LINTAS PERISTIWA

Tangisan Duka Iringi Perjalanan Julius Pramadigta Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir

ABIANBASE – Julius I Wayan Pramadigta (49), Staf Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, yang meninggal dunia pada Senin (26/1/2026) malam, di Rumah Sakit Mangusada, Kapal, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (28/1) kemarin dimakamkan.

Tangis duka dari sang ayah, maupun istri, anak-anak dan keluarga, juga rekan kerjanya di Keuskupan Denpasar dan sebagian besar umat yang hadir mengikuti misa pelepasan jenazah sekaligus mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Katolik, Abianbase, pecah ketika peti hendak ditutup.

Alm. Julius Wayan Pramadigta, selalu ceria dalam setiap kesempatan

Sebelum dikuburkan, sehari sebelumnya, Selasa (27/1) malam, diadakan misa requiem di aula Stasi Kristus Raja Abianbase tempat almarhum disemayamkan. Misa requiem malam itu dipimpin Pastor Paroki St. Theresia Tangeb RP. Alex Dato, SVD dan RD. Yohanes Kadek Ariana.

Rm. Kadek Ariana (berdiri) saat menyampaikan homili misa requiem bersama RP. Alex Dato, SVD (duduk)

Sementara misa pelepasan janazah menjelang dimakamkan, dipimpin oleh 12 imam konselebrasi, termasuk Selebran Utama Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.

Banyak pelayat yang hadir mengikuti misa requiem maupun misa pelepasan jenazah untuk mendoakan keselamatan Julius sekaligus memberi dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Keluarga Julius (barisan paling depan) saat misa pelepasan jenazah

Pelayat yang hadir, tidak sebatas keluarga Julius dan Keluarga Besar Keuskupan Denpasar serta umat Paroki Tangeb dan Stasi Abianbase, tetapi datang dari berbagai tempat antara lain para sahabat, kenalan termasuk OMK dari beberapa paroki maupun mereka yang selama ini biasa meminta bantuan Julius dalam even-even yang mereka selenggarakan.

Tak Mau Jauh

Sebelum misa pelepasan jenazah, pada Rabu (28/1), sang istri Maria Kadek Widiasih, menceritakan bahwa pada hari terakhir jelang kematiannya, Julius tidak mau istrinya keluar dari ruangan dia dirawat.

“Dia tidak mau saya pergi dari sana, walau hanya sebentar saja. Kecuali sekitar jam dua siang, karena saya lapar, saya minta ijin sebentar saja untuk beli makan dan dia membolehkan. Namun tidak lama, setelah itu kembali lagi,” ceritanya.

Kemudian, sekitar jam 21.00, sang istri baru boleh dijinkan kembali untuk pergi mandi, sementara dia ditemani anak sulungnya Jonet, di ruang perawatan. Jonet bercerita, entah tepatnya jam berapa, ayahnya sempat berontak dan mau mencabut semua selang infus.

Saat itu Jonet cukup panik dan sempat berteriak memanggil perawat untuk menenangkannya. Saat berontak itu, kata Jonet, suaranya cukup jelas, padahal sebelumnya suaranya hampir tak terdengar kalau dia berbicara.

Ternyata itu kenangan terakhir sang buah hati sulung bersama ayahnya, sebelum akhirnya ayah terkasih menghembuskan nafas terakhir pada pukul 22.21 Wita.

Vikjen sekaligus Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey, yang merupakan pimpinan Julius di Kantor Puspas, dalam homilinya saat misa pelepasan jenazah bersaksi bahwa Julius sering bekerja dalam diam.

Suasana misa requiem Selasa (27/1) malam.. banyak pelayat datang memberikan doa dan penghormatan terakhirRm. Babey menuturkan, dalam catatan Sekretariat Keuskupan, Julius mulai bekerja di Kantor Puspas sejak tahun 1998, artinya sudah 28 tahun dia mengabdi.

Hal itu menunjukkan lebih dari sebagian perjalanan hidupnya dihabiskan untuk melayani di Keuskupan Denpasar. Julius lahir pada 12 Juli 1976. Dia meninggal dalam usia 49 tahun, 6 bulan dan 14 hari, pada Senin, 26 Januari 2026.

Romo Babey lebih lanjut mengungkapkan bahwa sosok Julius merupakan pribadi yang sering melayani dengan hati tanpa banyak bicara, tanpa sorotan. Dia bekerja dalam hening, seorang pribadi yang tidak banyak tampil dan juga tidak butuh pujian.

“Kita mengucapkan terima kasih kepadanya. Julius pribadi yang cepat menolong dan tulus melayani. Kita sungguh kehilangan seorang yang kita kasihi, kepergiannya menyisakan ruang kosong dan duka mendalam bagi kita yang ditinggalkan, tapi iman Kristiani mengajarkan kita tidak boleh larut dalam duka,” ungkap Rm. Babey, penuh haru.

Lebih jauh Rm. Babey mengungkapkan bahwa Julius memilih setia pada hal kecil dan percaya Tuhan akan melihatnya yang tersembunyi itu.

Julius, lanjut Rm. Babey, memiliki moto hidup: Di sini senang, di sana senang. Romo Babey menangkap makna dari moto ini. ‘Di sini senang’ bahwa dia menjalani hidup dengan lapang dada dan menghadapi setiap pekerjaan dan situasi yang dialami dengan suka (senang) dan rasa syukur.

Kemudian, ‘di sana senang’ dia tahu hidup ini tidak berhenti di dunia, tapi ada ruang lain yang menanti yaitu di Surga. Dia juga pasti senang di sana.

Kesaksian lain diungkapkan RD. Kadek Ariana, ketika malam sebelumnya dipercayakan menyampaikan homili saat misa requiem bersama RP. Alex Dato.

Menurut Ketua Yayasan Insan Mandiri yang sehari-hari tinggal di rumah keuskupan di jalam Tukad Balian itu, bahwa Julius adalah tipe pekerja keras dan bertanggung jawab.

“Dia orang pertama yang datang ke kantor, paling lambat jam 06.00 atau 06.30 sudah di kantor dan sering kali juga pulang paling akhir,” cerita Rm. Kadek.

Adik kandung Julius, Deny saat sapaan kasih keluarga

Deny, adik kandung Julius, saat menyampaikan sapaan kasih sebelum jenazah dimakamkan mengungkapkan, terima kasih atas kehadiran para Romo, Suster, Frater dan semua umat untuk mendoakan saudaranya sekaligus dukungan bagi keluarga.

“Dedikasi hidupnya selama ini adalah sebuah pengalaman kasih bagi kami keluarga. Banyak yang datang melayat, dan sebagian besar yang datang itu kami tidak mengenalnya, berarti betapa luas pergaulan saudara kami ini sehingga dikenal banyak orang. Dia orangnya sederhana tercermin dari motonya di sini senang di sana senang. Harapan saya, kita saling menguatkan dan saling doa. Sebagai keluarga, iklas tidak iklas, siap tidak siap, ini adalah cara Tuhan untuk kakak kami,” ungkap Deny.

Blasius Naya Manuk, mengungkapkan kasih lewat puisi

Sapaan kasih lainnya, disampaikan oleh Blasius Naya Manuk, mewakili rekan kerja Julius. Ungkapan hati rekan kerjanya dituang dalam bentuk puisi karya Christin Herman yang dibacakan Blasius di hadapan peti jenazah.

Sebuah puisi yang indah namun menyayat hati, menceritakan sosok Julius selama bersama di Pusat Pastoral maupun dalam aneka kegiatan keuskupan, di mana Julius banyak bekerja dalam sunyi, tak pernah mengeluh, jauh dari sorotan dan pujian namun sungguh bertanggung jawab atas pekerjaannya.

Vikjen Keuskupan Denpasar Rm. Herman Yoseph Babey, saat sambutan mewakili Keuskupan Denpasar

Sementara Rm. Babey, ketika diberi kesempatan menyampaikan sambutan mewakili Keuskupan Denpasar, awalnya mengatakan “Tidak mudah untuk meyampaikan hal ini.”

Pemberkatan Jenazah oleh Rm. Yosef Wora,SVD bersama para imam konselebran

Setelah diam sejenak, Rm. Babey menyampaikan dukacita yang mendalam dari Bapak Uskup yang saat ini sedang mengikuti rapat di Jakarta, seluruh imam dan banyak pihak lainnya yang disampaikan melalui Rm. Babey termasuk dari keluarga besar Komsos Indonesia dan tentunya keluarga besar keuskupan.

Ayah dari Julius, memberikan penghormatan kepada sang anak sambil menangis

Rm. Babey mengatakan, banyak cinta untuk Julius dari banyak orang, termasuk Bapak Uskup Denpasar yang sempat berkunjung di rumah sakit dan mendoakan Julius saat dia dirawat.

“Banyak hal yang menjadi kegembiraan dari Julius. Dia tidak pernah merepotkan orang lain, bahkan penderitaannya dia sembunyikan dari keluarga dan teman-teman di kantor. Dia sendiri pasti tahu dia sakit, tapi dia tidak mau beritahu,” kata Direktur Puspas ini.

Kedua anaknya, Jonet (membawa foto) dan Joshua membawa Salib ketika mengantar sang bapak ke peristirahatan terakhir

Di sisi lain,Romo Babey juga mengungkapkan bahwa sebelum meninggal, jiwanya sudah terurus dengan baik. Lima kali dia mendapatkan minyak suci dari lima imam berbeda termasuk dirinya, dan mendapatkan bekal komuni suci jelang kematiannya dari Rm. Kadek, teman kelasnya saat SMA.

Rombongan pengantar jenasah ke kuburan

“Terima kasih Julius. Dan terima kasih juga untuk seluruh keluarga yang telah mendukung Julius mengabadi di Keuskupan Denpasar lebih dari separuh usianya,” pungkas Rm. Babey.

Usai sambutan, dilanjutkan dengan pemberkatan jenazah oleh RP. Yosef Wora, SVD didampingi 11 imam konselebrasi.

Jenazah siap dimasukan dalam liang lahat. Ibadat penguburan dipimpin oleh Rm. Kadek Ariana

Selanjutnya diberi kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir. Jelang perpisahan dengan raganya, tangis sedih terdengar dari ayahnya, istri, anak-anak dan banyak pihak yang hadir saat itu.

Selamat berpisah Julius, bahagialah bersama para kudus di Surga.*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button