Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik di Paroki Sumbawa
Dihadiri Sekitar 500 Umat dan Diajak Berakar, Terbuka, dan Berani Bersaksi

SUMBAWA BESAR – Guna memperkuat pemahaman umat di tengah kemajemukan, Paroki Sumbawa menggelar seminar bertajuk “Mempertanggungjawabkan Iman Katolik” pada Selasa (18/08/2026). Seminar ini bekerjasama dan merupakan salah sagtu program Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar.
Seminar dimulai pukul 17.00 WITA. Sekitar 500 umat mengikuti acara yang menghadirkan Romo Patris Allegro sebagai narasumber utama.
Diawali dengan ice breaking oleh Kustati selaku Sekretaris Komisi Kitab Suci dan doa pembuka yang dipimpin oleh RD. Damianus Hyoga Gustav Langi. Lanjut dengan sapaan kasih Pastor Paroki Sumbawa RD. Laurensius Maryono. Romo Maryono mengatakan ada berbagai pertanyaan kritis yang kerap dihadapi umat Katolik di Sumbawa dari masyarakat sekitar, seperti konsep Tritunggal, penghormatan kepada Bunda Maria, hingga aturan perkawinan Gereja.

Mengutip 1 Petrus 3:15, Romo Maryono menegaskan pentingnya kesiapan umat dalam mempertanggung jawabkan iman. “Tujuan seminar ini adalah agar umat makin memahami iman, menghidupinya, lalu mampu mempertanggungjawabkannya dengan baik,” tegasnya.
Dari Iman Pasif Menuju Iman Aktif
Dipandu oleh Romo Maxi Soge (Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar) selaku moderator, Romo Patris Allegro mengajak umat bertransisi dari “iman pasif” (warisan keluarga) menuju “iman aktif” yang sungguh-sungguh memahami ajaran Gereja. Merujuk pada Kisah Para Rasul 2:42, Romo Patris membedah empat pilar kehidupan Katolik: pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti (Ekaristi), dan doa.

“Ekaristi adalah jantung Gereja. Devosi apa pun yang kita lakukan harus dilandasi dengan puncak Ekaristi,” jelas Romo Patris.
Ia juga mengingatkan pentingnya keteladanan iman di dalam keluarga serta mengimbau umat agar tidak mudah goyah oleh hoaks di media sosial. “Akar iman yang dalam tidak akan takut pada angin informasi,” tambahnya.
Komitmen 3M
Antusiasme umat terlihat nyata pada sesi diskusi yang membahas beragam tema teologis dan pastoral, mulai dari Kitab Suci, purgatorium, hingga perkawinan beda agama. Menanggapi dinamika tersebut, Romo Patris menegaskan bahwa Gereja Katolik memiliki otoritas ajaran yang mengikat dan jelas.

Menarik kesimpulan dari diskusi tersebut, Romo Maxi berharap acara ini mampu menumbuhkan kebanggaan, keyakinan, dan kecintaan umat sebagai orang Katolik.
Sebagai penutup, Romo Laurensius Maryono merangkum komitmen umat pasca-seminar ini ke dalam prinsip 3M:
Memahami iman yang dianut, Menghidupi iman tersebut dalam keseharian, dan Mempertanggungjawabkan iman di tengah masyarakat.

Tingginya antusiasme membuat umat berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar di masa mendatang. Seminar pembinaan iman ini kemudian ditutup dengan doa oleh Romo Hyoga dan sesi foto bersama. *
Penulis: Made Suryani-Komsos Paroki Sumbawa
Editor: Hiro/KomsosKD



