
SUMBAWA – Setelah resmi dibuka dalam Gereja Sang Penebus Sumbawa Besar, Selasa (24/6), seluruh peserta JOMK Dekenat NTB, diarahkan menuju aula paroki yang menjadi pusat kegiatan.
Dalam pertemuan selanjutnya peserta mengikuti talk show yang berbicara tentang militansi Orang Muda Katolik (OMK).
Namun sebelum masuk sesi talk show, didahului dengan ice breaking yang dipandu oleh Atanasius Rato, dari Tim Kerja Komkep Keuskupan Denpasar. Selanjutnya pengumuman pemenang lomba membuat jargon ‘Gemas’ (generasi militant aku siap) dalam bentuk video, yang dibacakan Ketua dan Sekretaris Komkep, RD. Rony Alfridus Bere Lelo dan Hironimus Adil. Juri adalah Tim Komkep dan pemenangnya adalah Paroki Bima sebagai juara favorit, dan juara umum adalah Paroki Mataram.
Setelah dua acara ringan ini, lanjut masuk dalam sesi talk show dengan menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Mgr. Silvester San (Uskup Denpasar), RD. Frans Kristi Adi Prasetya (Sekretaris Eksekutif Komkep KWI) dan Ketua Komkep Keuskupan Denpasar RD. Rony Alfridus Bere Lelo. Sebagai presenter adalah Merry Rossary, Tim Komkep Keuskupan Denpasar.

Siapa sih OMK itu? Merry Rosari mengawali talk show dengan mengajukan pertanyaan ini kepada Rm. Kristi Adi. Menurut Rm. Kristi, berdasarkan undang-undang RI, kaum muda itu adalah mereka yang telah berusia 16-30 tahun dan belum menikah.
Sedangkan menurut Buku Pedoman Orang Muda Katolik yang pernah diterbitkan oleh Komisi Kepemudaan KWI, Orang Muda Katolik adalah mereka yang berusia 13-35 tahun, masih lajang (belum menikah) dan sudah dibaptis secara Katolik. Namun batasan usia ini tidak mutlak berlaku di semua keuskupan, karena masing-masing keuskupan bisa merumuskan sendiri batas usia OMK sesuai konteks keuskupannya.

Bergeser pertanyaan kepada Rm. Rony selaku Ketua Komkep Keuskupan Denpasar, tentang tugas-tugas OMK di Paroki, apakah hanya sebagai penjaga parkir?
Romo Rony secara lugas menjawab, bahwa OMK itu bagian dari anggota KBG, Lingkungan dan Paroki. Wajib bagi setiap OMK untuk berpartisipasi aktif dalam setiap tugas yang diberikan. OMK tidak boleh melepaskan diri dari KBG dan Lingkungan.
Menjadi tugas OMK juga adalah melaksanakan tri tugas Yesus yaitu sebagai Nabi, Imam dan Raja serta lima tugas Gereja, yaitu liturgia (peribadatan), kerygma (pewartaan), koinonia (perseketuan), diakonia (pelayanan) dan martirya (kesaksian).

Kemudian Merry menggali tanggapan Bapak Uskup melihat semangat OMK NTB yang ikut dalam JOMK ini. Bapak Uskup, mengatakan sangat gembira melihat semangat OMK dan seharusnya memang OMK harus bersemangat.
Kegiatan JOMK tingkat Keuskupan Denpasar, kata Bapak Uskup, sudah dilaksanakan jauh sebelum adanya Asian Youth Day atau Indonesian Youth Day. Demikian pula komunitas OMK sudah ada jauh sebelumnya, dulu dengan nama Mudika.
JOMK atau IYD, AYD, menurut Mgr. San, memang lebih sebuah gebyar untuk menyemangati orang muda agar terus bergairah dalam kehidupan menggereja, namun yang terpenting adalah semangat dalam JOMK itu tidak padam dengan selesainya kegiatan, justru semangat itu harus terus bertumbuh dan berkembang di paroki masing-masing.
Militan
Kepada Bapak Uskup juga ditanyakan tentang militansi OMK. Menurut Bapak Uskup, militant itu lebih kepada sikap yang teguh, kokoh, kuat dalam iman Katolik, termasuk prinsip hidup OMK.
Iman dan kepribadian yang militant, menurut Bapak Uskup, harus menjadi jati diri OMK, sehingga tidak mudah terombang ambing dan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. “Jadi semangat militansi itu penting, tidak seperti generasi stroberi,” tegas Bapak Uskup.
Mengenai bentuk atau wujud dari militansi iman OMK, menurut Ketua Komkep Rm. Rony, pertama-tama harus bangga sebagai orang Katolik dan jadikan Yesus sebagai roll model. Maka berdoa, ikut Ekaristi, rajin dalam pelayanan dan menjadi Saksi Kristus di tengah dunia melalui sikap, tindakan, tutur kata dan prilaku yang baik merupakan bentuk militansi iman yang nyata.

Sementara Rm. Kristi, menjelaskan bahwa militansi itu persis sama seperti yang diungkapkan Bapak Uskup. Militansi katanya, bisa juga diartikan punya semangat tinggi, penuh gairah dan berhaluan keras. Berhaluan keras di sini, dalam arti positif yaitu lebih pada panggilan kekudusan.
Panggilan kekudusan itu, menurut Rm. Kristi, bukan monopoli kaum klerus dan biarawan-biarawati, tetapi semua orang beriman. Panggilan kepada kekudusan itu adalah panggilan untuk kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya menolong orang yang menderita, atau menuntun orang lain menyeberangi jalan, atau mendengarkan teman-teman yang mau curhat, dan sebagainya.
Bapak Uskup menambahkan bahwa jalan kekudusan itu seperti disabdakan Yesus sendiri: hendaklah kamu sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya. “Inilah jalan kekudusan, supaya sempurna maka berbuatlah hal-hal baik mulai dari hal kecil yang bia kita lakukan,” ungkap Bapak Uskup.
Jatuh Cintalah Sesama OMK
Berbicara tentang realitas OMK yang disinyalir imannya mudah goyah, karena satu sisi ingin mempertahankan iman, di sisi lain ada kebutuhan yang harus dipenuhi termasuk mengejar kebahagiaan dan hidup sukses.
Menurut Bapak Uskup hidup ini adalah pilihan, mau pilih orang baik atau orang tidak baik. OMK harus memegang prinsip kebaikan. Memang ada tantangan dalam kehidupan tetapi manusia itu tidak hidup dari roti atau ekonomi saja, tetapi dari segala hal termasuk kehidupan rohani.
“Uang dan kesuksesan duniawi itu penting, tapi jangan lupa kehidupan iman juga lebih penting sebagai jaminan hati tentram dan kebahagian di akhirat nanti,” ungkapnya.

Terkait mempertahankan iman, terutama saat jatuh cinta, OMK bisa meninggalkan iman Katolik demi cinta. Menurut Bapak Uskup, kenapa harus jauh-jauh, jatuh cintalah sesama OMK yang ada di sini. Secara implisit, memilih jodoh seiman juga sebagai bentuk militansi iman orang muda Katolik.
Harapan yang sama juga diungkapkan Rm. Kristi dalam sambutan di acara pembukaan, agar dalam perjumpaan ini OMK harus berani, termasuk berani jatuh cinta sesama OMK.
Talk show ini memantik banyak pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Sejumlah peserta memberikan pertanyaan sesuai realitas yang mereka hadapi, baik ditujukan kepada Rm. Kristi, Rm. Rony maupun kepada Bapak Uskup. *
Hironimus Adil



