LINTAS PERISTIWA
Trending

Kaul Kekal Biarawati Pertama Kali di Gereja Katedral Denpasar

DENPASAR – “Tuhan, Engkau memanggil aku. Ini aku!” Sr. Maria Yasmine Lakat, O.Ss.S, menjawab pimpinan Komunitas Denpasar Biara Santa Brigita, Sr. Felisia, O.Ss.S, ketika memanggil namanya.

Didampingi keluarga saat perarakan dan tarian Likurai, gadis-gadis Timor ketika perarakan masuk gereja

Dialog singkat di atas, mengumandang dalam hening pada upacara Pengikraran Kaul Sr. Maria Yasmine Lakat, O.Ss.S, di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar, Rabu (24/4/2024) petang, ketika pemanggilan calon Kaul Kekal.

“Saudari yang terkasih, apa yang engkau minta dari Tuhan dan Gereja-Nya yang kudus?” RD. Herman Yoseph Babey, yang memimpin perayaan itu, bertanya lebih lanjut setelah Sr. Yasmine memberikan jawaban tadi.

Sr. Yasmine menjawab tegas: “Saya minta supaya boleh mengikuti Kristus mempelaiku sampai akhir hidupku dalam Biara Santa Brigita.” Diikuti seruan umat secara serempak “Syukur kepada Allah.”

Doa dan penyerahan Sr. Yasmine oleh keluarga dan RD. Herman Yoseph Babey, selaku imam pemimpin pengikraran kaul kekal melambungkan doa ketika Sr. Yasmin bertiarap di altar

RD. Herman Yoseph Babey, selaku Pastor Paroki Katedral memang diberi mandat oleh Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, untuk memimpin perayaan itu, karena saat bersamaan Uskup yang seharusnya memimpin upacara Kaul Kekal ini sedang mengikuti rapat KWI di Jakarta.

Menariknya upacara sakral tersebut menyingkap sebuah fakta bahwa peristiwa kaul kekal ini merupakan yang pertama dilaksanakan di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar dan untuk pertama kalinya juga RD. Herman Yoseph Babey, memimpin Upacara Kaul Kekal seorang biarawati.

Perayaan pengikraran kaul Sr. Maria Yasmin Lakat,O.Ss.S, di gereja ini dihadiri oleh lebih dari 300 orang undangan dan keluarga Yubilaris. Dimeriahkan oleh paduan suara Melody Bali Voice, pimpinan Tino Talokon. Juga ada koor dari Sekami Roh Kudus Katerdral Denpasar yang menyanyikan lagu komuni.

Romo Babey, selaku Selebran Utama perayaan itu, didampingi tiga imam lainnya yaitu Vikjen RP. Yosef Wora, SVD, RD. Thomas Almasan dan RP. Patrik, O.Carm. Upacara berlangsung kyusuk dan sakral, hampir mirip dengan upacara tahbisan imam.

Upacara pengikraran kaul ini diawali dengan perarakan dari depan teras gereja. Maklum, hujan gerimis mengiriringi dimulainya perayaan itu sehingga rencana perarakan panjang mulai dari Sakristi menuju altar, dibijaksanai memotong jalur menjadi start dari teras gereja saja.

Gerak gemulai tarian tradisional Timor oleh beberapa gadis yang berbalut busana khas pulau Timor, diiringi lagu liturgi “Mari Masuk Rumah Tuhan” mendahului langkah Yubilaris bersama keluarga beserta para petugas liturgi dan para imam dalam perarakan menuju altar. Di dalam gereja, kala itu sudah dipenuhi umat yang mengikuti peristiwa langka itu di zaman modern ini.

Tata liturgi berjalan seperti bisa. Hanya diselingi eberapa bagian khusus sesuai tata liturgi perayaan Kaul Kekal. Selepas bacaan suci (liturgi Sabda), misalnya, tidak langsung homili, tetapi terlebih dahulu acara pemanggilan calon Kaul Kekal sebagaimana dialog yang cukup menggetarkan seperti terungkap di atas.

Kemudian baru lanjut dengan homili. Romo Babey, dalam homili mengungkapkan keyakinan bahwa Allah sendiri yang menuntun Sr. Yasmine ke jalur panggilan khusus, hingga tiba pada peristiwa iman hari ini. Momen hari ini, lanjutnya, merupakan jalan kepenuhan panggilan suster Yasmine dengan mengikrarkan kaul kekal di hadapan Tuhan.

 

“Suster Yasmine telah menjalani panggilannya dengan tekun dan setia. Dalam perjalanan dia pasti menghadapi cobaan, tetapi tidak menghentikan panggilannya untuk mengikuti Yesus melalui panggilan khusus. Tuhanlah yang menguatkannya dan memberanikan dia untuk mengambil keputusan dengan segala konsekwensinya. Setiap langkah hidupnya, ketulusannya mengikuti Tuhan, hari ini terjawab,” kata Rm. Babey.

Romo Babey menyematkan cincin simbol cinta kepada Tuhan dan kesetiaan di jari manis Sr. Yasmine

Sementara di awal misa, Romo Babey, dalam kata pembuka mengungkapkan bahwa pengikraran kaul kekal merupakan sebuah tindakan penyucian diri dari yubilaris dengan Tuhan.

“Ini adalah pilihan radikal, mengikuti Tuhan secara radikal dan ingin melayani sesama lewat pengikraran kaul kebiaraan yakni kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Dewasa ini sebagian besar orang menolak pilihan ini. Tetapi percayalah dibalik pilihan radikal ini sungguh membahagiakan,” ungkapnya.

Selepas homili, keluarga menyerahkan calon kaul kekal, dilanjutkan dengan penyelidikan. Dalam penyeledikan calon kaul kekal, ada dialog antara imam dengan yubilaris soal kesediannya. Kemudian, calon Kaul Kekal mengambil posisi tiarap di depan altar, diiringi nyanyian Litani para Kudus. Di bagian akhir, Imam pemimpin misa melambungkan doa permohonan agar dicurahkan Roh Kudus.

Calon Kaul Kekal kemudian mengirarkan Sumpah Pengikraran Kaul. “… Saya mengikrarkan kaul kekal untuk hidup murni, miskin dan taat sesuai peraturan hidup Santo Agustinus dan Konstitusi Ordo Penyelamat Tersuci Santa Brigita yang didirikan oleh Santa Madre Elisabeth Hesselblad …,” demikian penggelan dari rumusan Sumpah Pengikrarkan Kaul Kekal oleh Sr. Maria Yasmine Lakat.

Setelah sumpah pengikraran, diteruskan dengan doa berkat kaul oleh Romo Babey, dilanjutkan pemberkatan dan pengenaan cincin sebagai simbol cinta Tuhan yang kekal dan tanda kesetiaan.

Setelah prosesi demi prosesi itu berlalu, seorang suster yang mewakili Mother General menegaskan, “Dengan ini kami menyatakan secara resmi engkau sebagai salah satu bagian dari anggota komunitas religius Santa Brigita. Berbahagialah engkau dalam segala hal bersama dengan kami, sekarang dan sepanjang hidupmu.”

Yubilaris kemudian bersalaman dengan imam dan suster delegatus, diikuti aplaus meriah dari semua yang hadir dalam perayaan itu. Sr. Yasmine pun resmi dalam kepenuhan panggilannya sebagai anggota Biara Santa Brigita.

Menderita Sakit

Cukuplah Kasih KaruniaKu bagimu (2 Kor 12:9), merupakan moto kaul yang dipilih Sr. Yasmine. Yubilaris mengungkapkan moto itu dalam sambutannya sebelum berkat perutusan. Sr. Yasmine merasa bersukacita atas penyertaan Tuhan bagi hidupnya.

Saat-saat penyelidikan calon Kaul Kekal

Suster yang kedua orang tuanya sudah meninggal dunia, mengatakan “Ini baru awal, saya akan terus berjuang menghidupi panggilan maupun sumpah kaul saya dan mohon doa semuanya.”

Sr. Yasmin lantas menceritakan tentang moto yang dipilihnya sebagai refleksi perjalanan panggilannya yang pernah mengalami penderitaan. Sr. Yasmine merasa bangga dan bahagia karena Tuhan pernah menyembuhkannya dari sakit parah dan sampai kini terus diberikan kesehatan.

Dia bercerita, “Saya pernah alami sakit amat berat selama tujuh tahun yaitu tumbuh tumor di rahang. Saya mengalami penderitaan yang sangat luar biasa. Saya pun menarik diri dari semua kegiatan di gereja seperti aktif di OMK, koor, misdinar, dan lain-lain. Saya merasa beban bagi keluarga yang telah mengupayakan pengobatan tradisional maupun medis.”

Lanjut dia berkisah, “Setiap hari saya berdoa, Tuhan kalau ini saatnya saya mengalami Kalvari, sudah cukup bagiku. Saya sungguh berpasrah. Tetapi Tuhan justru memutuskan lain.”

Para imam,Sr. Yasmine beserta Suster-suster St. Brigita lainnya dan beberapa calon suster

Berita tentang sakit dan penderitaan suster ini sampai juga di meja redaksi sebuah koran terkenal di Kupang. Perusahaan media di Kupang melalui korannya, membuka dompet kepedulian bagi dirinya agar bisa diambil tindakan medis. Bantuan pun mengalir dari mana-mana dan dari berbagai pihak melalui rekening khusus yang dibuka koran itu, sehingga dia bisa dioperasi dan dokter meyakinkannya, bahwa dengan operasi dapat menyelamatkan nyawanya. Operasi berjalan lancar dan dirinya sembuh.

Setelah sembuh dari sakitnya, suster akhirnya memutuskan masuk biara Santa Brigita. Suster menyadari, setelah sembuh dari sakit, lalu memasuki hidup dalam panggilan khusus, semuanya atas belas kasih dan karunia Tuhan. inilah yang melatari Sr. Yasmine memilih moto: Cukuplah KaruniaKu bagimu.

“Semoga panggilan ini bukan hanya berkat bagi saya, tetapi bagi Gereja, khususnya Gereja Indonesia,” harap suster Yasmin, yang sempat meneteskan air mata ketika dia menyebut orang tuanya yang kini telah tiada, saat dia mengukapkan ucapan terima kasih satu persatu kepada berbagai pihak.

Ada juga sambutan mewakili keluarga oleh Yohana Lakat (kakak sulung Sr. Yasmine) dan sambutan Sr. Felisia, O.Ss.S, pimpinan komunitas Denpasar Biara Santa Brigita. Keduanya sama-masa menyampaikan rasa syukur dan penuh haru atas peristiwa hari itu.

Sr. Yasmin bersama para imam dan keluarga

Romo Babey, dalam sambutan terakhir mengatakan, “Suster Yasmine telah menjadi saksi kebaikan dan keajaiban Allah dan Dia pula yang akan terus menuntunnya dalam jalan panggilan ini ke depannya. Profisiat dan selamat bahagia kepada suster Yasmin sebagai mempelai Kristus,” pungkasnya.

Usai misa, dilanjutkan dengan resepsi syukuran di basemen Katedral. Aneka acara hiburan dan santap malam bersama disuguhkan dalam acara penuh syukur itu. ***

Hironimus Adil

Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close