Turba BPI Keuskupan Denpasar di Paroki Sumbawa Fokus pada Pemberdayaan KBG

Sumbawa Besar-Menyadari pentingnya komunitas kecil sebagai jantung kehidupan menggereja, Bidang Pembinaan Iman (BPI) Keuskupan Denpasar memulai rangkaian kegiatan Turun ke Bawah (Turba) di wilayah Pulau Sumbawa. Mengambil titik awal di Paroki Sang Penebus-Sumbawa Besar, kegiatan pembinaan ini mengusung tema visioner: “Pemberdayaan KBG yang Solid dan Solider”.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (10/5), ini bukan sekadar kunjungan administratif, melainkan sebuah upaya strategis untuk memastikan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) benar-benar menjadi “Oase Iman” bagi umat di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Ekaristi : Panggilan untuk Mengasihi dengan Tindakan Nyata
Rangkaian acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang khidmat pada pukul 08.00 WITA. RD. Agustinus Sugiyarto, Ketua BPI sekaligus Sekretaris Keuskupan Denpasar, dalam homilinya menegaskan bahwa spiritualitas KBG harus berakar pada cinta kasih yang konkret.

RD. Agustinus Sugiyarto memimpin Misa Minggu PAskah ke-VI sekaligus membuka pertemuan.”Mengasihi berarti rela memberikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesama. Inilah esensi dari komunitas yang hidup,” ujar Romo Agus di hadapan umat.
Usai ibadah, agenda berlanjut di Aula Rumah Retret dengan kehadiran 78 perwakilan pengurus Lingkungan, Stasi, dan KBG. Pastor Paroki Sang Penebus, RD. Laurensius Maryono, memaparkan data terkini paroki yang kini melayani 3.074 jiwa (822 KK).
Mengingat pertumbuhan jumlah umat yang signifikan di 8 Lingkungan dan 5 Stasi, Romo Maryono juga menyampaikan rencana strategis perluasan gedung gereja demi kenyamanan ibadah umat di masa depan.

Menjadikan KBG sebagai “Sel Dasar” yang Hidup
Dalam sesi materi inti, RD. Agustinus Sugiyarto menekankan reposisi KBG. Ia menegaskan bahwa KBG bukanlah sekadar perpanjangan birokrasi Gereja, melainkan sel dasar tempat Gereja hadir secara nyata di tengah masyarakat.
Beberapa point penting yang ditekankan dalam pembekalan ini antara lain :
Fleksibilitas & Kreativitas: Pertemuan KBG disarankan berdurasi 60-90 menit dengan variasi kegiatan seperti gathering santai atau piknik agar tidak membosankan.
Gembala Berbau Domba : Pengurus diharapkan aktif melakukan visitasi kasih kepada umat yang pasif atau “terluka” tanpa sikap menghakimi.
Inklusivitas : Umat Katolik harus menjadi ragi yang membaur aktif dalam kehidupan sosial di lingkungan RT/RW setempat.
Prinsip Tetangga (Teritorial): Pemekaran KBG idealnya terdiri dari 10-15 KK berdasarkan kedekatan rumah, bukan berdasarkan latar belakang karier atau etnis, guna mempererat relasi personal.

Sesi dialog berlangsung dinamis saat peserta mendiskusikan kendala pemekaran wilayah. Menanggapi kekhawatiran mengenai minimnya figur pemimpin atau potensi dominasi etnis tertentu pasca-pemekaran, Romo Agustinus memberikan jawaban optimistis.
“Jangan takut melangkah. Mekarkan saja dulu; seiring berjalannya waktu, Roh Kudus akan menggerakkan pribadi-pribadi untuk melayani sebagai ketua,” tegasnya. Ia juga mengingatkan agar pendekatan pastoral tetap mengedepankan kenyamanan umat dan tidak bersifat memaksa.

Kegiatan diakhiri dengan sesi simulasi memandu pertemuan KBG. Peserta dibagi dalam 4 kelompok. Dalam sesi ini peserta berlatih secara praktis di bawah bimbingan tim BPI dan pastor paroki. Suasana yang cair dan penuh tawa menunjukkan antusiasme peserta dalam membawa perubahan di wilayah masing-masing.

Melalui Turba ini, diharapkan para pengurus yang hadir kembali ke komunitasnya sebagai motor penggerak yang mampu menghidupkan KBG menjadi komunitas yang tidak hanya berdoa, tetapi juga peduli, solid, dan solider.
Penulis: Made Suryani-Komsos Sumbawa Besar
Editor: Bowo



