Paroki Kulibul Adakan Literasi Peran Migran Perantau dan OMK dalam Menjaga Kamtibmas

KULIBUL, BADUNG – Paroki St. Paulus Kulibul menyelenggarakan literasi seputar keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), Minggu (19/04/2026 di aula pastoran paroki itu.
Kegiatan tersebut merupakan program Seksi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KP-PMP) Paroki St. Paulus Kulibul, yang bertujuan untuk mewujudkan kedamain dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat, Peserta kegiatan umumnya para Perantau dan OMK yang ada di paroki Kulibul. Beberapa pengurus DPP Kulibul juga hadir.
Ketua Seksi KP-PMP Paroki St. Paulus Kulibul Frans Weti, mengungkapkan bahwa kegiatan itu sangat penting dan strategis khususnya bagi para migran dan perantau, terutama di tengah isu hangat seputar keberadaan perantau di Bali belakangan ini.

Frans Weti, dalam sapaannya sedikit berseloroh bahwa yang diundang mengikuti kegiatan ini adalah mereka yang peduli dengan Kamtibmas, bukan orang bermasalah. Hal ini disampaikannya sekaligus untuk mengklarifikasi pesan WhatsApp yang dia terima ketika ada yang bertanya apakah yang diundang mereka yang bermasalah.
Pastor Paroki St. Paulus Kulibul RD. Flavianus Endi, yang membuka kegiatan itu mengungkapkan, kegiatan ini sangat bermanfaat agar para migran perantau serta OMK memahami pentingnya menjaga Kamtibmas demi terciptanya keharmonisan.
Rm. Flavianus Endi, dalam giat sehari ini juga menjadi mitra diskusi (narasumber) bersama dua narasumber lainnya yaitu Yosep Yulius Diaz- Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Keuskupan Denpasar) dan Herman Joseph Siu Ngadha – Ketua Umum Ikatan Keluarga Ngada (Ikada) Bali.

Ketika acara pembukaan, mendengarkan sapaan kasih Ketua Seksi KP-PMP Paroki St. Paulus KulibulRomo Vian, demikian Pastor Paroki akrab disapa, dalam kesempatan itu, fokus memberikan pencerahan tentang Migran Perantau dalam prespektif Gereja Katolik. Menurut Rm. Vian, Gereja Katolik memandang Migran-Perantau sebagai wajah Kristus sendiri, juga sebagai saudara.
Hal tersebut, lanjutnya, diperkuat oleh 4 prinsip utama ajaran Gereja Katolik soal Migran-Perantau. Prinsip pertama, martabat manusia, sebagai Imago Dei atau citra Allah (bdk. Kejadian 1:27 dan Ajaran Sosial Gereja/ASG 144) bahwa Migran Perantau adalah anak-anak Allah.
Prinsip kedua, hak untuk bermigrasi dan hak untuk tidak bermigrasi (bdk Katekismus Gereja Katolik/KGK 2241): Migrasi bukan cita-cita tetapi sering jadi jalan terakhir demi hidup yang layak.

Prinsip ketiga, menurut Rm. Vian, Gereja melihat diri sebagai Gereja yang merantau. Alkitab penuh dengan kisah perantau seperti Abraham, Yusuf, Keluarga Kudus Nazareth, dan lain-lain. “Kemudian Misi Gereja itu adalah menyambut-melindungi, mempromosi dan mengintegrasikan. Ini yang menjadi prinsip keempat,” katanya.
Rm. Vian, lantas mengutip kata-kata Paus Yohanes Paulus II bahwa tidak ada orang asing dalam Gereja. Bagi orang Katolik, mengasihi Migran berarti mengasihi Kristus yang berkata ‘Aku orang asing dan kamu memberi Aku tumpangan’ (bdk. Mateus 25:35).
Narasumber berikutnya tampil secara panel Yosep Yulius Diaz dan Herman Joseph Siu Ngadha. Ketua Ikada Bali, Herman Joseph menegaskan perlunya peningkatan kesadaran Migran-Perantau maupun OMK akan pentingnya menjaga Kamtibmas.
“Bagi OMK, menjaga Kamtibmas berarti menjadi mata dan telinga yang peka terhadap potensi gangguan keamanan seperti peredaran narkoba, radikalisme atau tindakan kriminal di sekitar gereja dan tempat tinggal,” kata Herman Joseph.

Sementara untuk para Migran-Perantau, Herman Joseph menekankan penting memahami hak dan kewajiban. “Sering perantau hanya fokus pada hak untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal, hak mendapatkan perlindungan dan dihargai, namun melupakan kewajibannya,” tegasnya, s
Herman Joseph, menyerukan agar sebagai warga masyararakat setiap perantau juga punya kewajiban yang mencakup menghargai norma adat setempat, menjaga ketenangan lingkungan dan mematuhi peraturan hukum yang berlaku. Intinya, sebagai umat Katolik, kata Herman, harus bisa menjadi Garam dan Terang di tengah masyaratka terutama di tempat tinggal atau di tempat kerja.
Berbaur dan Berdampak
Sementara itu Ketua KKP-PMP Keuskupan Denpasar, Yosep Yulius Diaz, dengan topik materi ‘Beriman dan Bersatu dalam Keberagaman’, mengajak warga Migran-Perantau untuk berbaur dalam kehidupan bersama.
Lalu, kehadirannya dapat memberikan dampak yang positif bagi orang lain dan memiliki daya ubah. Atau dengan bahasa iman Katolik, hadir untuk menjadi Garam dan Terang, menjadi Berkat bukan Beban.

Menurut Ketua Umum Rumah Besar Flobamora Indonesia yang akrab disapa Yusdi ini, berabur di tengah masyarakat adalah sebuah proses interaksi sosial. “Berbaur bukan semata narasi, tetapi lebih ke aksi nyata,” tegasnya.
“Berbaur bagi Migran-Perantau bukan sekadar bertahan hidup, ini Langkah strategis untuk hidup berdampingan dengan baik. Punya daya ubah untuk mencegah gesekan dan membangun kekuatan ekonomi, rasa aman dan nyaman,” imbuh Ketua Kelompok Sadar Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Pokdarkamtibmas) Bali yang dibentuk Polda Bali.
Mantan Ketua Umum Flobamora Bali selama 3 periode ini, juga mengingatkan, di wilayah padat penduduk dan heterogen seperti di Kulibul, kemampuan untuk beradaptasi dan berbaur menjadi krusial.

“Kita harus mampu menjadi partisipan aktif untuk menciptakan harmoni sosial kemasyarakatan,” harapnya.
Menjadi harapan bersama, lanjutnya, adanya hubungan yang harmonis antar warga masyarakat, antara penduduk lokal maupun pendatang. Maka, sikap inklusif (terbuka), saling menghargai, siap untuk bekerja sama, meningkatkan solidaritas sosial dan hidup berdampingan dengan yang lain akan mewujudkan nyatakan masyarakat yang solid dan solider.
Berbaur, lanjut Yusdi, sangat penting terutama bagi Migran-Perantau, karena memiliki banyak manfaat, antara lain meminimalisasi prasangka dan stigma negative; meminimalisir potensi ketersinggungan dan gesekan; memudahkan dan mempercepat informasi kamtibmas dan kedaruratan; menciptakan jembatan budaya dan saling memahami adat kebiasaan; serta memberikan akses untuk bisa saling bantu, saling dukung, terutama di saat ada musibah, bencana, dan sebagainya.

Yusdi memberikan beberapa tips untuk dapat diterima dalam berbaur, yaitu lapor diri kepada otoritas setempat; berkenalan dengan warga sekitar dan pemuka masyarakat; biasakan berbelanja di warung sekitar; aktif berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong; menghormati acara keagamaan, adat dan kebiasaan positif setempat; menghindari membuat kegaduhan, membagi ilmu atau keterampilan yang dimiliki, bijak dalam bermedia sosial, dan sebagainya.
Beberapa peserta yang hadir dalam kegiatan ini, memberikan pandangan mereka, termasuk tanggapan kritis atas fenomena sosial yang terjadi di tengah masyaraka. Acara diakhiri dengan foto bersama peserta, panitia dan narasumber. *
Hironimus Adil



