RD. Hubert Hady Setyawan Rayakan Panca Windu Imamat

TUKA – Rektor Seminari Menengah Roh Kudus Tuka, RD. Hubert Hady Setiawan, memasuki 40 tahun menjadi imam Tuhan. Perayaan panca windu bernuansa sederhana berlangsung di lapangan basket Seminari Menengah Roh Kudus Tuka, Sabtu (15/8/2026) pekan lalu.
Perayaan diawali dengan misa meriah mulai pukul 17.00 wita, dipimpin Gembala Keuskupan Denpasar Mgr. DR. Silvester San. Barisan para imam konselebrasi yang mendampingi Bapak Uskup, selain Yubilaris Rm. Hady, juga ada Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, Sekretaris Uskup RD. Agustinus Sugiyarto dan sejumlah imam lainnya serta Diakon yang akan segera ditahbiskan menjadi imam.
Di bangku-bangku umat tampak hadir para biarawati dari berbagai kongregasi, Frater TOP, ratusan umat, undangan dan para donatur, serta panitia. Khusus anak-anak seminari, saat misa menempati kapela yang terletak di samping lapangan basket. Perayaan panca windu imam senior Keuskupan Denpasar ini, dimeriahkan oleh paduan suara Gregorian Pria, kolaborasi dengan para Seminaris Tuka.
Lapangan basket seminari, hari itu ditata sedemikian bagus, didirikan tenda ukuran besar dengan sentuhan dekorasi minimalis tapi indah, lengkap dengan altar persembahan misa sehingga perayaan berlangsung nyaman dan layak berlangsungnya misa suci
Perayaan Ekariti diawali dengan perarakan para petugas liturgi, Diakon, para Imam, Yubilaris dan Bapak Uskup, mulai dari pendopo Seminari Tuka, melewati dan memutar di samping kapela lalu memasuki altar yang telah disediakan di lapangan basket yang telah disulap menjadi ruangan misa dan perayaan syukur setelah misa. Umat yang hadir dengan kyusuk dan penuh khidmat mengikuti jalannya perayaan syukur itu.
Hari ulang tahun imamat Rm. Hady, 15 Agustus, selalu bertepatan dengan perayaan wajib dalam Gereja Katolik ‘Maria Diangkat Ke Surga.’ Hal ini juga diungkapkan Bapak Uskup Denpasar baik dalam pengantar misa dan didalami dalam homilinya.

“Dalam perayaan ini kita bersyukur kepada Tuhan atas 40 tahun imamat Rm. Hady, yang bertepatan dengan dengan pesta Maria diangkat ke Surga,” ungkap Bapak Uskup.
Dalam homilinya, Bapak Uskup menyingkap tentang Maria sebagai tokoh istimewa dalam Gereja, yang dipilih sebagai Bunda Allah dan dan kita semua. Bunda Maria, menurut Mgr. San, merupakan teladan syukur dan teladan iman karena mau menyerahkan hidupnya dalam tangan Tuhan.
Bapak Uskup mengawali homili itu dengan kisah seorang penyanyi putri yang mendapatkan penghargaan atas prestasinya mengikuti lomba nyanyi. Ketika banyak orang mengeliu-elukannya, sang anak mengatakan bahwa yang layak mendapatkan penghargaan itu sesungguhnya adalah bapaknya, karena sudah membimbing dan mendukungnya. Tanpa bimbingan dan dukungan sang bapak, penghargaan itu tidak ada.

Kisah penyanyi putri itu, mau menggambarkan tentang Maria yang dengan segenap hati memuliakan Bapa di Surga yang telah memilihnya menjadi Bunda Tuhan dan Allah Bapa juga yang mengangkatnya ke Surga.
“Maria dipermuliakan, tetapi yang kita agungkan adalah Tuhan Allah yang maha baik, karena Tuhanlah yang mengangkatnya. Perbuatan besar Allah terhadap Maria adalah mengandung dan melahirkan anak-Nya Yesus Kristus, dan Maria menanggapinya dengan sikap syukur dan sikap iman (percaya).
Lebih lanjut Bapak Uskup, menguraikan bertepatan dengan Pesta Maria diangkat ke Surga, Rm. Hady juga merayakan panca windu imamat. “Kita bersyukur atas rahmat Allah dan kelimpahan berkat-Nya kepada Romo Hady yang telah 40 tahun menjadi imam Tuhan,” ungkap Bapak Uskup.

Dikatakan Bapak Uskup, Tuhan memilih Romo Hady yang rapuh menjadi imamNya. Menanggapi rahmat Tuhan itu, lanjutnya, Rm. Hady memilih moto tahbisan ‘Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawaKu (Lukas 23:46). Moto ini mirip dengan penyerahan Maria yang taat pada kehendak Bapa di Surga. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:38).
Romo Hady, menyadari akan kerapuhannya sebagai manusia berdosa, karena itu dia menyerahkan ziarah hidup dan imamatnya ke dalam tangan Tuhan. Sangat disadari, lanjut Bapak Uskup, imamat adalah mulia dan luhur tapi dipercaya kepada manusia yang berdosa dan rapuh bukan kepada malaikat. “Rahmat imamat diberikan Tuhan kepada manusia berdosa, karena manusia akan lebih memahami umatnya yang sama-sama berdosa,” kata Mgr. San.
Usai homili, perayaan dilanjutkan dengan liturgi Ekaristi hingga ritus penutup. Dalam ritus penutup, sebelum berkat perutusan didahului oleh sapaan kasih dari Ketua Panitia, Yubilaris dan Bapak Uskup.
Ketua Panitia perayaan panca windu imamat Rm. Hady, Yosep Yulius ‘Yusdi’ Diaz, dalam sapaan kasihnya, mengungkapkan rasa sukacita atau syukur yang berlangsung hari itu.

“Kita bersukacita atas Pesta Maria diangkat ke Surga dan panca windu imam kita Romo Hady Setiawan. Acara syukuran ini sangat sederhana, itu atas arahan yubilaris sendiri dan sebagai panitia kami harus taat. Di hari bahagia ini semoga kita semua terinspirasi oleh moto imamat Rm. Hady, agar menyerahkan seluruh hidup dan karya kita ke dalam tangan Tuhan. Juga seperti Maria yang selalu bersyukur dan penuh iman, percaya atas segalanya pada kehendak Tuhan,” kata Yusdi.
Yusdi, yang juga alumni Seminari Tuka itu berharap agar dapat bertemu lagi dengan Romo Hady dalam pesta emas imamatnya. “Semoga kita bertemu lagi dalam pesta emas,” katanya.
Sebagian Besar Pelayanannya di Seminari
Yubilaris RD. Hubert Hady Setiawan, dalam sapaanya mengungkapkan, pada awal-awal panggilannya kadang tumbuh, kadang hilang. Bahkan pernah ada dalam situasi rehat dan sempat bekerja di dunia professional sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan panggilannya menjadi imam disosesan Denpasar (bdk. Bku Kenangan 40 Tahun Imamat penuh Berkat).
Romo Hady, sungguh menyadari bahwa Tuhan senantiasa mengiringi tangannya dengan luar biasa dalam karya dan pelayanannya sehingga hari itu boleh merayakan 40 tahun imamatnya. “Tuhan selalu mengiringi tangan saya dengan luar biasa sehingga hari ini boleh merayakan 40 tahun imamat,” katanya.

Perjalanannya menjadi imam, dimulai sejak ditahbiskan di Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, pada 15 Agustus 1986 oleh Mgr. Vitalis Djebarus, SVD. Dalam Buku Kenangan ‘40 Tahun Imamat Penuh Berkat,’ Rm. Hady mengisahkan bahwa kedua orang tuanya yang kala itu masih memeluk Agama Budha-Konghucu bersama kerabatnya hadir dalam momen sakral itu. Masa kecil Rm. Hady sebelum mengimani Katolik pun masih mengikuti keyakinannya orang tuanya.
“Katika mulai bersekolah (sekolah Katolik) saya berjumpa dengan para biarawati SFS, FMM, Klaris dan Biarawan OFM. Wajah ceria dan gembira yang mereka pancarkan membuat saya tertegun. Perjumpaan dalam mengenyam Pendidikan saat itu membuat saya mengenal siapa itu Yesus Kristus,” tulisnya dalam buku itu.
Melihat penampilan mereka muncul tanya dalam hatinya, ‘Apakah aku ingin hidup seperti mereka? Namun pertanyaan yang sempat berkecamuk itu sempat hilang ditelan waktu, dan datang kembali ketika Rm. Hady mendalami iman kekatholikan.
Sejak kecil Rm. Hady bercita-cita menjadi dokter. Namun selepas SMP, ketika hendak berpamitan dengan Pastor Paroki, Pastor Cornelius Van der Laan, OFM, untuk melanjutkan SMA di Jakarta, pastor itu bertanya, “Apakah engkau pernah berpikir untuk menjadi imam?”
Singkat cerita, pertanyaan menantang itulah menjadi babak baru perjalanan panggilan Rm. Hady. Lewat proses yang tidak mudah dan melewati jalan cukup berliku, akhirnya ditahbiskan menjadi imam Diosesan Keuskupan Denpasar.
Dalam tempo 40 tahun menjadi imam, Rm. Hady Romo Hady, mendapatkan perutusan hanya dua tempat, yaitu untuk mendampingi dan melayani anak-anak Seminar selama 17 tahun (pertama). Kemudian dikaryakan di Paroki Fransiskus Xaverius Kuta, dan sethlah itu kembali ke Seminari Tuka kembali untuk kedua kalinya hingga saat ini. Romo Hady juga pernah diangkat sebagai Administrator Keuskupan Denpasar pasca meninggalnya Mgr. Vitalis Djebarus dan menjadi Vikjen di era Uskup Mgr. DR. Benyamin Yosef Bria (alm).
Dalam sambutan puncak, Bapak Uskup kembali mangajak hadirin dan seluruh umat untuk memanjatkan syukur dan pujian kepada Tuhan atas kesetiaan-Nya menopang Rm. Hady selama 40 tahun menjadi imam. “Usia 40 tahun imamat bukan sekadar hitungan waktu tetapi bukti kesetiaan Allah pada Imam yang mewartakan Kristus dan Gereja-Nya,” imbuh Bapak Uskup.

Moto yang dipilih Rm. Hady, lanjut Bapak Uskup merupakan ungkapan imannya untuk menyerahkan hidup dan imamatnya pada kasih Allah dan menjadi kekuatannya dalam melayanani dan memuliakan Alah serta keselamatan umat. Romo Hady, kata Bapak Uskup, telah menunjukan teladan kesetiaan, ke manapun tugas yang dipercayakan Romo selalu siap diutus.
“Kita semua memgenal Rm. Hady, seorang yang baik dan murah hati, menaruh kepedulian yang besar terhadap sesama. Banyak yang tersentuh oleh pelayaananya. Injil sungguh dihidupinya dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki devoasi yang luar biasa kepada Kerahiman Ilahi,” urai Bapak Uskup.

“Sebagai Uskup Denpasar, saya memberikan apresiasi yang tinggi atas pengabdian yang telah dipersembahkan Romo Hady di Keuskupan Denpasar. Semoga keteladanan Romo Hady menjadi contoh bagi para imam dan calon imam dan kita semua,” pungkas Bapak Uskup.
Usai misa, acara dilanjutkan dengan resepsi dan ramah tamah. Band Seminari Tuka, memeriahkan acara ramah itu.
Proficiat untuk Romo Hubert Hady Setiawan! *
Hironimus Adil



