
XX
Tante Ririn selalu tanggap terhadap suasana batin yang dihadapi Dayu. Naluri keibuannya menangkap suasana batin Dayu yang ada dalam kegundahan.
Tante Ririn kembali ke teras tempat Dayu duduk dengan membawa segelas teh manis dan singkong goreng.
“Jangan melamun.Jangan terlalu mengingat peristiwa hidup yang engkau hadapi.Jalani hidup dengan penuh harapan.Engkau sudah membuktikan dapat hidup sendiri dan membawa Maria menggapai cita-citanya.”
Suara tante Ririn mengingatkan Dayu pada suara almarhumah ibunya.Suara perempuan yang lembut.Suara yang menentramkan hati.
“Iya tante.Entah mengapa tiba-tiba aku mengenang kembali peristiwa pertama kali jatuh cinta pada mas Agas.”
“ Engkau belum bisa melupakannya?”
“Tidak mungkin melupakan. Dia tetap ayah anakku. Ayahnya Maria”
“ Tapi apakah engkau tahu dia mengingatmu?”
“ Aku yakin tante, mas Agas pasti mengingatku dan Maria. Hanya saja ia belum menemukan jalan pulang.”
“Kau akan tetap menjadi layang-layang. Terus diombang ambing oleh angin. Jika benangnya putus mungkin kau akan terhempas.”
“ Tante, biarkan aku seperti layang-layang itu diombang-ambingkan angin. Aku tidak takut tante.”
“ Mengapa engkau tidak takut Dayu?”
“Karena aku adalah layang-layang yang benangnya kokoh dan terikat di kaki salib. Aku tahu iman akan menyelamatkanku. Iman mengokohkan perkawinanku sampai maut memisahkan.”
“ Walau tanpa Agus?” Tanya tante Ririn.
“ Yah, walau tanpa mas Agas.”
Dayu tahu jalan hidupnya masih panjang.Tetapi setiap tapak kakinya adalah hembusan kata doa.Dayu yakin kekuatan doa akan membawa kembali mas Agas ke dalam pelukannya.Kalau bukan esok mungkin lusa. Kalau bukan lusa mungkin tahun depan.Bahkan mungkin selamanya. Dayu akan menunggu.Karena perkawinan adalah kesetiaan.
Dayu sadar perkawinan tidak dapat diputus oleh kuasa manusiawi mana pun juga dan atas alasan apa pun,selain kematian. Dayu rela menjadi seperti layang-layang di kaki salib.
“ Mas Agas itu telah melukaimu. Bagaimana mungkin engkau memaafkan orang yang telah melukaimu?”
Tante Ririn menatap Dayu.
“Betul tante,mas Agas memang telah melukaiku. Tetapi kewajibanku adalah memaafkannya.”
Tante Ririn melangkah masuk ke dapur. Sedangkan Dayu masih duduk di teras itu menunggu senja merebak.Dayu menikmati panorama senja di laut lepas.Tante Ririn memang sulit memahami sikap hidupnya.Apa lagi sikap memaafkan orang yang bersalah.
Setiap kali Dayu mendaraskan doa Bapa Kami pasti ia menyebut kata-kata dan ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersala kepada kami.Doa tentu bukan hanya diucapkan tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Di saat awal Agas meninggalkan mereka Dayu marah. Dayu kecewa.Tetapi justru kekecewaan itu mendorongnya untuk mendekatkan diri kepada Sang Sabda.Dayu tahu, jikalau ia mengampuni kesalahan orang, Bapa yang di sorga mengampuninya juga. Tetapi jikalau dirinya tidak mengampuni orang, Bapa di surga juga tidak akan mengampuni kesalahannya. Matius 6:14-15 mengatakan; Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampunimu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu di surga juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Sebagai manusia Dayu merasakan pengalaman pahit dan getir ditinggalkan. Seharusnya Dayu tidak berhenti marah dan geram pada perlakuan mas Agas padanya.Tetapi kedekatannya dengan Firman Tuhan menjadikan Dayu dapat menerima realitas hidup dengan penuh ketenangan.
Tante Ririn duduk di samping Dayu.Ia menatap Dayu dengan saksama.Lalu ia berkata.
“Kau perempuan tangguh.Kuat menghadapi getir hidup.”
“Mungkin benar tante.Sampai saat ini aku merasa imanku tangguh.”
“ Apa yang melandasimu?”
“Firman Tuhan. Efesus 4:31-32 mengatakan; Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu,demikian pula segala kejahatan.Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain,penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
“Walaupun tante tak seiman denganmu tapi tante merasakan kekuatan firman yang engkau ucapkan. Doamu pasti akan terjawab.”
“Aku yakin tante.Yakin setiap doa akan sia-sia belaka dan tak menghasilkan buah jika tidak disertai dengan sikap hidup penuh pengampunan.Markus 11:25 mengatakan; Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Dayu tidak pernah merasa dipaksa untuk mengerti Agas.Tetapi sebagai orang beriman yang menghormati sakramen perkawinan Dayu merasa wajib bersabar dalam menghadapi pengalaman perkawinannya.
“ Engkau sangat sabar Dayu.Tante sangat kagum pada imanmu.”
“ Terima kasih tante.Kolese 3:13 mengatakan; Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain,dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain,sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu,kamu perbuat jugalah demikian.”
“ Mengampuni tanpa batas.Tanpa menghitung berapa kali mengampuni.Karena itu meskipun mas Agas melukai hatimu,jika suatu saat ia kembali engkau akan mengampuninya?” Tanya tante Ririn.
“ Aku akan mengampuninya.”
“ Hatimu terlalu tulus dan iklas. Jiwamu terlalu putih sehingga mampu untuk mengampuni.”
“ Mungkin karena aku masih mencintai mas Agas.”
“ Berapa kuat cintamu pada mas Agas?”
“Sangat kuat.Sekuat tembok baja sehingga sulit untuk dirobohkan.”
Meskipun tante Ririn tak seiman dengannya tetapi dapat menjadi teman bertukar pengalaman iman. Bahkan tante Ririn juga sangat memahami kitab suci.Mungkin karena tante Ririn pernah menimba ilmu di SMP dan SMA katolik.
“Bertekunlah dalam iman yang engkau miliki. Berdoalah selalu untuk menimba kekuatan. Tante yakin engkau akan selalu memperoleh kemenangan berkat imanmu yang kuat.”
“Terima kasih tante. Aku bersyukur memiliki seorang tante yang berperan sebagai ibu. Tante telah menyediakan bahu tempat aku bersandar bila aku membutuhkan.”
Tante Ririn merangkul Dayu. Ia melihat kekuatan pribadi Dayu karena ditopang oleh imannya yang kuat. Dayu sungguh menemukan bertumbuh menjadi perempuan yang kuat dan seorang ibu yang tanguh bagi anaknya Maria.
Dayu merasakan Tuhan begitu setia mendampinginya. Dalam suka dan duka Tuhan tak pernah menjauh dari hidupnya. Dayu teringat kata-kata yang tertulis dalam Yesaya 25:1;Ya Tuhan, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.
Cinta yang tulus menghadirkan kekuatan dan keberanian pada Dayu. Kekuatan untuk bertahan bertahun-tahun di saat Agas menjauh dari hidupnya. Cinta yang mendalam pada Agas telah menumbuhkan keberanian untuk hidup dalam kesepian. Cinta telah memberi Dayu keberanian untuk tetap setia.
Dayu sadar perasaan cintanya pada Agas memang luar biasa. Cinta itu datang tanpa aba-aba, tanpa syarat dan tak terduga. Cinta yang berhadapan dengan tantangan tetapi setiap tantangan dapat dilewati karena kekuatan cinta itu sendiri. Bahkan ketika Agas pergi dari kehidupannya Dayu tetap menikmati cinta.
Cinta sejati tak pernah pergi.Dayu ingat kata-kata Kahlil Gibran.Kalau kau mencintai seseorang, biarkan dia pergi.Kalau dia kembali, dia akan selalu jadi milikmu.Tapi kalau tidak,dia tak akan pernah menjadi milikmu.Dayu tidak khawatir kehilangan cinta sejatimu. Jika memang Agus cinta sejatinya, Agas akan kembali padanya. Dayu ingat kata-kata Santo Paus Yohanes Paulus II: Jangan lupa bahwa cinta sejati tidak menetapkan kondisi; tidak menghitung atau mengeluh, tetapi hanya cinta. Hanya pria yang murni dan wanita yang murni yang mampu mengasihi dengan cinta sejati. Cinta sejati membuat kekasih menjadi lebih indah; ia memancarkan sukacita.Cinta sejati membuat orang rendah hati. ***Bersambung
