LEMBARAN IMAN

Maria Magdalena dan Kabar Sukacita

Oleh: Wastuwijaya

Prolog
Saya senang sekali mendengar penjelasan yang terkasih Romo Vikjend RD. Herman Yoseph Babey, memaparkan pesan bapa suci Leo XIV tentang hari Komunikasi Sosial ke 60 tentang menjaga suara dan wajah manusia. Saya kira saya tidak perlu menyampaikan apa pesan bapa suci tersebut di sini, namun biarlah ketika kita mendengarkan homili pada di hari minggu 17 Mei 2026, kita merasakan sendiri apa yang Gereja mau dan harapkan bagi kita di hari yang Istimewa tersebut.

Prioritas mendengar

Karena pesan Bapa Suci adalah menjaga suara dan wajah manusia, izinkan saya menyampaikan pandangan berdasarkan permenungan pribadi dan karena masih oktaf paskah saya teringat injil Yohanes Bab 20, pada saat pagi buta Maria Magdalena datang menengok kubur Tuhan kita.

Saya coba membayangkan perjalanan yang ia tempuh saat itu, pasti cukup jauh dan melelahkan, namun semangat untuk melayani sang Guru yang baru saja wafat karena penderitaan di kayu Salib membuatnya menahan haru dan mungkin saja emosi, isak tangis sudah ada dalam perjalanan menuju kubur batu sambil membawa rempah-rempah.

Ia kaget karena batu di kubur itu telah digulingkan, maka ia cepat-cepat Kembali untuk bertemu Simon Petrus dan murid yang lain untuk mengabarkan pesan bahwa Tuhan telah di ambil orang dari kuburnya dan ia bersama teman-temannya tidak tahu di mana Ia diletakkan. Saya kira ternyata para wanita tidak dikesampingkan perannya dalam Injil, Maria Magdalena menjadi teladan penyampai kabar, penyampai komunikasi.

Akhirnya kita mengetahui, bahwa Petrus dan murid yang lain berangkat juga ke kubur setelah mendengar kabar dari Maria Magdalena itu, meskipun Petrus datang sedikit lebih terlambat dari murid yang lain, murid yang lebih dahulu datang mempersilakan Petrus untuk masuk sampai dalam kubur terlebih dahulu, sudah tidak ada lagi Guru mereka di kubur, yang ada hanya kain kafan yang terletak di tanah dan kain peluh yang sudah tergulung, dan mereka melihatnya lalu percaya.

Selanjutnya kita akan memuji betapa Santa Maria Magdalena tidak begitu saja pergi dari kubur, namun ia menangis dan masuk ke dalam kubur, tampaklah padanya dua orang malaikat berpakaian putih (entah karena sedang menangis dan terisak, mungkin saja pandangan Maria saat itu menjadi kabur).

Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? ” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan. Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni! “, artinya Guru

Saya kira, di sinilah menurut saya letak keistimewaan selanjutnya, ketika Maria Magdalena mengenali suara Tuhan, dan ia mendengar dan menyahut karena dipanggil namanya, ia berpaling dan menjawab Rabuni. Saya menggarisbawahi ini sesuai dengan pesan Bapa Suci pada hari komunikasi sosial sedunia ke 60 “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, kita harus lebih banyak mendegar, merasakan, merefleksikan supaya apa yang saat ini terjadi kita dapat mengetahuinya lebih dalam, tidak saja mengandalkan kemudahan yang ditawarkan teknologi saat ini, meskipun dunia sedang berada dalam masa kecerdasan buatan yang membantu dan mendukung dalam berbagai tugas, kita sebagai citra Allah harus meneladani apa yang telah di lakukan Maria Magdalena, ia mau mendengarkan, mengenali suara Guru, Sang Kristus dan tentu saja kebijaksanaan itu timbul setelah keterbukaan hati dalam rencana Allah.

Epilog

Akhirnya saya juga teringat akan Yesus yang terlebih dahulu hubungkan antara Gembala dan kawanan dombaNya, salah satu wujudnya adalah hubungan dengan mengenal suara, maria magdalena memberikan teladan kepada kita sebagai domba yang baik, ia mendengar dan mengenal suara Gembalanya. Masa dunia Digital saat ini tidak akan memberikan kebahagiaan penuh tanpa kembali menjaga suara dan wajah manusia yang merupakan gambaran Allah yang maharahim. *

Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button