LINTAS PERISTIWA

PERAYAAN SYUKUR PERAK IMAMAT KEMBAR ROMO KLEMENS BERE DAN ROMO IGNATIUS I GEDE ADIAMIKA SUSILA

Kamis, 1 Agustus 2024 merupakan hari terindah bagi romo Klemens Bere dan romo Ignatius I Gede Adiamika Susila. Ribuan umat umat paroki Sang Penebus Sumbawa Besar bersama belasan imam, frater, suster dan utusan umat dari paroki lain yang hadir dalam perayaan Ekaristi Perak Imamat romo Klemens Bere dan romo Ignatius I Gede Adiamika Susila. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Denpasar, Mgr.Dr.Silvester San.

Umat paroki Sang Penebus Sumbawa Besar sangat bersyukur dan antusias merayakan 25 tahun Imamat romo Klemens dan romo Gede mengingat selama seperempat abad, kedua romo tersebut telah mengabdikan dirinya untuk melayani umat Allah dengan cinta dan ketulusan sebagai gembala umat yang setia serta menjadi teladan iman bagi umat.

Mengawali perayaan Ekaristi Mgr. San mengatakan hari ini kita  bersyukur kepada Allah karena kedua Yubilaris, romo Klemens dan romo Gede bertahan dalam imamat selama 25 tahun. Kiranya Tuhan memberikan berkat kepada mereka sehingga mereka tetap setia dan semangat dalam melayani Tuhan dan umat-Nya.

Pemberian yang Iklas

Mgr. San menekankan bahwa Injil yang diwartakan dalam perayaan Syukur ini mengajarkan tentang pemberian yang iklas dan bukan seperti istilah latin yang mengatakan ”do ut des” yang berarti aku memberi supaya aku diberi. Pemberian yang iklas itu sama seperti pemberian dari seorang janda miskin yang ada dalam bacaan Injil hari ini, yakni memberi dari kekurangannya.

Dua Yubilaris kita bersama Uskup Denpasar, Mgr. San

Karena itu, sebagai ilustrasi di awal khotah, Mgr. San menghadirkan kisah tentang seorang pastor yang hampir merayakan perak imamat. Pastor itu berceritera bahwa pada suatu saat dalam perjalanannya di Jakarta, dia naik bus dan bertemu dengan seorang anak kecil yang menggenggam uang receh kurang lebih 500 rupiah. Ia mengira anak kecil itu seorang pengemis dan tak perlu dihiraukan. Pastor itu juga melihat seorang gelandangan di depannya. Namun ia tak menghiraukan dan mengalihkan pandangannya. Tetapi Ketika ia melihat anak kecil yang hanya punya uang receh 500 rupiah itu, semuanya diberikan kepada gelandangan miskin tak berdaya.  Menyaksikan sikap anak kecil itu, pastor tadi merasa seperti ditampar oleh anak kecil itu, mengingat setiap hari ia berkhotbah agar  umatnya memberi dengan tulus, namun dalam praktek hidup, dia tidak melaksanakannya.

Antusias umat menghadiri perayaan syukur 25 tahun imamat

Mgr. San menjelaskan bahwa dalam kehidupan nyata, janda selalu bernasib kurang baik. Apalagi janda kembang. Orang Yahudi selalu bersikap  kejam dengan janda, bahkan merampok harta milik janda. Namun Yesus dalam injil-Nya, mengkritik sikap orang Yahudi dan memuji sikap janda yang memberi dengan tulus hati. Pemberian yang berarti itu tidak dinilai dari  banyak atau sedikitnya melainkan memberi dengan tulus dan penuh pengorbanan sampai kita sendiri merasa sakit karena memberi. Kedua Yubilaris telah memberi dirinya untuk melayani umat selama 25 tahun. Karena itu kita berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberkati mereka sehingga keduanya dapat memberikan pelayanan  yang lebih baik  seperti pelayanan Yesus kepada umat  ke depannya.

Pesta Umat

 Seusai perayaan Ekaristi, umat  langsung diarahkan menuju tenda pesta umat di halaman depan gereja paroki Sang Penebus Sumbawa besar. Sebuah tenda besar danpanggung yang dihias dengan baik dengan latar belakang bedrock bertulisan Perayaan Syukur dan dua  foto sang Yubilaris  Romo Klemens Bere dan Romo Gede tampil dengan senyuman manis menyambut ramah semua undangan yang datang ke pesta umat. Hiasan panggung yang mengkilap diterpa kemilau lampu warna-warni menambah semarak pesta umat dalam mengayu-bahagiakan romo Klemens dan romo Gede yang mereka cintai.

Romo Damianus Yoga selaku Ketua Panitia Perayaan Syukut 25 tahun Imamat Romo Klemens dan Romo Gede mengatakan kita patut bersyukur atas kesetiaan romo Klemens dan romo selama 25 tahun hidupsebagai seorang gembala umat. Romo Klemens sudah 14 tahun melayani umat paroki Sang Penebus Sumbawa Besar. Romo Gede sudah lebih lama yakni 20 tahun dengan tekun setia dan cinta dalam melayani umat di Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar. Tak lupa romo Yoga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya perayaan syukur ini dan memohon maaf bila ada kekurangan. Selanjutnya romo Yoga mengajak umat dan seluruh undangan masuk dalam pesta umat dengan sukacita.

Acara dilanjutkan dengan sapaan kasih dari kedua Yubilaris. Romo Klemens Bere mengawali sapaan kasihnya dengan mengucapkan limpah terimakasih kepada semua pihak mulai dari Bapak Uskup, para Imam, Frater, Suster dan semuat umat yang hadir, juga kepada undangan baik dari pejabat pemerintahan maupun tokoh agama, juga aparat keamanan. Kehadiran semua undangan bagi romo Klemens sebagai bentuk dukungan dan kasih sayang kepada mereka berdua yang merayakan perak imamat.

Romo Klemen Bere mengutip jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus kepada-Nya, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau, jadi apakah  yang kami peroleh?”. Yesus menjawab kepada Petrus,”…akan menerima kembali 100 kali lipat, dan akan memperoleh hidup yang kekal”(Luk.19:29).  Nas itu dikutip oleh romo Klemes karena menurut romo Klemens ia telah meninggalkan keluarga kecilnya untuk menjadi imam dan ia mendapat beribu-ribu kali lipat keluarganya yang baru sebagaimana yang ia alami di paroki Sang Penebus Sumbawa Besar. Karena itu seperti motto Imamatnya dalam Mzm 89:2, ia hendak menyayikan kasih Tuhan dalam seluruh hidupnya.

Romo Gede dalam sapaan kasihnya, mengucapkan limpah terima kasih kepada bapak Uskup, para Imam, bapak Bupati dan semua undangan serta umat atas dukungan dan kasih yang boleh mereka terima dalam perayaan perak imamat  bersama romo Klemens. Ia merasa sangat bersyukur walau pun kesehatannya belum pulih karena masih dalam perawatan dokter dan harus berdiri di depan panggung tanpa bisa melihat seluruh undangan yang hadir. Keadaan dirinya yang belum sehat itu, tidak mengurangi rasa syukurnya, sesuai  motto tahbisan yang ia refleksikan dari peristiwa hidupnya dan dari kisah Ayub 39:37 “Sesungguhnya aku ini terlalu hina”. Sedikit ungkapan hati romo Gede  namun sangat menggugah dan mengharukan, karena romo Gede telah berbuat begitu banyak untuk umat Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar.

Dalam sapaan kasihnya, Mgr. San mengatakan hari ini kita semua pantas bersyukur kepada Allah karena kita merayakan “perak kembar” romo Klemens dan romo Gede yang ditahbiskan secara bersama 25 tahun yang lalu dan 25 tahun kemudian tepatnya hari ini tanggal 1 Agustus 2024, mereka berdua merayakan bersama pada tempat kerja yang sama pula, yakni di paroki Sang Penebus Sumbawa Besar.

“Kita bersyukur kepada Allah atas berkat-Nya bagi kedua Yubilaris. Tentu perak imamat ini tidak diraih dengan mudah, namun dengan ketekunan dan penuh suka-duka, jenuh, kesepian dan bahkan kecewa atas kegagalan dalam tugas yang menimbulkan cibiran. Namun Mgr. San mengingatkan bahwa seorang imam melayani bukan untuk mencari pujian. Seorang imam harus bersikap rendah hati, karena kerendahan hati meripakan ibu dari segala keutamaan. Selain itu seorang imam harus memiliki hidup doa yang teratur”, nasihat Uskup Denpasar.

Semoga kedua Yubilaris dapat menghayati pesan bapak Uskup Denpasar untuk bisa menjadi imam yang melayani dan memberi dengan iklas dalam seluruh karya pelayanannya.

Selanjutnya pemotongan tumpeng dan kue tar yang diserahkan oleh kedua Yubilaris kepada bapak Uskup Denpasar dan kepada Bapak Bupati Sumbawa. Sesudah itu Bupati Sumbawa diberi kesempatan untuk memberikan ucapan selamat bagi kedua Yubilaris, romo Klemens dan Romo Gede. “Selaku Bupati Sumbawa dan atas nama Masyarakat Kabupaten Sumbawa saya mengucapkan selamat untuk kedua romo yang telah menjalankan tugas selama 25 tahun termasuk tugas pelayanan umat dan masyarakat di tanah samawa dalam menciptakan kehidupan rukun dan damai. Terima kasih banyak” ucapnya.

Pesta umat berlanjut dengan ungkapan kebersamaan dan sukacita terpimpin melalui pertunjukan seni tari, vocal group, drama singkat serta tariam komunitas yang melibatkan semua unsur umat dari dunia Pendidikan mulai jenjang TK-PG, SD, SMP, SMA,  Alumni 79 SMP Diponegoro, OMK, SEKAMI, Panti Asuhan Tritunggal, Lingkungan, Stasi, dan Paroki. Semuanya tampil dengan sukacita dalam semangat persaudaraan guna mengayu-bahagiakan sang gembala yang merayakan perak imamat. *** Blasius Naya Manuk (Redaktur Agape).

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button