PUSAT PASTORAL

Rasul Penggerak PSE Keuskupan Denpasar Bertemu di Kuta-Bali

KUTA – Para Rasul Penggerak Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dari paroki-paroki se-Keuskupan Denpasar, mulai Paroki Bima di ujung timur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga paroki Negara di barat pulau Bali, hadir dalam acara ‘Temu Rasul Penggerak PSE’ di Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Komisi PSE Keuskupan Denpasar ini berlangsung selama dua hari, Jumat – Sabtu, 30 – 31 Januari 2026.

Kegiatan ini, menurut Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro, bertujuan untuk menyegarkan kembali dimensi Gerakan PSE sekaligus evaluasi gerakan PSE selama ini. Hal ini dikatakan Ketua PSE dalam sapaannya dalam acara pembukaan.

Ketua PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro

Romo Venus, demikian Ketua Komisi PSE biasa disapa, mengapresiasi peserta yang berani meninggalkan pekerjaan atau rutinitasnya untuk hadir dalam acara Temu Rasul PSE ini.

Temu Rasul PSE di awal tahun 2026 ini, dibuka secara resmi oleh Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.

Sebelum membuka kegiatan, Vikjen menyampaikan sambutan. Vikjen menekankan bahwa Rasul PSE terpanggil sebagai bagian dari penggerak ekonomi umat.

Rasul PSE, lanjut Rm. Babey, merupakan Rasul Awam yang bergerak keluar sebagai tuntutan ilahi melalui Sakramen Baptis yang diterimanya untuk menjalankan Tri Tugas Kristus: Imam (menguduskan), Nabi (mengajar) dan Raja (memimpin).

RD. Herman Yoseph Babey, Vikjen Keuskupan Denpasar

Menurut Rm. Babey, ada tiga kata kunci terkait pertemuan ini yaitu Rasul, Penggerak dan Pengembangan Sosial Ekonomi. Artinya, setiap Rasul PSE dipanggil untuk menjadi penggerak pemberdayaan sosial ekonomi.

Vikjen juga menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan ini dengan materi tentang Laudato Si dan Laudate Deum untuk Merawat Rumah (Bumi) Bersama.

Dalam paparan materinya Rm. Babey menegaskan bahwa Bumi adalah rumah kita bersama yang dititipkan dari Allah untuk dipelihara, bukan untuk dirusak.

“Dalam Mandat Penciptaan, Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk menjaga dan merawat taman (alam) yang mereka huni,” tegasnya. Dengan demikian, maka ketika terjadi krisis ekologi, itu sama dengan krisis iman.

Krisis lingkungan saat ini, demkian Rm. Babey, sangat memprihatinkan dan menjadi masalah serius. Seperti yang disabdakan dalam Kitab Suci “Sekarang semua makhluk sama-sama mengeluh (bdk. Roma 8:22).

Kerusakan alam itu, lanjut Direktur Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Denpasar ini, akar masalahnya adalah keserakahan dan gaya hidup konsumtif, dan yang mengalami dampak paling berat adalah dirasakan kaum miskin.

Ensiklik ‘Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, terang Rm. Babey, intinya mengajak umat manusia seluruh dunia (bukan hanya umat Katolik) untuk sama-sama menjaga dan merawat bumi yang kondisinya sudah memprihatinkan.

Lalu diikuti Ensiklik berikutnya yaitu ‘Laudato Deum’ yang mendorong umat manusia untuk bergerak cepat merawat bumi, bukan menunggu. Hal ini dikarenakan dunia terlalu lamban merespons krisis ekologi dan krisis iklim umumnya.

Terhadap respons yang lamban terhadap krisis ekologi, salah satu yang harus dilakukan adalah ‘Pertobatan Ekologis,’ antara lain diwujudkan melalui perubahan cara hidup, mengubah mentalitas dari menguasai menjadi merawat lingkungan, doa yang terwujud dalam aksi nyata dan dari sikap individualisme menjadi solidaritas.

Rm. Babey, kemudian mengajak para Rasul PSE, untuk sungguh-sungguh berperan menggerakan PSE dengan menjadi Rasul Harapan bagi umat. “PSE adalah tanda kehadiran Allah yang memulihkan,” imbuh Vikjen.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta dari Paroki Bima, Ardi, menanyakan langkah kongkret apa yang harus dilakukan para penggerak PSE dalam memulihkan kerusakan lingkungan khusunya di NTB.

Ardi, dari paroki Bima saat menyampaikan pertanyaan tentang upaya penyelamtan lingkungan di NTB

Pertanyaan ini, diberikan kepada salah seorang Tim PSE yang berkarya di Dekenat NTB RD. Agustinus Wayan Yulianto. Menurut Romo Wayan, jagung merupakan komoditas unggulan, sehingga banyak orang berlomba menanam jagung. Namun, untuk menanam jagung itu, hutan dikorbankan sehingga banyak hutan yang gundul. Ini situasi di NTB khususnya di palau Sumbawa sekarang.

“Lalu kita bisa buat apa,” tanya Rm. Wayan retoris. Menurut Rm. Wayan, harus mulai dari kesadaran umat Katolik sendiri dulu, misalnya menciptakan hutan paroki, atau melakukan penghijauan di lahan gereja atau lahan umat yang ada. “Ketika ada hasil baru kita bergerak bersama dan menyadarkan yang lainnya,” imbuhnya.

Narasumber kedua pada hari pertama ini adalah Ketua PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro, dengan materi Renstra PSE KWI 2026-2028, dengan bertumpu pada tiga gerakan utama yakni Aksi Puasa Pembangunan (APP), Hari Pangan Sedunia (HPS) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebagai gerakan pembersayaan sosial ekonomi.

Peserta lainnya aktif bertanya

Menurut Rm. Evensius, sesuai Renstra PSE KWI 2026-2028, memprioritaskan pada ‘Mewujudkan Gerekan Sosial Ekonomi Berkeadilan Ekologis.’

“Kata kuncinya adalah gerakan, berarti bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Ini menyentuh solidaritas dan subsidiaritas. Juga adil, baik untuk kita sekaramg maupun untuk generasi akan datang, untuk semua orang, baik tua dan muda,” kata Rm. Evensius.

Aksi peserta saat sesi perkenalan

Arah yang dituju, lanjut Ketua PSE, adalah pemberdayaan ekonomi dengan memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan, dan ini diperhatikan mulai dari tingkat nasional (KWI), Keuskupan dan Paroki-paroki.

“Dalam tiga tahun ini kita memaksimalkan untuk kesejahteraan ekonomi, tidak hanya untuk saat ini tetapi berkelanjutan. Dan melalui solidaritas antara manusia dan dengan alam akan membuat kehidupan kita dapat bertahan lama atau berjangka panjang,” ungkapnya. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button