Gereja Katolik Tetap Menjadi Tanda Kesatuan Universal
“Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik di Paroki Singaraja”

SINGARAJA – RD. Patris Allegro, melanjutkan pencerahan mengenai pertanggung jawaban iman Katolik kepada umat Katolik di Paroki St. Paulus Singaraja, Selasa (19/8). Sehari sebelumnya kegiatan yang dikemas dalam bentuk seminar itu dilaksanakan di Paroki St. Petrus Negara.
Sama seperti di Negara, di Singaraja Seminar diawali dengan sapaan kasih dari Pastor Paroki RD. Libert Marung, sekaligus membuka seminar.
Rm Libert dalam sapaannya mengungkapkan terima kasih kepada Komisi Kitab Suci sebagai penyelenggara kegiatan, dan lebih khusus kepada Rm. Patris Allegro selaku narasumber yang datang jauh-jauh dari Kupang. “Terima kasih juga buat seluruh umat yang ikut berpartisipasi,” katanya.
“Seminar ini tentu sangat baik, bagaimana mempertanggung jawabkan iman kita. Mungkin juga kita perlu tahu mengapa iman menjadi lemah dan bagaimana supaya iman kita tetap kuat dan tidak goyah,” katanya.
Romo Libert meminta umat yang hadir untuk aktif bertanya. “Ini Kesempatan kita bertanya banyak hal tentang iman kita, mungkin juga banyak pertanyaan dari luar yang menguji iman kita. Jangan sampai di belakang baru kita tanyakan. Keluarkan semua hal yang menggajal atau mengganggu pikiran kita dan membutuhkan jawaban,” tegasnya.
Romo Liber berharap agar melalui seminar ini, peserta semakin memahami betul iman dan gereja Katolik sehingga iman dapat berkembang dan semakin kokoh serta semakin luasnya wawasan tentang iman dan Gereja Katolik.
Selanjutnya, dengan dipandu Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar RD. Agustinus Maximus Soge, selaku moderator, Rm. Patris Allegro, memaparkan materinya secara singkat.

Pemaparan Romo Patris, tidak berbeda dari apa yang dipaparkan sehari sebelumnya di Paroki Negara. Romo Patris, kembali bicara tentang iman Katolik yang merupakan kepenuhan kebenaran.
Selanjutnya bicara mengenai iman dan akal yang merupakan dua sayap kebenaran. Diuraikan, iman adalah tanggapan atas wahyu, sedangkan akal merupakan alat untuk memahami dan menguji.
Kemudian menjelaskan juga tentang tantangan reletivisme yang mengaburkan kebenaran. Romo Patris, kembali menegaskan tentang pandangan relativisme (tergantung). “Relativisme itu tidak ada kebenaran,” tegasnya. Akibat dari relativisme, urainya, iman direduksi menjadi opini.
Dalam ajaran Gereja Katolik, kebenaran itu bersifat obyektif dan universal. “Kita yakin Kristus menjadi satu-satunya Jalan, Kebenaran, Hidup,” imbuhnya.
Romo Patris memaparkan materi hanya sekitar 15 menit. Waktu berikutnya sampai selesai lebih banyak berdialog antara peserta dengan Rm. Patris. Berbagai pertanyaan mendasar tentang iman Katolik maupun berdasarkan pengalaman umat (peserta) ketika berinteraksi, termasuk dengan pihak lain yang kerap bertanya tentang ajaran/iman Katolik, disampaikan semua pada acara itu.

Romo Patris melayani setiap pertanyaan dengan jawaban yang tegas dan lugas berdasarkan kebenaran iman Katolik.
Disari dari berbagai pertanyaan peserta, Romo Patris lantas memberikan catatan Apologetik yang menjadi rangkuman dan simpulan dari Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik di Paroki St. Paulus Singaraja.

Rangkuman tersebut bisa berbeda dari rangkuman pada seminar di Paroki Negara, karena latar belakang pertanyaan yang berbeda, namun tidak menutup kemungkinan ada pertanyaan yang hampir serupa. Berikut 9 poin yang menjadi catatan/rangkuman dari Singaraja yaitu:
1. Kebenaran di mana-mana? – Kebenaran bukan sekadar berserakan; kebenaran itu satu dan utuh, berakar pada Allah sendiri. Kristus berkata: Akulah Kebenaran (Yoh 14:6). Maka relativisme yang menyebarkan klaim “kebenaran ada di mana-mana” adalah penolakan terhadap kepastian Injil.
2. Skeptisisme/Agnostisisme – Skeptik dan agnostik berhenti pada keraguan. Iman Katolik justru mengajak akal budi untuk berjalan sampai pada kepastian rasional bahwa Allah ada, dan pewahyuan-Nya dalam Kristus nyata. Skeptisisme berhenti di pintu, iman membuka jalan masuk.

3. Pertanggungjawaban Iman – Pertanggungjawaban iman bukan sekadar “merasa percaya,” melainkan sikap hidup yang menyatu dengan sakramen. Dalam pengakuan dosa, umat bertanggung jawab di hadapan Allah yang berkata dalam Kristus: Akulah Jalan menuju Bapa. Iman bukan ide, tetapi jalan hidup yang konkret.
4. Trimurti – Konsep “trimurti” Hindu tidak sama dengan Tritunggal. Trimurti adalah tiga dewa dengan hakikat berbeda; Tritunggal adalah satu Allah dalam tiga pribadi. Menyamakan keduanya adalah reduksi dan kekeliruan kategoris.
5. Hukum Gereja – De Clericis – Hukum Gereja (misalnya dalam CIC atau De Clericis) mengatur hidup para imam bukan sebagai beban, melainkan demi kesaksian yang lebih murni. Otoritas Gereja berwenang mengatur pelaksanaan hak umat beriman demi kebaikan umum.
6. Lima Prinsip Reformasi:
– Sola Scriptura: tak konsisten, karena kanon Kitab Suci ditentukan Gereja.
– Sola Fide: terpotong, karena iman tanpa kasih mati (Yak 2:26).
– Sola Gratia: Katolik mengaku rahmat mutlak, tapi rahmat bekerja dalam sakramen.
– Solus Christus: Katolik mengakui Kristus pusat, tapi tubuh-Nya adalah Gereja.
– Soli Deo Gloria: benar, namun ironis jika menolak Gereja yang justru dipakai Allah untuk kemuliaan-Nya.

7. Devosi dan Dogma Maria – Devosi Maria bukan saingan Kristus, melainkan jalan menuju Kristus. Dogma Maria (Theotokos, Immaculata, Assumpta) berakar pada kebenaran Kristologi: tanpa Maria, tidak ada Yesus yang sungguh Allah-sungguh manusia.
8. Kesatuan Gereja – Kristus mendirikan satu Gereja, bukan ribuan denominasi. Fragmentasi Protestan adalah bukti lemahnya prinsip sola scriptura. Gereja Katolik tetap menjadi tanda kesatuan universal.
9. Imamat dan Ekaristi – Dalam Protestan tak ada imamat sakramental dan karena itu tak ada Ekaristi sejati. Tanpa imam yang ditahbiskan, roti dan anggur hanyalah simbol, bukan Tubuh dan Darah Kristus. Gereja perdana mengenal Ekaristi sebagai kurban, bukan sekadar perjamuan. *
Hironimus Adil



