Selamat Jalan Julius I Wayan Pramadigta, Staf Puspas Keuskupan Denpasar

ABIANBASE – Duka mendalam bagi Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar. Kantor Puspas kehilangan salah staf andalannya, Julius I Wayan Pramadigta.
Julius, demikian akrab disapa, meninggal dunia pada Senin, 26 Januari 2026, pukul 22.21 Wita di Rumah Sakit Mangusada Kapal, Mengwi, Badung, karena sakit.
Julius meninggal dunia dalam usia 49 tahun 6 bulan. Dia meninggalkan istri Maria Kadek Widiasih dan kedua buah hatinya Jonet dan Joshua.
Di mata teman-temannya di Kantor Puspas, Julius merupakan pribadi yang menyenangkan, sebagaimana kesaksian salah satu staf senior Puspas Blasius Naya Manuk.

“Sungguh keluarga besar Keuskupan Denpasar kehilangan sosok pengabdi setia tanpa banyak bicara. Bekerja dalam diam. Jarang mengeluh. Ia menyimpan sakitnya dalam hati. Tidak banyak yg tahu,” ungkapnya dalam tulisan di grup WA Puspas.
Blasius menambahkan bahwa Julius selama berkarya di Keuskupan sudah melayani sekuat tenaga sampai batas raganya tidak mampu melayani lagi.
Hal yang paling berkesan bagi Blasius bahwa Julius sebagai rekan kerja terbaik yang selalu sigap mengatasi masalah di setiap kesulitan teknis pada komputer atau laptop dan sound system di kantor Puspas dan Keuskupan Denpasar, di Katolik Center serta di setiap medan tugas pastoral.
“Julius walaupun engkau sudah tiada, namamu tetap dikenang. Selamat jalan Julius, doa kami mengiringmu pergi ke rumah Bapa. Semoga Tuhan mengaruniakan kepadamu kebahagiaan kekal di Surga, ungkap Blasius.

Salah seorang teman dekatnya, Samuel Krismanto dari Tim Komsos Keuskupan Denpasar mengatakan “Saya berat sekali kehilangan Julius.”
Menurut Samuel, dia setia dalam pekerjaan dan tidak mau merepotkan orang dalam pekerjaannya dan suka diam. Dia juga tidak pernah menceritakan sakitnya atau masalah lain yang dihadapinya.

Penulis sendiri sebagai rekan kerja di Puspas memiliki kesan kurang lebih sama dengan teman-teman lainnya.
Satu hal yang paling diingat penulis maupun rekan kerja lainnya dari pribadi Julius adalah prinsipnya yang selalu dikatakannya pada setiap moment kebersamaan.

Dia kerap mengatakan sesuatu yang ringan, dan terkesan jenaka, tapi dibaliknya menjadi prinsip yang selalu dia pegang yaitu “Di sini senang, di sana senang.”

Selamat jalan Julius!. Doa kami menyertaimu, dengan keyakinan penuh bahwa saat ini engkau sudah senang (bahagia) di sana (Surga) bersama para Kudus.*
Hironimus Adil



