LINTAS PAROKI

Vikjen Keuskupan Denpasar Beri Peneguhan dan Kekuatan Agen Pastoral Paroki Ampenan

AMPENAN –Suasana di dalam Gereja Paroki St. Antonius Padua Ampenan, Sabtu, 21 Februari 2026, tampak berbeda dari biasanya.

Seluruh agen pastoral mulai dari Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Keuangan Paroki (DKP), para Ketua Lingkungan, pengurus Komunitas Basis Gerejawi (KBG), hingga para prodiakon berkumpul dalam satu semangat untuk mengikuti peneguhan dan penguatan yang dibawakan oleh Vikaris Jenderal (VikJen) Keuskupan Denpasar, RD Herman Yoseph Babey.

Kegiatan diawali dengan kebersamaan sederhana namun penuh makna. Para agen pastoral menikmati cemilan jagung rebus, ubi rebus, serta kopi dan teh panas di teras pastoran.

Suasana hangat dan akrab mencerminkan semangat sinodalitas: berjalan bersama, mendengarkan, dan saling menguatkan.

Acara dimulai tepat pukul 17.00 Wita. Sr. Arnold, SSpS, memimpin doa pembukaan atas permintaan Sekretaris DPP.

Satu Visi

Selanjutnya, Pastor Paroki, Pater Iron, SVD menyampaikan ucapan selamat datang kepada Vikjen Keuskupan Denpasar. Dalam sambutannya Pater Iron menegaskan pentingnya kesatuan visi dan sistem kerja pastoral.

“Agar sistem dan mekanisme kerja pastoral kita semakin tertata dan berjalan lebih baik, kita perlu berada dalam satu jalur dan satu visi yang sama. Dengan pemahaman yang utuh, kita dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam melaksanakan setiap tugas dan tanggung jawab pelayanan secara maksimal.”

Pedoman Manajemen Pastoral Paroki

Dalam sesi pertama yang berlangsung hingga pukul 19.00 WITA, RD Herman Yoseph Babey menyampaikan materi bertajuk Pedoman Manajemen Pastoral Paroki.

Vikjen menegaskan bahwa manajemen pastoral adalah proses pengelolaan seluruh aspek kehidupan dan pelayanan Gereja secara tepat, terarah, dan partisipatif demi mendukung misi Gereja di dunia.

Penekanan utama diberikan pada peningkatan sinergi antara Pastor Paroki, DPP, DKP, Lingkungan, dan KBG.

Menurut Direktur Pusat Pastoral ini, tata kelola yang baik bukan hanya soal administrasi, tetapi juga tentang membangun koordinasi yang sehat, komunikasi yang terbuka, dan tanggung jawab bersama dalam pelayanan umat.

Para agen pastoral tampak antusias mengikuti pemaparan materi. Interaksi dan pertanyaan mengalir dinamis. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Gabriel, seorang prodiakon, terkait penggunaan busana saat membagikan Komuni kepada orang sakit atau lansia di rumah.

Menanggapi hal tersebut, Vikjen mengungkapkan bahwa busana liturgis yang telah diserahkan oleh Uskup harus digunakan sesuai fungsinya.

“Ketika menjalankan tugas pelayanan di rumah, busana harus dipakai secara lengkap, karena saat dilantik oleh uskup sebagai prodiakon, juga dibagikan busana lengkap untuk digunakan dalam tugas resmi Gereja,” tegasnya.

Sebelum santap malam bersama, seluruh peserta mengabadikan momen kebersamaan dalam sesi foto bersama. Santap malam yang telah disiapkan oleh ibu-ibu BRTG menjadi ruang perjumpaan yang semakin mempererat persaudaraan. Doa santap malam diwakili oleh salah satu prodiakon.

Tugas Pokok

Sesi kedua dimulai pukul 20.00 WITA dengan pendalaman mengenai tugas pokok dan fungsi DPP serta DKP.

DPP ditegaskan sebagai wadah partisipasi umat beriman dalam membantu Pastor Paroki menyelenggarakan kehidupan Gereja secara menyeluruh di wilayah paroki, sesuai semangat sinodalitas dan arah pastoral Keuskupan.

”DPP berperan dalam merancang dan mengevaluasi program pastoral, menjadi sarana komunikasi dua arah antara umat dan hierarki Gereja, serta menghidupkan KBG,” kata Rm. Babey..

Sementara itu, DKP, lanjutnya, memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan dan aset Gereja secara transparan, akuntabel, serta sesuai hukum Gereja dan peraturan sipil yang berlaku.

”DKP mengelola pemasukan dan pengeluaran kas paroki, menata sumbangan dari donatur dan umat, serta menyusun laporan berkala yang dilaporkan kepada Uskup dan umat,” tegasnya.

Dalam konteks manajemen lingkungan, dijelaskan bahwa lingkungan merupakan komunitas umat Katolik dalam satu wilayah kecil di dalam paroki dengan kegiatan pokok seperti doa rosario, pendalaman iman, dan kunjungan kepada orang sakit.

Adapun KBG menjadi kelompok kecil umat yang secara rutin berkumpul untuk berdoa, merenungkan Sabda Tuhan, serta mempererat persekutuan sebagai bagian dari Gereja.

KBG, menurut Vikjen, berfungsi memudahkan koordinasi pelayanan, menumbuhkan semangat hidup kristiani, serta menjadi sarana evangelisasi di tengah masyarakat.

Setelah pemaparan materi sesi kedua, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang kembali menunjukkan antusiasme para agen pastoral.

Berbagai pertanyaan diajukan sebagai bentuk keseriusan dalam memahami tugas dan tanggung jawab pelayanan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh agen pastoral Paroki St. Antonius Padua Ampenan semakin diteguhkan dalam semangat pelayanan, memiliki pemahaman yang utuh tentang tata kelola pastoral, serta mampu membangun sinergi yang kuat demi terwujudnya Gereja yang hidup, partisipatif, dan missioner.

Tim KOMSOS mewawancarai Leksi, Ketua Lingkungan Santo Carolus. Dia menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membantu memperjelas peran masing-masing pelayan.

“Kami jadi semakin paham tugas dan batasan pelayanan kami. Ini membuat kami lebih percaya diri dan terarah dalam melayani umat di lingkungan,” ungkapnya.

Menutup seluruh rangkaian, Pater Iron menyampaikan refleksi mendalam. ”Pelayanan pastoral sering tumbuh dari situasi yang tidak nyaman, justru dari persoalan yang terjadi kita dimatangkan untuk mengambil keputusan yang bijaksana.”

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 21.30 wita ini menjadi momentum penting bagi seluruh agen pastoral Paroki Santo Antonius Padua Ampenan untuk meneguhkan komitmen bersama: berjalan dalam satu visi, satu semangat, dan satu arah pelayanan demi Gereja yang semakin hidup dan berdampak di tengah umat dan masyarakat.*

Penulis: Anthony_Laziale-Komsos Ampenan
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button