Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik: Bukan Sekedar Hak tapi Tugas

NEGARA – Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar, kembali menghadirkan RD. Patris Allegro, seorang Apologetik yang belakangan sangat viral di media sosial seperti tiktok dan youtube, terutama dalam memberikan pencerahan dan pertanggung jawaban tentang iman Katolik.
Komisi Kitab Suci mengajak pastor kelahiran Oekiu-Timor Tengah Selatan-NTT, 19 Februari 1980, ini ke Dekenat Bali Barat, 18-20 Agustus 2025. Di Dekenat tersebut, Romo Patris Allegro, menjadi nara sumber dalam seminar ‘Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik’ di dua tempat berbeda yaitu Paroki St. Petrus Negara dan Paroki St. Paulus Singaraja.

Di Paroki Negara, seminar dilaksanakan Senin (18/8), dengan peserta dari 3 Paroki: Gumbrih, Palasari dan Negara, dengan total peserta hampir 260 orang. Keesokan harinya, Selasa (19/8), di Paroki Singaraja untuk umat paroki itu, dengan jumlah peserta sekitar 130 orang. Rabu (20/8) kembali ke Denpasar dan Kamis (21/8) melanjutkan misi yang sama di Mataram, Lombok (Dekenat NTB).
Sebelumnya, Maret 2025 lalu, komisi ini juga mendatangkan Romo Patris, demikian Imam Keuskupan Agung Kupang ini disapa, menjadi narasumber dalam seminar dengan tema yang sama di dua dekenat yaitu Dekenat Bali Tengah diadakan Paroki F.X. Kuta, dan hari berikutnya di Catholic Center untuk umat dari Dekenat Bali Timur. Antusias umat pada kesempatan itu juga cukup tinggi.
Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar, RD. Agustinus Maximus Soge, dalam setiap seminar menjadi moderator yang mengatur jalannya seminar.

Menurut Rm. Maxi, demikian disapa, Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik, ini merupakan program unggulan Komisi Kitab Suci 2025, sebagai jawaban atas tema karya pastoral 2025 Keuskupan Denpasar yakni “Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal yang Militan Melalui Katekese Kontekstual.”
Sebuah Panggilan
Pastor yang populer dengan nama Romo Patris Allegro, sejatinya memiliki nama asli RD. Patricius Neonnub. Rm. Patris dalam dua kali seminar di dua paroki itu, pada pengantar diskusi memaparkan bahwa mempertanggung jawabkan iman Katolik itu merupakan panggilan sebagai seorang Katolik.
“Mempertanggung jawabkan iman Katolik bukan sekedar hak tetapi tugas setiap orang yang telah dibaptis secara Katolik,” imbuhnya. Pendasaran biblis dari tugas itu adalah Surat Pertama St. Petrus yang memerintahkan “Siap sedia memberi pertanggung jawaban atas pengaharapan” (1 Ptr 3:15)
Teks itu lengkapnya berbunyi: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggung jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggung jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah tetap dengan lemah lembut dan hormat” (1 Ptr 3:15)

Menurut Rm. Patris, ada dua pilar pertanggung jawaban iman yaitu (1) Konsistensi hidup: jujur, setia, saling mengampuni, hidup rukun, keteladanan yang menarik orang pada Kristus; (2) Pengetahuan iman yang memadai: mengerti ajaran Gereja, Kitab Suci, sejarah iman, serta mampu menjawab tantangan secara benar dan bijak.
Iman Katolik, tegasnya, bukan sekedar rasa, tapi kebenaran. Iman dan akal (Fides et Ratio) lanjutnya, merupakan dua sayap menuju kebenaran. Pastor yang dikenal sebagai ‘tiktoker dan youtuber’ ini mengingatkan setiap orang Katolik akan pentingnya menemukan jawaban dalam diri sendiri: “kenapa saya harus tetap menjadi Katolik?”
Kata Romo Patris, Gereja mengajarkan bahwa hanya dalam Gereja Katolik ada keutuhan (kepenuhan) kebenaran. Di luar gereja, tetap diakui ada berkas-berkas kebenaran, tapi kepenuhan kebenaran itu, hanya ada dalam Gereja Katolik. “Ini ajaran Gereja, bukan menurut saya,” tegasnya.
Menurut Dosen Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, itu, Gereja menegaskan Kebenaran itu universal dan Kristus adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup. Romo Patris lantas mengajak pentingnya umat untuk belajar Kitab Suci dan Ajaran Gereja agar iman menjadi matang.
“Iman matang itu sadar, dialogis dan teruji,” ujarnya. Dengan iman matang, senantiasa sadar akan kebenaran iman Katolik melalui GerejaNya. Lalu, dialogis yaitu mewartakan iman itu dengan memberikan kesaksian, memperhatikan orang lain, memberikan hati untuk orang lain serta memberikan Nilai Katolik yang khas dalam segala dimensi hidupnya. Iman yang teruji, bahwa Gereja Katolik sudah teruji oleh sejarah tetap berdiri kokoh lebih dari 2000 tahun, kendati pun tantangan yang dihadapi tidak ringan.
Kemudian diuraikan bahwa tantangan zaman ini adalah adanya arus relativisme yang memandang semua agama dianggap sama, sehingga iman kehilangan daya tantang. Tantangan lain datang dari media sosial yang banjir informasi tapi sedikit formasi (pembentukan iman dan kepribadian) serta kehadiran sekte dan ajaran palsu.
Rm. Patris menguraikan, tantangan utama seorang Katolik adalah terjebak dalam pandangan relativisme. Maka, seorang Katolik juga terpanggil untuk melawan relativisme.
“Relativisme itu artinya tergantung. Kebenaran bisa tergantung pada situasi, atau tergantug apa saja. Relativisme tidak ada kebenaran karena akibatnya iman direduksi jadi opini. Jadi kebenaran itu tidak ‘relatif’ tapi ‘obyektif,” tegas Rm. Patris.
Di sisi lain, seiring perkembangan media sosial saat ini, persoalan iman bukan lagi hanya seputar ruang privat tapi tampil di ruang publik. “Generasi sekarang lebih banyak belajar melalui teknologi informasi (medsos) termasuk mendapatkan pengetahuan iman,” katanya.

Dalam situasi yang serba terbuka saat ini, menurut Rm. Patris, peran keluarga dalam pembinaan iman itu harus lebih ditingkatkan sebab pembinaan iman harus mulai dari keluarga. Apalagi, dengan teknologi informasi (TI) yang berkembang pesat.
Solusi pastoralnya antara lain pembinaan iman berkala di paroki/lingkungan, katekese dan Kitab Suci untuk semua usia, pelatihan apologetika awam: menjawab dengan sopan dan tegas, serta teladan hidup dan rumah jadi sekolah iman. “Pendampingan keluarga kepada anak-anak semakin sangat dibutuhkan,” lanjutnya.
Romo Patris memaparkan materi hanya sekitar 25 menit. Waktu selanjutnya diberikan seluas-luasnya kepada peserta untuk bertanya seputar iman Katolik.

Dari banyaknya pertanyaan umat ikut seminar di Paroki Negara, Romo Patris merangkumnya dalam delapan pernyataan sebagai berikut:
1. Kaum Tertahbis dan Ketaatan. Imam dan religius bukan orang suci karena dirinya, melainkan karena rahmat tahbisan yang menuntut ketaatan. Ketaatan bukan perbudakan, tetapi penyerahan diri demi kebaikan Gereja. Mereka yang menolak otoritas sering lupa bahwa tanpa struktur ketaatan, iman hanyalah opini pribadi.
2. Menghadapi Pertanyaan Non-Katolik. Pertanyaan dari luar iman tidak ditakuti, melainkan dijawab dengan tenang. Gereja memiliki fondasi rasional dan historis yang kokoh. Argumentasi Protestan atau skeptis biasanya hanya berdiri di atas asumsi pribadi, sementara iman Katolik berdiri di atas wahyu dan Tradisi yang teruji dua ribu tahun.
3. Media Sosial dan Kitab Suci. Kitab Suci bukan bahan perdebatan liar di YouTube atau Facebook. Ia hidup dalam liturgi dan Tradisi. Siapa yang mencomot ayat demi popularitas digital hanya menjadikan Injil sebagai konten, bukan sebagai Firman Allah yang menyelamatkan.
4. Supra-Natural. Iman Katolik tidak menolak realitas supranatural: mukjizat, malaikat, setan, semuanya nyata. Tapi iman tidak mencari tontonan gaib, melainkan mengarahkan hati kepada Kristus. Orang lain di luar Katolik sering menuduh Katolik terlalu “mistik”, padahal justru merekalah yang kehilangan rasa kagum akan misteri.
5. Bunda Maria dan Kitab Suci. Maria bukan tambahan, melainkan inti rencana keselamatan. Kitab Suci meneguhkan perannya: “semua keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). Menolak Maria berarti menolak Alkitab itu sendiri.
6. 25 Desember. Yesus mungkin tidak lahir persis pada tanggal itu, tetapi Natal 25 Desember adalah tanda Gereja yang menyinari dunia kafir dengan terang Kristus. Daripada meributkan kalender, lebih baik merayakan kebenaran inkarnasi yang menyelamatkan.
7. Youtuber dan Pengajar Iman. Banyak Youtuber rohani bersuara lantang tapi tanpa dasar Gereja. Mereka mengklaim otoritas pribadi, layaknya “paus mini” masing-masing. Gereja Katolik tidak butuh bintang konten, tetapi pewarta yang berakar pada Tradisi.
8. Pengalaman Menjadi Keyakinan Lain. Kesaksian iman tak pernah lahir dalam ruang hampa. Mereka yang kembali dari agama lain menemukan bahwa iman Katolik lebih dari sekadar ritual: ia adalah kebenaran universal yang melampaui batas budaya. Iman tidak dibeli di pasar spiritualitas, ia diterima dari Kristus lewat Gereja-Nya.
Seminar di Paroki Negara dibuka oleh Deken Bali Barat RD. Y.B. Nyoman Suryana, yang didahului sapaan kasih dari Pastor Paroki St. Petrus Negara RD. Benedictus Deni Mary, selaku tuan rumah. Selain dua imam itu, hadir pula bersama umatnya Pastor Paroki St. Maria Ratu Gumbrih RD. Paulus Seran Nahak.
Pastor Paroki Negara RD. Deni Mary, mewajibkan semua peserta yang akan menerima Sakramen Krisma untuk mengikuti Seminar ini karena sangat relevan pembinaan para calon Krismawan-Krismawati.*
Hironimus Adil


