LINTAS PAROKILINTAS PERISTIWA

JOMK Dekenat NTB

Daya Tahan OMK Luar Biasa, Sepanjang Hari Padat Materi

SUMBAWA – Daya Tahan OMK Dekenat NTB luar biasa dan layak diacungi jempol. Semangatnya tidak pernah kendor sepanjang hari.

Mereka cukup bertahan duduk bersila beralaskan karpet sambil mendengar materi-materi yang disampaikan para narasumber dari pagi hingga malam, Rabu (25/6).

Materi-materi pembinaan dalam Jumpa Orang Muda Katolik (JOMK) Dekenat NTB, memang dipadatkan pada hari kedua. Beberapa narasumber dihadirkan untuk menyampaikan materi sesuai bidang dan kapasitasnya.

Sebelum mendengarkan berbagai pencerahan dari para narasumber, peserta mengawalinya dengan menimba kekuatan Tuhan dalam misa pagi jam 06.00 di Gereja Sang Penebus Sumbawa Besar.

Dengan duduk bersila, para peserta tekun mendengarkan berbagai materi pembinaan

Tepat pukul 08.00 para peserta sudah duduk bersila di aula paroki Sumbawa Besar sebagai pusat kegiatan yang berlangsung 4 hari, 24-27 Juni 2025. Mereka memulainya dengan games-games menarik sebagai pemanasan dan juga sebagai penyemangat dalam mengikuti sesi sepanjang hari.

Jangan Diam Atas Situasi Dunia

Dimulai dengan materi ‘Bulla Spes Non Confundit’ yang dibawakan oleh Vikjen/Direktur Puspas Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.

Istilah dalam Bahasa Latin tersebut sejatinya merupakan pesan Paus Fransiskus dalam menyambut Tahun Yubileum 2025 yang artinya ‘Harapan Tidak Mengecewakan.’ Romo Babey, mengambil intisari dari pesan Paus itu dalam konteks Orang Muda Katolik.

Saat Romo Babey berdialog tentang situasi dunia dan OMK dengan sebagian perwakilan kelompok dari 16 kelompok yang ada

Namun, sebelum memaparkan secara mendalam tentang ‘Bulla Spes Non Confundit’ Vikjen terlebih dahulu mengajak setiap Ketua Kelompok untuk berdialog tentang tanggapan dan harapan mereka atas beberapa persoalan, baik itu persoalan yang menimpa dunia, persoalan sosial yang lagi aktual, tentang kehidupan menggereja, hingga persoalan seputar kehidupan OMK.

Tanggapan mereka atas pertanyaan Rm. Babey, cukup beragam dan menarik. Ketika ditanyakan tentang reaksi orang muda terkait perang yang melanda Israel vs Iran saat ini, ada yang jawab sedih, perihatin dan ada juga yang jawab biasa saja karena tidak pengaruh terhadap dirinya.

RD. Herman Yoseph Babey, saat memaparkan materi di hadapan peserta

Pertanyaan lain misalnya, apakah mereka pernah bertanya kepada teman OMK yang tidak aktif, tentang alasannya. Secara jujur mereka menjawab pernah bertanya dan mengajak mereka untuk terlibat karena banyak hal positif yang akan didapatkan, bahkan juga mengajak ke gereja bersama.

Masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Sebagai informasi, peserta JOMK yang berjumlah sekitar 150 orang (tidak termasuk panitia), dibagi menjadi 16 kelompok dari awal kegiatan. Sebab dalam sesi atau games tertentu mewajibkan mereka melakukannya dalam kelompok.

Setelah mengajak dialog peserta, Romo Babey, kemudian menegaskan bahwa zaman ini, banyak orang hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli orang lain maupun situasi sekitarnya apalagi situasi dunia.

Dalam paparan materinya, Romo Babey, menegaskan bahwa kondisi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Paus Fransiskus, demikian Romo Babey, mengharapakan orang Katolik termasuk OMK untuk tidak diam terhadap penderitaan orang lain maupun situasi dunia.

Giat hari kedua berpuncak pada upacara api unggun dan renungan malam

“Dunia saat ini sedang mengalami situasi kelam, akibat dari dampak pandemi global covid 19, perang dan kekerasan global, krisis lingkungan dan kerusakan bumi. Kita harus bergerak dan jangan diam atas kondisi ini,” kata Romo Babey.

Kondisi Orang Muda Katolik juga, kata Vikjen, dalam situasi kelam. Terjadi krisis identitas dan jati diri, tekanan sosial dan kecanduan medsos, kesehatan mental dan emosional yang labil, kehampaan rohani dan krisis iman, permasalah relasi dan seksualitas, bingung akan masa depan dan kemandirian, sikap apatis dan minim kepedulian sosial, terlalu sibuk tapi merasa kosong, digitalisai tanpa kedalaman relasi. “Ini dialami sebagai besar orang muda,” katanya.

Rm. Babey lantas menyampaikan Pesan Paus Fransiskus “Jangan biarkan dirimu dirampas oleh ketakutan. Sebab, di tengah banyak tanda ketakutan, kegelisahan, dan kehilangan arah, harapan adalah karunia yang paling dibutuhkan.”

Dalam Bulla Spes Non Confundit, Paus Fransiskus juga mengingatkan “Kita semua mengalami betapa rapuhnya hidup ini. Kita butuh harapan yang tidak bisa dikalahkan oleh virus dan persoalan lainnya.”

Paus Fransiskus, lanjut Rm. Babey, mengajak umat Katolik, khususnya kaum muda, menjadi saksi harapan yang hidup. “Harapan sebagai jalan hidup orang muda,” kata Paus Fransiskus. Sebab harapan sejati lahir dari iman akan Kristus dan harapan tidak menghindari penderitaan tapi menyalakan makna di tengahnya.

Oleh sebab itu, hidup orang muda menjadi terang pengharapan jika menyambut Yesus sebagai sahabat sejati, terlibat dalam pelayanan dan solidaritas serta hidup dengan semangat kerahiman dan keadilan sosial. “Orang muda dipanggil menjadi pembangun harapan. Jangan puas menjadi penonton,” ini kata Paus Fransiskus.

Lalu di bagian akhir, Romo Babey, mengajak orang muda bahwa tahun suci Yubileum 2025 adalah undangan bagi semua termasuk OMK untuk menjadi peziarah harapan.

Setelah Romo Babey, secara marathon peserta mendapat masukan materi dari narasumber berikutnya, antara lain RD. Martinus Emanuel Ano, Ibu Veronica Adesla, M.Psi, Psikolog, Pasutri Ukky-Enny dan 3 orang suster.

Hari kedua JOMK berpuncak dengan upacara api unggun dan renungan malam yang dibawakan Fr. Rio, di halaman Gereja Sang Penebus Sumbawa Besar. Dalam upacara ini selruh peserta dan panitia berdiri membuat lingkaran besar mengelilingi api unggun yang berada di tengah.*

Hironimus Adi

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button