Panca Windu Imamat Rm. Made, Paroki Babakan Kedatangan Puluhan Tamu Istimewa di Akhir Pekan

BABAKAN – Ada perayaan sukcita dan meriah di Paroki Babakan akhir pekan lalu, Sabtu (25/10/2025).
Seorang imam dari paroki itu, RD. Ignatius I Made Sukartia, merayakan HUT ke-40 (panca windu) tahisan imam.
RD. Made Sukartia adalah imam kelahiran Paroki Babakan yang memilih menjadi Imam Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat. Rm. Made ditahbiskan di Denpasar, 12 Juni 1985.
Untuk merayakan pesta HUT ke 40 imamat di kampung halamannya, Rm. Made tidak datang sendiri, tetapi bersama Bapak Uskup Ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi serta satu rombongan besar imam projo (Unio) Keuskupan Ketapang.
Mereka menjadi tamu istimewa umat Paroki Babakan. Ketika berada di paroki itu, puluhan Imam Diosesan Ketapang itu menginap (live in) di rumah-rumah umat.
Hanya Bapak Uskup Pius yang kini menjabat Ketua Komisi Kepemudaan KWI, yang menginap di Pastoran Babakan, ditemani Pastor Paroki RD. Rony Alfridus Bere Lelo (sekarang Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar)
Perayaan 40 tahun Imamat Rm. Made Sukartia, sejatinya menjadi puncak dari Retret para Imam Unio Keuskupan Ketapang bersama sang Gembala tertinggi Mgr. Pius.
Mereka memilih daerah berhawa sejuk Bedugul, Bali, sebagai tempat retret, dengan menghadirkan Kardinal Ignatius Suharyo (Uskup Agung Jakarta) sebagai pembimbing retret.

“Kami baru selesai Retret para imam diosesan Ketapang di Bedugul selama satu minggu ini, sejak hari Senin (20/10),” ungkap Mgr. Pius, di Pastoran Babakan sesaat sebelum misa perayaan 40 tahun imamat Rm. Made dimulai.
Perayaan 40 tahun imamat ini ternyata tidak hanya Rm. Made. Salah satu rekannya yang juga imam Projo Keuskupan Ketapang RD. Bonifasius Ubin (asli Kalimantan) juga merayakan 40 tahun imamat.
Kedua imam hanya berselisih waktu satu bulan tahbisan. Jika Rm. Made ditahbiskan bulan Juni, Rm. Blasius ditahbiskan bulan Juli tahun yang sama di tanah kelahirannya di Kalimantan Barat. Sehingga jadilah dua orang yubilaris yang dirayakan bersamaan di Babakan.
Perayaan yang berlangsung Sabtu petang itu sungguh meriah. Diawali penyambutan Bapak Uskup, kedua yubilaris dan seluruh imam Unio Ketapang itu.
Ketika hendak menuju pintu utama memasuki area gereja, langkah kaki mereka diiringi blagenjur, musik tradisional khas Bali persembahan Sekehe Gong Paroki Babakan.

Kemudian kedua yubilaris dan Bapak Uskup disambut umat setempat dengan pengalungan bunga. Bapak Uskup dan seluruh imam juga dipakaikan udeng, sebagai tanda kehormatan.
Selepas penyambutan dilanjutkan prosesi menuju altar, dengan titik start dari pastoran Babakan. Terpantau ada 6 orang imam dari Keuskupan Denpasar yang hadir dan ikut menjadi imam konselebrasi bersama imam-imam Diosesan Ketapang.

Misa dipimpin oleh Bapak Uskup Pius. Dalam pengantarnya, Mgr. Pius mengatakan bahwa perayaan itu sebagai syukuran atas HUT ke-40 tahbisan imam dari dua imamnya. “Dua imam yang joss dari Ketapang, sama-sama merayakan 40 tahun imamat,” ungkap Mgr. Pius.
Menurut Bapak Uskup Ketapang, merayakan 40 tahun pelayanan sebagai imam sebagai sesuatu yang istimewa. Kedua imam, lanjut Bapak Uskup, telah melaksanakan pelayanan yang cerdas yang menunjukkan kecerdasan ilahi. “Selama 40 tahun melayani, telah membawa umat menuju kekudusan,” imbuh Bapak Uskup.

Homili pada perayaan yang dimeriah itu dipercayakan kepada kedua yubilaris. Mereka membawakan homili secara santai dengan gaya interaktif.
Romo Made, memulai menceritakan bahwa dirinya ditahbiskan 12 Juni 1985, bertepatan dengan 50 tahun misi Katolik mulai berkarya di Bali. “Hari ini bersama teman saya Romo Blasius merayakan 40 tahun imamat,” kata Rm. Made Sukartia.
Romo Made memilih moto tahbisan “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yon 3:30).
“Saya memilih moto ini karena saya menyadari, sebagai manusia yang lemah, seiring waktu berjalan, dengan jabatan imamat yang saya miliki, saya bisa saja menjadi sombong, angkuh dan ingin dihormati. Maka dengan menghidupi moto imamat ini, menjadi inspirasi dan semangat bagi saya untuk terus mengingat bahwa saya dipanggil supaya yang semakin besar dan dimuliakan itu adalah Tuhan, dan saya harus semakin kecil (rendah hati),” kata Rm. Made, alasan memilih moto itu.

Romo Made juga mengisahkan awal tugas di Kalimantan, bermula di paroki asal Rm. Blasius yang sama-sama merayakan 40 tahun imamat. Saat awal pelayanan di Kalimantan, dirinya mengalami jatuh bangun, dan Tuhan selalu menopangnya.
“Empat puluh tahun adalah perjalanan sangat bermakna dan panjang. 40 tahun ini terjadi dan mampu saya lewati, itu karena ada imam-imam yang baik di sekitar saya, ada teman-teman seperjalanan yang baik menemani,” ungkapnya.
Romo Made menutup homilinya dengan menyanyikan sebuah lagu ciptaan seorang sahabat dalam menyambut 40 tahun imamatnya. Dalam lagu itu, terselip juga kata-kata yang dikutip dari moto tahbisannya.
Usai homili, sebelum melanjutkan perayaan, Bapak Uskup Pius mengungkapkan “Kita bersukacita bersama Rm. Made dan Rm. Blasius yang telah mengisahkan pengalaman imamat yang luar biasa.”

Mgr. Pius, kemudian minta adik-adik dari Seminari Tuka yang hadir dalam misa untuk berdiri, sambil memotivasi mereka, “Tahun 1985 saat kedua imam yang ditahbiskan ini, saya duduk kelas 2 SMA Seminari Mertoyodan. Adik-adik Seminari kelak 40 tahun yang akan datang kamulah yang berdiri di sini. Tetaplah bertahan.”
Usai msa acara dilanjutkan dengan resepsi syukuran untuk melengkapi sucacita bersama Rm. Made dan Rm. Blasius serta seluruh imam Unio Ketapang. *
Hironimus Adil


