Konferda VI WKRI DPD Bali-NTB; Memasuki Abad Kedua Hendaknya Lebih Cantik dan Gesit

DENPASAR – Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD Bali-NTB menggelar Konferensi Daerah (Konferda) VI sebagai forum tertinggi tingkat daerah. Organisasi yang sudah memasuki usia 100 tahun (1 abad) pada 2024, diharapkan semakin tangguh, lebih cantik dan gesit dalam berbagai karya dan pelayanannya.
Agenda utama Konferda VI WKRI yang berlangsung di Catolic Centre, 25-26 Januari 2025, antara lain menerima dan mengesahkan laporan pertanggung jawabaan pengurus DPD; menetapkan program dan rencana kerja tingkat daerah; serta memilih dan menetapkan Dewan Presidium DPD untuk periode 2025-2030 yang kemudian disahkan oleh Presidium DPP WKRI.

Katua DPD WKRI Bali-NTB periode 2020-2025, Elizabeth Natalia Prawitasari, sebelum pembukaan Konferda VI, kepada media ini menerangkan bahwa dari 22 cabang WKRI yang tersebar di Provinsi Bali dan NTB, 20 cabang hadir dengan total peserta 67 orang, sehingga dengan demikian memenuhi quorum.
Konferda VI diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Denpasar Mgr. Silvester San. Misa ini dimeriahkan olah koor persembahan WKRI Cabang St. Yoseph Denpasar yang dipercaya menjadi panitia pelaksana Konferda VI.
Dalam pengantar misa, Bapak Uskup mengajak seluruh peserta Konferda untuk bersyukur kepada Tuhan atas dilaksanakannya Konferda ini seraya berdoa agar seluruh proses Konferda dapat berjalan dengan baik dan lancar serta kehadiran WKRI sebagaI Ormas yang bernafaskan Katolik dapat membawa berkat bagi seluruh anggota, umat dan masyarakat.

Perayaan itu bertepatan dengan pesta pertobatan St. Paulus. Dalam homilinya, Bapak Uskup menegaskan, salah satu tugas Gereja yang diwariskan Yesus kepada para murid adalah tugas misioner atau perutusan.
Dengan meneladani St. Paulus, yang menjadi tokoh penting dalam mewartakan Injil dan bersaksi tentang Yesus ke segala bangsa, Bapak Uskup mengajak seluruh anggota WKRI, bahwa sebagai bagian persekutuan umat, WKRI juga diutus ke tengah dunia untuk memberikan kesaksian dan mewartakan kabar gembira Tuhan melalui perannya sesuai visi dan misi WKRI.

”St. Paulus pernah mengatakan, ’celakalah aku kalau tidak memberitakan Injil Tuhan,’ menunjukan komitmennya untuk mewartakan Injil, bukan hanya kepada orang Yahudi tetapi ke seluruh bangsa, sehingga Paulus terkenal sebagai rasul para bangsa,” ungkap Bapak Uskup.
Sebagimana diketahui St. Paulus sebelumnya seorang penghujat Yesus dan menganiaya setiap pengikutNya, mengalami pertobatan setelah berjumpa Yesus dalan perjalanan ke Damsyik dan kemudian dibaptis dan mengubah namanya dari Saulus menjadi Paulus (bdk. Kis. 22:3-26). Di penguhujung homilinya Bapak Uskup berharap agar WKRI terus eksis, selalu maju dan berkembang serta semakin mantap dalam karya dan pelayanan baik untuk Gereja maupun Bangsa dan Negara.
Inspirasi Bagi Perempuan Indonesia
Usai perayaan Ekaristi, dilanjutkan seremonial pembukaan Konferda VI. Dalam acara ini, selain Mgr. San, juga dihadiri oleh Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali (mewakili Penjabat Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya), Presidium Pengurus Pusat WKRI, Pengurus BKOW Bali, Pengurus FKUB, utusan Bimas Katolik, Ketua ISKA Provinsi Bali Komang Purnama, Anggota DPRD Provinsi Bali Grace Anastasia, dan undangan lainnya.

Penjabat Gubernur Bali dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali I Gusti Wiryanata, mengungkapkan, di usianya yang sudah mencapai 101 tahun, WKRI tetap eksis di Nusantara sebagai simbol keteguhan, pengabdian dan persatuan, serta terus berperan aktif dalam mendukung kemajuan bangsa, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan serta menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk berkarya dan melayani tanpa henti.
Menurut Penjabat Gubernur, keberadaan WKRI Bali-NTB tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Bali, tetapi juga menjadi inspirasi bagi organisasi-organisasi lain dalam menjalankan misi sosial keagamaan. WKRI, dia menambahkan, telah menjadi salah satu pilar penting dalam membangun masyarakat yang harmonis, damai dan berkeadilan.

“Saya percaya bahwa melalui konferensi ini, WKRI akan semakin kokoh dalam menghadapi perubahan, sekaligus mampu melahirkan ide-ide segar dan terobosan yang berdaya guna bagi umat dan bangsa,” ungkap Mehandra Jaya melalui Kaban Kesbangpol.
Penjabat Gubernur Bali juga memuji WKRI DPD Bali-NTB yang telah menerapkan ensiklik ‘Laudato Si’ (Terpujilah Engkau Tuhan), ensiklik yang berisi seruan Paus Fransiskus, melalui berbagai kegiatan seperti menanam mangrove, menanam terumbu karang, pilah sampah, menjaga kelestarian alam, dll.
Bukan Ormas Kaleng-kaleng
Sementara itu Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, dalam sambutannya mengatakan, WKRI dalam usianya yang mencapai 100 tahun bukanlah Ormas ‘kaleng-kaleng,’ sebab sudah banyakkarya dan pelayanannya bagi bangsa dan Negara juga untuk Gereja.
Bapak Uskup berharap agar WKRI dalam memasuki abad kedua ini senantiasa terus menjaga keberadannya, semakin tangguh, cantik dan gesit melalui perannya yang terus aktif dan kreatif di tengah masyarakat dan Gereja.
Bapak Uskup juga meminta WKRI untuk selalu menjaga kedamaian dan keharmonisan. Hal itu selaras dengan filosofi Tri Hita Karana yaitu harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan alam. Uskup juga berharap kepada seluruh anggota WKRI agar tangguh dalam segala bidang termasuk tangguh juga dalam keluarga masing-masing.
Presidium I DPP WKRI Lusia Willar dalam pidato pamungkas acara pembukaan itu mengatakan apresiasi kepada WKRI DPD Bali-NTB. Dengan dilaksanakannya Konferda ini tepat waktu, katanya, menunjukkan konsolidasi dan kadersiasi WKRI di wilayah Bali dan NTB ini berjalan dengan baik sesuai rel organisasi.
Tema yang diusung dalam Konferda VI “Menjaga Eksistensi Organisasi dengan Wajah Baru di Abad Kedua,” menurut Ibu Lusia, sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini dan mengajak setiap anggota WKRI untuk terus menumbuhkan rasa syukur dan sukacita dengan prinsip 2S-3A (solidaritas, subsidiaritas, asih, asah dan asuh).
“Mari kita saling sinergi, tidak saja di antara anggota tetapi dengan berbagai pihak termasuk sinergi dan mendukung pembangunan di daerah dan pusat,” ajaknya.
Melalui slogan ‘lahir kembali dan semakin berarti’ dia berharap kehadiran WRI senantiasa memberikan dampak positif bagi anggota, umat dan masyarakat.
Ketua WKRI DPD Bali-NTB, Elizabeth Natalia Prawitasari, di hadapan peserta dan undangan Konferda menjelaskan bahwa selama kepemimpinannya terus bergandengan tangan dengan berbagai pihak termasuk dengan pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas terkait. “Kami siap memasuki abad kedua dan berharap WKRI boleh terus berkontribusi untuk Bali dan NTB,” katanya.
Ketua Panitia Konferda VI Natalia Widyastuti, dalam kesempatan itu menjelaskan makna dari tema yang diusung “Menjaga Eksistensi Organisasi dengan Wajah Baru di Abad Kedua.” Menurut dia, tema ini ingin menegaskan, dengan wajah baru yang transformatif, WKRI DPD Bali-NTB diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam karya sosial yang mengacu pada program kerja hasil Kongres XXI tahun 2023.
“Wajah baru ini juga melambangkan semangat dan energi baru yang siap membawa organisasi menuju Indonesia maju. Di abad kedua ini, WKRI harus semakin terlibat dalam realitas sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Injili dan Ajaran Sosial Gereja,” terang Natalia.
Talk Show
Konferda kali ini juga diwarnai talk show yang dilaksanakan sebelum misa pembukaan. Talk show yang dimoderatori oleh Jessica Tokilov menghadirkan 3 narasumber yaitu RP. DR. Paskalis Nyoman Widastra,SVD selaku Penasehat Rohani WKRI DPD Bali-NTB, Lusia Willar (Presidium I DPP WKRI), dan Elizabeth Natalia Prawitasari (Ketua Presidium WKRI DPD Bali-NTB periode 2020-2025).
Dari paparan dan gagasan para narasumber, benang merah yang dijadikan rangkuman dari talk show itu antara lain bahwa WKRI adalah organisasi yang didasari oleh nilai-nilai pelayanan, spiritualitas dan inklusivitas.

Kemudian, ketahanan WKRI selama lebih dari satu abad tidak terlepas dari komitmen, semangat dan adaptasi terhadap zaman. Lalu, memasuki abad kedua, strategi efisiensi dan efektivitas menjadi kunci untuk tetap relevan di era globalisasi.
Berikut, bahwa kepemimpinan yang inklusif mampu mendorong kerjasama, saling menghormati dan partisipasi aktif dari semua anggota organisasi tanpa memandang perbedaan seperti gender, agama, usia, budaya atau pandangan politik. Kepempinan inklusif itu memerlukan penguatan spiritual, kemampuan beradaptasi dan keberanian untuk terus maju.
Hari pertama Konferda diakhiri dengan pentas seni berupa kaleodoskop WKRI yang memadukan visualiasi multimedia dengan karya seni. Hari berikutnya kegiatan padat dengan agenda sidang orgasisasi mulai dari Laporan Pertanggung Jawaban pengurus hingga pemilihan Preasidium baru periode 2025-2030. *
Hironimus Adil



