menyalakan rahmat Allah dan membawa terang keselamatannya kepada hati setiap orang demi pertumbuhan Gereja pada zaman kita dan masa yang akan datang.
Vivat Deus Unus et Trinus in cordibus nostris, et vivat Cor Iesu in cordibus hominum! *
Penulis: Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD
Editor: Hiro/KomsosKD



