LINTAS PAROKI

Paroki YGYB Layani Sakramen Tobat di Setiap KBG

Ajak Umat Meneladani Gereja Perdana dalam Kebersamaan KBG

DENPASAR – Sakramen Tobat, yang juga dikenal sebagai Sakramen Rekonsiliasi atau Pengakuan Dosa, merupakan salah satu anugerah istimewa dalam kehidupan Gereja Katolik. Melalui sakramen ini, umat beriman diajak mengalami secara nyata kasih dan kerahiman Allah yang selalu terbuka bagi setiap pribadi yang bertobat.

Dalam tradisi Gereja, Sakramen Tobat secara khusus dihayati menjelang dua perayaan besar iman, yakni Natal dan Paskah. Masa Adven dan Masa Prapaskah menjadi waktu yang tepat bagi umat untuk membersihkan hati dan mempersiapkan diri menyambut misteri kelahiran serta kebangkitan Kristus.

Namun ada yang berbeda dalam pelaksanaan Sakramen Tobat kali ini di Paroki Yesus Gembala Yang Baik (YGYB) Denpasar. Jika biasanya pelayanan pengakuan dosa dilaksanakan di gereja, kali ini Sakramen Tobat justru dihadirkan langsung di tengah-tengah Komunitas Basis Gerejawi (KBG).

Pastor Paroki YGYB RP. Yohanes I Nyoman Madia Adnyana,SVD dan Pastor Rekan Romo Gregorius Gery Wangge,SVD secara khusus mendatangi KBG-KBG untuk melayani umat di lingkungan masing-masing.

Menurut Romo Gery, langkah ini merupakan bagian dari dinamika Gereja yang hidup dan bertumbuh bersama umat. Semua itu, menurutnya, adalah wadah untuk berkumpulnya warga KBG dalam semangat persaudaraan dan iman.

Romo Gregorius Gery Wangge, SVD saat hadir di KBG Santo Matius, Lingkungan Santa Maria Regina, untuk memimpin Ibadat Tobat yang dilanjutkan dengan penerimaan Sakramen Tobat atau pengakuan dosa pribadi, Selasa (3/3/2026).

“Apa yang kita lakukan ini adalah meneladani jemaat Gereja perdana, di mana umat berkumpul dalam komunitas-komunitas kecil,” ujarnya, saat hadir di KBG Santo Matius Lingkungan Santa Maria Regina, Selasa (3/3/2026) malam.

Romo Gery juga mengajak umat untuk melihat kembali sejarah Gereja yang berawal dari persekutuan sederhana di rumah-rumah. “Siapa sangka Gereja Katolik yang sekarang besar ini juga berasal dari rumah-rumah kecil tempat umat berkumpul, yang kini kita sebut KBG. Siapa tahu dari sana terang itu memancar dan menjadi kesaksian bagi banyak orang,” tambahnya.

Romo Gery juga menegaskan bahwa pengakuan dosa pada dasarnya dapat dilaksanakan di mana saja. Meski bagi sebagian umat hal ini terasa baru dan menimbulkan pertanyaan, karena rumah dianggap bukan tempat suci. Namun Romo Gery menekankan bahwa rumah yang telah diberkati adalah tempat yang kudus.

“Kesucian pengampunan Tuhan tidak pernah terpengaruh oleh tempat yang digunakan. Berkat Tuhan berdiri sendiri,” tegasnya.

Ia pun memahami jika ada umat yang merasa kurang nyaman, entah karena mengenal imam secara pribadi atau karena berada dalam lingkup komunitas kecil. Namun ia mengingatkan agar tidak ada sikap saling menghakimi. Pengakuan dosa adalah persoalan pribadi dan menyangkut privasi setiap umat.

Tujuan utama pertemuan KBG adalah membangun kebersamaan, sementara Sakramen Tobat merupakan undangan rahmat dari Tuhan yang ditawarkan kepada masing-masing pribadi. “Pengakuan dosa adalah undangan dari Tuhan, maka jangan disia-siakan. Namun umat tetap berhak memilih dan memutuskannya,” pungkasnya.

Kehadiran gembala di tengah umat ini menjadi tanda nyata perhatian dan kepedulian Gereja, agar semakin banyak umat memperoleh kesempatan mengalami rahmat pengampunan Tuhan. Suasana yang lebih dekat dan personal di lingkungan KBG diharapkan membantu umat mempersiapkan diri menyambut hari raya dengan hati yang damai dan penuh sukacita.

Melalui pelayanan Sakramen Tobat di KBG ini, paroki menegaskan bahwa rahmat Allah tidak dibatasi oleh ruang dan tempat. Di mana pun umat berkumpul dalam iman, di situ pula kasih dan pengampunan Tuhan dinyatakan. Gereja hadir, berjalan bersama umat, dan menjangkau hingga ke lingkungan terkecil—membawa terang pertobatan dan harapan baru.

Sementara itu, Pastor Paroki Yesus Gembala Yang Baik Denpasar, RP. Yohanes I Nyoman Madia Adnyana, SVD, menjelaskan, pelaksanaan Sakramen Tobat di tingkat KBG bukanlah keputusan spontan, melainkan bagian dari arah pastoral yang jelas dan terencana.

Pastor Paroki Romo Yohanes I Nyoman Madia Adnyana, SVD (Romo Yan) usai melayani umat KBG Santo Lukas Lingkungan Sanmare dalam Ibadat Tobat yang dilaksanakan di Kapel Paroki Yesus Gembala Yang Baik Denpasar.

Romo Yan menjelaskan bahwa langkah ini sejalan dengan tema pastoral Keuskupan Denpasar Tahun 2026, yakni “Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal melalui Keluarga, Sekami, OMK dan KBG yang Solid dan Solidaritas.”

Melalui pelayanan langsung di KBG, semangat Gereja sinodal—berjalan bersama, mendengarkan, dan saling menguatkan—diharapkan semakin nyata dalam kehidupan umat sehari-hari.

Selain itu, pelayanan Sakramen Tobat di KBG juga dimaksudkan untuk mendukung para pengurus KBG dalam upaya mengumpulkan umat di lingkungan masing-masing. Momentum ini menjadi kesempatan bagi umat untuk saling mengenal dan mengasihi, membangun kekuatan ke dalam (solid) sekaligus menumbuhkan solidaritas sebagai Gereja basis yang bergerak bersama bagi paroki dan masyarakat.

Romo Yan menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari agenda tetap paroki. Turba (turun ke bawah) pastor ke KBG dijadwalkan empat kali dalam setahun, yakni pada Masa Prapaskah dan Masa Adven dalam bentuk pelayanan Sakramen Tobat, serta pada bulan Mei dan Oktober dalam bentuk silaturahmi pastoral. Khusus kunjungan di luar masa tobat, biasanya diangkat tema-tema tertentu untuk pendalaman iman dan penguatan komunitas.

Secara jujur, Romo Yan mengakui sbahwa model pelayanan ini membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Untuk melayani Sakramen Tobat umat se-Paroki dengan dua imam, dibutuhkan waktu tersendiri hingga kurang lebih sebelas hari. Namun, demi terbangunnya KBG yang sungguh berarti, karya ini dijalankan dengan penuh sukacita.

Sebagai paroki yang masih tergolong baru, Romo Yan menilai inilah saat yang sangat ideal untuk membangun fondasi umat yang solid dengan sistem yang baku dan terarah. Harapannya, setiap KBG benar-benar terbentuk sebagaimana seharusnya, yakni menjadi Gereja dalam skala kecil yang hidup, saling peduli, dan menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah masyarakat. *

Penulis: Karolina Ida-Komsos Paroki YGYB Denpasar
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button