Teknologi Tinggi, Hati yang Dekat dan Ajakan Menjadi Komunikator Harapan

Gumbrih-Minggu 17 Mei 2026 kemarin, Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-60. Paus Leo XIV mengusung tema Hari Komunikasi Sosial 2026 ini: Menjaga Suara dan Wajah Manusia.
Di Paroki Maria Ratu Gumbrih, misa perayaan Hari Komunikasi Sedunia dipimpin Pastor Paroki RD. Paulus Seran Nahak dan RD. Yohanes Kadek Ariana, imam kelahiran paroki ini yang dipercayakan membawa homili.
Romo Kadek, demikian biasa disapa, dalam homilinya mengangkat tema ‘teknologi tinggi, hati yang dekat, menjadi komunikator harapan.’ “Tema ini selalu relevan, tapi mungkin hari ini rasanya lebih menusuk hati kita,” katanya.
Menurut Rm. Kadek, saat ini manusia hidup di zaman teknologi tinggi. Dengan satu sentuhan, pesan akan sampai ke ujung dunia. “Kita bisa komentar, like, share, dalam hitungan detik. Tapi ironisnya, justru di tengah kecanggihan ini, hati manusia semakin jauh,” katanya.
Menurut Rm. Kadek, dengan pesan yang disampakan mungkin banyak yang berkomentar, tapi sedikit yang mendengar, banyak yang menulis, tapi sedikit yang memahami. Media sosial penuh suara, tapi kosong dari kasih.
Dikatakan, komunikasi itu bukan merek HP mahal. Komunikasi bukan seberapa cepat orang mengetik. Komunikasi adalah bagaimana saling menyentuh hati. Dan itu yang diajarkan Injil pada perayaan Minggu ini.

Dalam perikop Injil, ungkap Romo Kadek, Yesus meninggalkan murid-murid-Nya. Di saat perpisahan itu, Dia tidak bicara soal kekuasaan, tidak bicara soal strategi, tidak bicara soal siapa yang terbesar. Yesus bicara soal kesatuan. Yesus bicara soal komunikasi.
“Komunikasi tanpa kasih akan tercerai berai. Secara biblis, komunikasi itu sendiri adalah kasih. Lihatlah bagaimana Yesus berkomunikasi dengan para murid. Dia mendengar, Dia menjelaskan, Dia sabar. Lihatlah Yesus dengan Bunda Maria. Satu hati, satu rasa, meski berdiri di bawah kaki salib. Itulah komunikasi yang menyelamatkan, komunikasi yang membuat dua hati menjadi satu,” imbuhnya.
Romo Kadek lantas mengungkapkan bahwa pada Hari Komunikasi Sedunia ini, umat diajak menjadi komunikator harapan. Menjadi pendengar yang sungguh mendengar, bukan hanya menunggu giliran bicara. Menjadi orang yang memperhatikan, bukan hanya menilai dari luar.
“Sungguh ironis. Kita rajin berdoa di gereja, memohon damai dan kasih. Tapi ketika membuka media sosial, yang keluar dari jari kita adalah kemarahan, kecaman, kata-kata yang kurang pantas. Kita membangun tembok dengan kata-kata, padahal Tuhan memanggil kita membangun jembatan,” tegasnya penuh refleksi.
Maka di Minggu Komunikasi Sedunia ini, Romo Kadek mengajak untuk bertobat dalam cara berkomunikasi, sambil bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang saya tulis di medsos membawa damai atau menambah luka?, Apakah saya lebih cepat menghakimi daripada mendengar?, Apakah saya hadir sungguh-sungguh saat berbicara dengan keluarga, teman, sesama di rumah dan di masyarakat?”

Lebih lanjut Romo Kadek mengungkapkan, berbahagialah mereka yang jika karena nama Yesus dinistakan. “Dunia mungkin mengejek orang yang lemah lembut, yang memilih diam daripada membalas makian. Tapi ingatlah, Yesus Kristuslah yang meninggikan kamu,” katanya.
Di bagian lain homilinya, Romo Kadek, mengingatkan, “Hari ini Tuhan mengajak kita, jangan biarkan teknologi membuat kita kehilangan hati. Jadikan setiap kata, setiap pesan, setiap percakapan sebagai sarana membawa kasih, bukan kebencian.”
Menutup homilinya Rm. Kadek berharap agar di Hari Komunikasi Sosial ke-60 ini, semua bisa menjadi pembawa harapan, baik dalam keluarga, di tempat kerja, di media sosial dan di tengah masyarakat dengan komunikasi yang penuh kasih.
Penulis: F. Nyoman Melastika
Editor: Hiro/KomsosKD



