LINTAS PERISTIWA
Trending

Kisah-kisah Inspiratif Penggerak PSE se-Pulau Sumbawa

Alur proses jumpa penggerak PSE di pulau Sumbawa begitu dinamis, di mana peserta tidak hanya pasif mendengarkan pemaparan dari Tim PSE Keuskupan sebagai fasilitator tetapi mereka juga berbagi pengalaman yang menarik dan inspiratif, berangkat dari pengalaman mereka terkait karya dan Gerakan PSE di paroki masing-masing.

Yohanes Ade, dari paroki Sumbawa Besar membagi cerita mengenai pemanfaatan lahan tidur dengan menanam aneka jenis sayuran. Sebagai penggerak PSE mereka mengedukasi tentang menanam yang benar, monitoring dan marketing. “Paling sulit adalah memasarkan hasilnya,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Haidin dari Stasi Nggerukopa, Paroki Donggo. Dia mengaku pernah usaha jamur dan hasilnya lumayan bagus, namun tidak ada yang mau beli, apalagi masyarakat sekitarnya adalah mayoritas non Katolik yang menganggap hasil usaha jamur ini tidak halal karena dihasilkan orang Kristen. “Terpaksa kami bosan konsumsi sendiri itu jamur,” katanya.

Haidin juga mengungkapkan keprihatinannya tentang dampak kerusakan lingkungan akibat mengejar untung dari penanaman jagung. “Bagi kami di Donggo dan pulau Sumbawa umumnya, jagung sudah seperti emas kedua. Semua orang menanam jagung dengan cara membakar lahan dan menggunakan pupuk kimia. Dalam jangka pendek menguntungkan, tapi untuk berkelanjutan dan jangka panjang sangat merugikan,” katanya.

Para peserta yang membagi.kisah-kisah inspiratif papa Temu PSE se-Pulau Sumbawa

Dia menambahkan, dirinya saat ini sudah mulai menanam tanaman produktif jangka panjang seperti menanam durian atau tanaman jangka pendek seperti pisang yang tidak perlu merusak lingkungan dan tidak menggunakan pupuk kimia.

Sementara itu Sion dari Paroki Dompu, menceritakan bagaimana ilmu yang didapatkan dari PSE sangat bermanfaat baik untuk meningkatkan produktivitas pertanian, maupun menjaga agar alam tetap sehat dan terjaga. Salah satu produk yang sangat bermanfaat menurut Petani asal Stasi Nangakara, Paroki Dompu itu adalah Eco Enzyme (EE).

Sion bercerita, EE selain berfungsi merawat alam, juga meningkatkan produktivitas jika diaplikasikan secara benar sesuai aturan. Pelopor pembuatan EE di Nangakara itu, mengisahkan bahwa tahun lalu dia menanam kacang tanah dengan bibit 200 kg, hasilnya 1,3 ton kacang tanah siap jual. Kemudian tahun ini, dengan jumlah bibit yang sama, namun tanahnya selain disiram dengan pupuk kompos, juga disiram dengan campuran air dengan EE, hasilnya menjadi dua kali lipat yakni 2,6 ton, dengan harga jual kacang tanah pasca panen Rp. 13.000/kg.

Menurut Sion, secara teori campuran EE dengan air idealnya 1:300, tetapi dari pengalamannya, EE-nya bisa diberikan sedikit lebih banyak, hasilnya lebih bagus. Selain menyiramkan EE sebelum tanam, lalu saat tanaman berusia 15 hari dan 30 hari. Setelah itu tidak disiram EE lagi.

Berkat lain yang didapatkan Sion dari kecintaannya pada EE adalah diundang oleh komunitas lain untuk menjadi fasilitator pembuatan dan menjelaskan manfaat EE. Ini terjadi karena keseringan Sion memposting tentang EE di sosmed lalu ada komunitas yang tertarik dan mengundangnya sebagai narasumber.

Largus, juga dari Paroki Dompu, berkisah bahwa sebagai seorang sales (kanfas) tali raffia keliling dirinya sering merasa gamang. “Di satu sisi, saya menghidupi keluarga saya dengan menjual tali raffia keliling terutama saat musim panen jagung. Di sisi lain, secara tidak langsung saya menyadari ikut serta merusak lingkungan, sebab saya tahu penghasilan jagung yang luar biasa di Dompu itu ditanam dengan membakar lahan yang secara ekologis dalam jangka panjang merusak lingkungan. Semakin banyak jagung yang dihasilkan semakin banyak petani yang membeli tali kami. Kalau tidak ada jagung tali kami tidak laku,” katanya.

Fr. Lintang (Frater TOP di Donggo) dan Rm. Yonce bercerita bahwa mereka bersama pastor paroki Donggo Rm. Wayan, memanfaatkan lahan kering di belakang pastoran untuk berkebun. Mereka secara gotong royong mengumpulkan kotoran sapi dan kambing dari rumah-rumah umat termasuk mengumpulkan dedaunan dan sampah-sampah organik lainnya untuk usaha pupuk kompos.

Dalam usaha pupuk kompos itu mereka juga mengedukasi umat, terutama anak-anak untuk bersih-bersih sampah di rumahnya dan sekitar pastoran, mengajari mereka memilah sampahnya dan jenis dedaunan atau sisa sayuran dibawa ke pastoran.

Diskusi Kelompok peserta paroki Donggo

“Anak-anak itu juga kami ajak bersama-sama membuat pupuk kompos bersaman kami,” Setelah jadi pupuk kompos, kami membebaskan umat untuk mengambilnya secara gratis,” ungkap Rm. Yonce, Pastor Rekan Paroki Donggo.

Sementara itu, Yosef dari Paroki Sumbawa mengisahkan perjuangannya bersama Komunitas Marakolo mengedukasi masyarakat dan bersama mereka melakukan penanaman kembali atau reboisasi di lahan-lahan kering dan kosong yang ada. Yosef berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakar untuk melakukan reboisasi.

Haidin dari Stasi Nggerukopa Donggo, kembali menambahkan bahwa persoalan lingkungan yang ril dialami di daerahnya adalah kekeringan, kekurangan air akibat dari banyaknya hutan yang gundul.

“Saya pernah menantang calon kepala desa yang meminta dukungan kami bahwa kami hanya mendukung calon kades yang punya komitmen tidak menggundul hutan. Mayoritas umat dan masyarakat kami pada umumnya berpikir soal jagung karena hasilnya cepat tetapi yang menjadi masalah adalah untuk tanaman jagung harus merabas hutan lalu membakarnya, kemudian baru ditanami jagung dan menggunakan pupuk serta pestisida kimia. Saya sendiri sudah mulai melakukan penanaman tanaman jangka panjang tanpa membakar hutan, walau hasilnya harus menunggu beberapa tahun, ini bentuk tanggung jawab memelihara lingkungan sambil terus mengupayakan penyadaran kepada umat lainnya,” ungkapnya.

Romo Eli, Pastor Paroki Dompu, mengisahkan bahwa sebagai pastor paroki selalu menghimbau umat untuk tidak membuang sampah sembarangan, apalagi sampah-sampah plastik. Namun kesadaran umat diakuinya masih minim, sehingga produksi sampah di paroki cukup tinggi dan himbauan selalu disampaikan untuk buang sampah yang benar kepada umat dan kesadaran itu pelan-pelan mulai muncul.

Peserta paroki Sumbawa Besar saat diskusi kelompok

Ketua PSE Keuskupan Denpasar RD. Evensius Dewantoro, mendengar kisah-kisah itu dengan seksama dan mengapresiasi bahwa apa yang telah diupayakan para penggerak PSE itu seperti edukasi masyarakat dan umat melalui reboisasi, bersih-bersih sampah maupun mengajarkan pembuatan pupuk kompos adalah hal yang sangat penting dalam upaya menyelamatkan lingkungan.

“Merawat lingkungan sama dengan merawat diri sendiri. Kita bisa memulainya dari rumah kita sendiri, di KBG, di gereja dan seterusnya. Dimulai dari hal sederhana misalnya bersih sampah, lalu menanam tanaman sekitar rumah dan gereja lalu menanam di lahan-lahan kosong,” harap Romo Venus.

Dalam kegiatan ini, para peserta juga dilatih dan diberi kesempatan menulis proposal UMKM sesuai kebutuhan mereka. Peserta masuk dalam kelompok dan mencoba menulis proposal sesuai syarat yang ditentukan.

Peserta diskusi kelompok paroki Dompu

Dalam diskusi kelompok itu, juga diberi kesempatan oleh Tim PSE Keuskupan agar mereka bisa mengajukan usulan-usulan yang nantinya akan diperhatikan oleh PSE. Beberapa usulan yang muncul kemudian dirangkum oleh Tim PSE.

Usulan dari pulau Sumbawa antara lain: pelatihan rutin pembuatan EE dan turunannya; ada sosilisasi dan pembekalan tentang Caritas; program reboisasi dan penanaman pohon panjang dan penyediaan bibit tanaman tahunan; sosialisasi dan tanggung jawab PSE di paroki; program pemberdayaan ekonomi umat secara rutin; mengembangkan UMKM secara massif dan ada aplikasi dari teori (materi) dalam setiap pelatihan.

Salah satu dinamika kelompok

Berbagai pengalaman tersebut dibagi oleh para peserra kegiatan‘Temu Rasul Penggerak PSE,” se-Pulau Sumbawa yang telah dilaksanakan di Paroki Dompu, 12-13 April 2024***

Penulis : Hironimus Adil
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close