Perayaan Minggu Palma di Paroki St. Yoseph, Sebagian Umat Penuhi Badan Jalan Kepundung
Daun Palma Sebagai Simbol Damai, Bukan Angkat Senjata

DENPASAR – “Pekan Suci yang akan kita lewati merupakan kesempatan untuk merenung, kesempatan masuk ke dalam ruang hati masing-masing dalam kesepian dan kesendirian. Tinggalkan drama, ciptakan damai dan kalahkan diri sendiri.
Kita mencoba masuk dalam situasi yang dialami Yesus yang ditinggal sendirian saat sengsara dan maut hendak menjemput. Kita harus berani mengoreksi diri kita dan mau berubah dari dosa, supaya kita pun mengalami kemenangan dan sukacita Paskah bersama Yesus,”
Kalimat penuh refleksi di atas adalah penggalan homili Pastor Paroki St. Yoseph Denpasar RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD, dalam homili Misa Minggu Palma.
Gereja Katolik sejagat Minggu ini sudah memasuki Pekan Suci. Rangkaian Pekan Suci ini dimulai dengan Perayaan Minggu Palma.
Di Paroki St. Yoseph Denpasar, jadwal perayaan Minggu Palma sama seperti misa hari Minggu biasa, dengan tiga kali Misa: Sabtu (28/3) sore pukul 18.00, Minggu (29/3) pagi pukul 08.00 dan Minggu sore pukul 18.00.
Berhubung kondisi gereja yang tidak memungkinkan, maka tidak ada perarakan panjang. Keluar dari Sakristi, Pastor Paroki RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD yang memimpin misa, bersama petugas liturgi langsung menuju teras gereja untuk upacara pemberkatan daun palma yang telah tersedia di atas meja oleh Panitia Paskah.
Kemudian dibantu Prodiakon, Pastor Paroki berkeliling ke tempat-tempat umat berada untuk memerciki air suci pada daun-daun palma yang dilambaikan umat.
Liturgi Minggu Palma berbeda dari hari Minggu biasa, selain pemberkatan daun palma, juga ada bacaan suci dan homili singkat di depan gereja. Setelah itu, baru Imam bersama seluruh petugas liturgi melanjutkan perarakan menuju altar dan saat itu daun-duan palma yang dimiliki seluruh umat ikut dilambaikan sampai imam tiba di panti imam.
Rm. Ketut, demikian Pastor Paroki biasa disapa, menerangkan, Minggu Palma adalah membuka jalan masuk Pekan Suci, di mana Yesus dengan menunggangi keledai memasuki Kota Yerusalem yang disambut dengan sukacita dan gegap gempita oleh umat sambil melambaikan daun palma di tangan.

“Hari ini kita peringati Raja Damai Yesus Kristus yang dielu-elukan memasuki Yerusalem. Dengan menunggang keledai, menunjukan kerendahan hati Yesus. Sedangkan daun palma adalah simbol kemenangan, pengharapan dan simbol damai. Umat mengangkat daun palma sebagai symbol damai, bukan angkat senjata,” katanya.
Menurut Pastor Paroki St. Yoseph, Minggu Palma adalah suatu perayaan sukacita, mengelukan Yesus di Yerusalem sambil memegang dan melambaikan daun palma. Tetapi juga ada misteri, di mana sambutan sukacita yang ditunjukan pada Minggu Palma, hanyalah sebuah drama yang penuh dengan kemunafikan. Sebab, setelah seruan hosana yang penuh sukacita di Minggu Palma, orang-orang yang sama, berbalik meneriakan ‘Salibkan Dia’ pada hari Jumat Agung.
“Apakah kita sama seperti mereka yang sebelumnya berteriak hosana, tapi pada kesempatan berikutnya, entah karena dipengaruhi orang atau iman kita yang lemah, kita ikut berteriak ‘Salibkan Dia,” tegas Rm. Ketut, retoris.
Lanjutnya, betapa hidup manusia penuh drama, tidak setia dan tidak konsisten karena mudah dihasut. Pekan Suci, ungkapnya merupakan kesempatan merenung, kesempatan masuk ke dalam ruang hati masing-masing dalam kesepian dan kesendirian, meninggalkan drama dan menciptakan damai serta kalahkan diri sendiri.
Rm. Ketut mengajak umat untuk masuk dalam situasi yang dialami Yesus yang ditinggal sendirian saat sengsara dan maut hendak menjemput, seraya harus berani mengoreksi diri sendiri dan mau berubah dari dosa, agar mengalami kemenangan dan sukacita Paskah bersama Yesus.
Duduk di Badan Jalan
Gereja bersejarah Paroki St. Yoseph Denpasar yang memiliki ukuran mungil, selalu tak mampu menampung umat yang biasanya membludak terutama saat hari-hari raya.
Kendati dalam gereja sudah padat, termasuk di balkon dan teras gereja, ruang pastoran maupun ruang pertemuan di sayap kiri gereja yang luasnya sangat terbatas, tetap tidak mengakomodir semua umat yang hadir.

Salah satu jalan keluar adalah menyiapkan bangku dan ditempatkan di badan jalan Kepundung (tepat depan gereja) untuk tempat duduk umat.
Hal tersebut dimungkinkan karena Panitia Paskah 2026 Paroki St. Yoseph Denpasar, khususnya Seksi Keamanan sudah mengajukan ijin khusus kepada pihak berwenang, supaya selama perayaan Pekan Suci, mulai dari Minggu Palma (misa Minggu pagi dan sore) hingga Tri Hari Suci, jalan Kepundung Denpasar ditutup sementara selama perayaan berlangsung.

Ketua Panitia Paskah Paroki St. Yoseph Denpasar, Sergio, dari Lingkungan Renya Rosari, menjelaskan bahwa Panitia Paskah melalui Seksi Keamanan sudah mengajukan ijin kepada pihak-pihak berwenang terkait, supaya alur kendaraan yang mau lewat di jalan Kepundung dialihkan ke jalur lain khususnya saat perayaan berlangsung.

Atas dasar itu, maka saat Misa Minggu Palma di pagi dan sore hari jalan itu ditutup dan bangku-bangku ditata di badan jalan tepat depan gereja untuk tempat duduk umat. Hal yang sama akan kembali terjadi selama perayaan Tri Hari Suci (Kamis 3/4 – Minggu, 6/4 2026), dan nantinya juga dipasangkan tenda untuk melindungi umat dari cuaca panas atau ketika hujan.
Perayaan Paskah Paroki St. Yoseph 2026 ini, mempercayakan Lingkungan Renya Rosari sebagai Panitia Paskah. Kepanitiaan, baik Paskah maupun Natal akan terus digilir ke setiap Lingkungan yang ada. Selamat memasuki Pekan Suci bagi Umat Katolik! *
Penulis : Hironimus Adil



