LINTAS PERISTIWA

Hari Studi Kitab Suci di Paroki Katedral Bersama Delkit Regio Nusra

DENPASAR – Salah satu agenda pertemuan Delegatus Kitab Suci (Delkit) Regio Nusa Tenggara yang berlangsung di Catholic Center Keuskupan Denpasar, 23-26 April 2026 adalah menyelenggarakan Hari Studi Kitab Suci bekerja sama dengan Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

Hari studi yang berlangsung di aula paroki Roh Kudus Katedral ini, memantik minat banyak umat terutama para penggerak Kerasulan Kitab Suci (KKS), terlihat dari antusiasnya mengkuti kegiatan dari petang hingga malam pada Jumat (24/4/2026). Total peserta sekitar 300 orang, selain penggerak KKS Paroki Katedral, juga dihadiri utusan dari paroki-paroki lainnya.

Umat terutama para penggerak Kerasulan Kitab Suci (KKS) yang mengikuti hari studi

Peserta dibagi dua kelompok besar dan mengikuti hari studi di dua ruangan berbeda, dengan dua tema yang berbeda pula. Para Delegatus Kitab Suci Regio Nusra, juga dibagi dalam dua kelompok itu.

Kelompok pertama (kelompok merah), mengikuti pelatihan ‘Terampil Menulis Renungan Kitab Suci.’ Dalam kelompok ini menghadirkan dua pakar Kitab Suci sebagai narasumber yaitu RP. Yosef Masan Toron, SVD, Delegatus Kitab Suci dari Keuskupan Ruteng, dan RD. Siprianus S. Senda, Delegatus Kitab Suci dari Keuskupan Ruteng. Kedua imam ini adalah juga Dosen Kitab Suci.

Kelompok kedua (kelompok biru), mendapatkan pelatihan ‘Terampil Menjadi Fasilitator’ dengan narasumber Pakar Kitab Suci dari Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, juga Wakil Ketua Lembaga Biblika Indonesia (LBI) RP. Petrus Christologus Dhogo,SVD.

Pastor Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar RP. Yosef Wora, SVD, dalam sambutannya merasa gembira dengan kehadiran para Delegatus Kitab Suci Regio Nusra dan di sela-sela padatnya pertemuan dalam penyusunan bahan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, berkesempatan membagi ilmu yang bermanfaat untuk menuntun umat agar terampil menjadi fasilitator dan trampil mempersiapkan dan membawakan renungan.

Pastor Paroki Katedral RP. Yosef Wora,SVD

“Kedatangan Anda sangat kami tunggu. Anda sama seperti Filipus untuk mewartakan Injil kepada seorang sida-sida dari Etiopia yang sedang membaca Kitab Suci tapi tidak mengerti isinya (bdk. Kis. 8:26-40),” ungkap Rm. Yosef.

Kegiatan seperti ini, ungkap Romo Yosef, menjadi kerinduan para penggerak KKS Paroki Katedral, dan supaya kesempatan baik ini tidak hanya dialami Paroki Katedral, dari paroki-paroki lain juga diundang mengikuti kegiatan ini, dengan harapan ilmu yang didapat dalam pelatihan singkat itu dapat dipraktekan di basis-basis (KBG).

“Semoga pengalaman ini dipraktekkan dalam basis-basis saat memimpin pendalaman Kitab Suci. Biarkan sida-sida yang membaca Kitab Suci namun belum mengerti, supaya diberitahu menjadi mengerti,” harap Rm. Yosef.

Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar RD. Maximus Agustinus Soge

Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar RD. Maximus Agustinus Soge, menerangkan bahwa hari studi ini utk pendalaman bersama umat. “Ini kesempatan biak karena para Delegatus Kitab Suci ini umumnya para dosen dan pengajar Kitab Suci yang siap berbagi ilmu dengan kita,” katanya.

Peran Fasilitator

Dalam pelatihan ‘Keterampilan Menjadi Fasilitator’ bersama penggerak KKS di kelompok biru, RP. Petrus Christologus Dhogo,SVD mengajak peserta untuk memahami siapa itu Fasilitator Katekese Umat (KU). Fasilitator KU, kata Pater Ito, demikian akrab disapa, ialah seorang peserta katekese umat yang ditunjuk untuk memandu memperlancar proses komunikasi iman di antara para peserta.

Peran seorang Fasilitator KU, katanya, antara lain sebagi pemudah dan pelancar proses dialog antara peserta agar tercapai tujuan yang ditetapkan. Dengan demikian seorang fasilitator tidak boleh menggurui atau mengkotbah para peserta.

“Bila fasilitator berperan sebagai seorang guru, pengkotbah atau seorang ahli maka tugas sebagai fasilitator akan gagal,” tegasnya.

Di kelompok merah secara bergantian RP. Yosef Masan Toron,SVD dan RD. Sipri Senda, membagi ilmu mereka tentang terampil Menulis Renungan Kitab Suci. Pater Yosef Masan Toron, SVD yang tampil kesempatan pertama mengajak peserta bagaimana ‘Mempersiapkan dan Membawakan Renungan.’

Pater Yosef Masan, SVD, memaparkan tentang dasar dan alasan mengapa perlu mewartakan Kristus. Secara biblis, katanya, amanat Yesus sendiri. “Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku, Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19); “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk” (Mrk. 16:15).

RP. Yosef Masan Toron, SVD

Dasar lain adalah konsekwensi Sakramen Baptis yang diterima. Setiap yang dibaptis, otomatis dilantik menjadi nabi, imam dan raja yang merupakan tri tugas Kristus. “Setiap insan terbaptis dipanggil untuk melanjutkan karya Yesus sebagai nabi, imam dan raja,” katanya.

Lanjutnya, alasan perlunya mempersiapkan dan membawakan renungan, karena pengalaman pastoral Gereja selama ini, ada jarak antara Kitab Suci dan kenyataan hidup. “Kitab Suci belum sepenuhnya dihayati dipraktekkan dalam kehidupan umat Kristen,” kata Mantan Ketua LBI ini, seraya mengatakan alasan praktis adalah perlunya keterlibatan awam, kaum non tertahbis dalam tugas pewartaan Gereja.

Dalam kesempatan itu, Pater Yosef juga memberikan perbedaan antar homili, kotbah dan renungan. Homili merupakan renungan dalam liturgi, berisikan penjelasan atas teks Kitab Suci (bdk. Konsili Vatikan II, Sacro Santum Consolium (SC 52, 53). Jadi, hakekat homili yaitu penjelasan atas teks Kitab Suci yang dibacakan dalam Liturgi agar jadi pegangan dan pedoman hidup dan hanya Uskup atau imam yang boleh memberikan homili.

Narasumber sedang berbagi bersama peserta hari studi

Dalam dokumen yang sama, tentang Kotbah, merupakan renungan yang dibawakan di luar perayaan liturgi dan bahannya bisa diambil dari berbagai sumber sesuai dengan konteks perayaan, bisa dari dokumen Gereja, kearifan lokal, pandangan dan pendapat tokoh sesuai tema perayaan.

Sedangkan renungan adalah refleksi rohani yang dibawakan oleh umat beriman non tertahbis dalam berbagai kesempatan kegiatan rohani (non liturgi). Bahasanya bisa diambil dan inspirasi Kitab Suci dan sumber-sumber lainnya sesuai tema perayaan.

“Renungan merupakan refleksi spiritual yang berisikan kekayaan rohani untuk disampaikan kepada audience (pendengar),” simpul Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Ruteng ini, sambil menegaskan renungan bisa dibawakan oleh kaum tertahbis dan non tertahbis (awam) dalam berbagai kegiatan non liturgis.

RD. Sipri Senda

Sementara RD. Siprianus Senda, menjelaskan hal-hal praktis dalam menyusun renungan biblis, dengan langkah-langkah: pertama, persiapkan sarana seperti Kitab Suci Deuterokanonika, dsb; kedua, persiapan bathin dengan berdoa mohon bimbingan Roh Kudus; ketiga, pembacaan teks Kitab Suci; keempat penggalian teks Kitab Suci; kelima, perumusan pesan teologis dan terakhir penyusunan renungan.

RP. Petrus Christologus Dhogo, SVD

Di samping langkah-langkah penting di atas, Rm. Sipri juga memberikan tuntunan praktis skema renungan biblis yang terbagi dalam lima Alinea.
Alinea pertama: pengantar berupa cerita, anekdot, pepatah, peristiwa yang sesuai dengan tema perayaan; Alinea kedua: penegasan tema untuk disesuaikan dengan teks Kitab Suci; Alinea ketiga: ulasan teks Kitab Suci berdasarkan penggalian dan uraian pesan teologis; Alinea keempat: aplikasi pesan teologis sesuai konteks perayaan; Alinea kelima: penutup berupa ajakan untuk menghayati nilai Kitab Suci yang ditemukan.

Keingintahuan para penggerak KKS paroki yang hadir dalam hari studi ini begitu tinggi, cukup banyak peserta dalam dua kelompok ini menyampaikan tanggapan dan pertanyaan baik hal-hal teknis maupun bersifat praktis aplikatif. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button