LINTAS PAROKI

Visitasi Kanonik Bapak Uskup di Paroki Sumbawa Besar

SEUMBAWA BESAR – Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, melakukan visitasi kanonik di Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar, Senin (23/6/2025). Turut mendampingi Bapak Uskup adalah Sekretaris/Ekonom Keuskupan Denpasar RD. Agustinus Sugiyarto.

Dalam visitasi ini Bapak Uskup dan Sekretaris Uskup bertemu dengan Pastor Paroki dan Pastor Rekan, DPP-DKP serta seluruh Fungsionaris Pastoral Paroki Sumbawa Besar. Pertemuan berlangsung di aula rumah retret St. Ignatius Sumbawa Besar.

Sebagai informasi, visititasi ini rencananya akan dilakukan ke seluruh paroki di Keuskupan Denpasar karena merupakan salah satu amanat Sinode V. Paroki Sumbawa Besar, merupakan paroki terkahir di wilayah Dekenat NTB yang mendapat kunjungan kanonik tersebut. Enam paroki lain di Dekenat NTB lebih dahulu mendapat kunjungan yang sama. Sementara di Bali akan menyusul.

Dalam visitasi ini Bapak Uskup mendengarkan tentang gambaran umum paroki di antaranya, sejarah singkat paroki, data-data paroki termasuk situasi umat, kondisi dan laporan keuangan, daftar asset-aset gereja, sarana dan prasarana, dokumen -dokumen gereja serta berbagai karya pastoral paroki dan pelayanan-pelayanan saramen, dan sebagainya. Hal itu dilaporkan pihak paroki, kemudian ditanggapi oleh Bapak Uskup bersama Sekretaris/Ekonom pada sesi berikutnya.

Bapak Usku Mgr. Silvester San (tengah), didampingi Sekretaris/Ekonom Rm Agus (kiri) dan Pastor Paroki Rm. Maryono, saat menanggapi laporan tentang situasi Paroki Sumbawa

Sapaan kasih Pastor Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar RD. Laurensius Maryono, mengawali pertemuan tersebut. Pastor Paroki menerangkan, kunjungan Bapak Uskup kali ini cukup padat dengan beragam kegiatan, dimulai dari Minggu (22/6), di mana Bapak Uskup melakukan pelantikan DPP-DKP dan Prodiakon dalam Misa Kudus serta pemberkatan Pintu Suci di Gereja Sumbawa.

Lalu, lanjut Rm. Maryono, Senin pagi hinga siang keliling untuk melihat asset-aset gereja serta sarana-prasaran yang dimiliki paroki ini dan sore hingga malam berlanjut dengan pertemuan ini.

“Pertemuan ini merupakan kunjungan kanonik. Ini kunjungan penting bagi umat bersama DPP, DKP dan kami Imam. Pertemuan ini bagian dari wawan hati umat kepada Uskup. Harapanya, Paroki Sumbawa semakin berkembang dan bertumbuh sesuai visi-misi Keuskupan Denpasar,” ungkapnya.

Keadaan Paroki

Selanjutnya Ketua Bidang Pembinaan Iman (BPI) Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar Hubert Malung, dipercaya untuk melaporkan keadaan umum paroki. Pak Hubert, demikian akrab disapa, pertama-tama menyampaikan tentang sekilas sejarah paroki.

Dikatakan, sejak tahun 1928, mulai ada kunjungan misionaris dari Makassar dan Flores ke wilayah ini, menyusul kunjungan Mgr. A. Vestraelen, SVD tahun 1930 di Sumbawa, yang disusul misionaris SVD untuk mengajar dan membaptis.

Ketua BPI Hubert Malung sedang memaparkan situasi secara keseluruhan paroki Sumbawa Besar

Menarik bahwa tahun 1935, Sultan M. Kaharudin (Sultan Sumbawa) menyerahkan sebidang tanah untuk umat Katolik, yang kemudian dibangunlah gedung gereja Katolik pertama. Pada 8 Desember 1938, dengan berpelindung Sang Penebus oleh P. Hendrik Debun, SVD, Gereja Katolik Sang Penebus Sumbawa Besar berdiri, sehingga kini memasuki usia 87 tahun.

Jika sebelumnya paroki ini dan seluruh paroki di Pulau Sumbawa menjadi wilayah pelayanan Keuskupan Weetebula (Sumba), sejak 24 November 1990, Uskup Weetebula saat itu Mgr. Kherubim Pareira, SVD menyerahkan Pulau Sumbawa kepada Keuskupan Denpasar melalui Mgr. Vitalis Jebarus, SVD (Uskup Denpasar). Sejak itu Sumbawa masuk dalam Keuskupan Denpasar.

Ketua BPI lanjut melaporkan tentang data dan situasi umat. Dalam laporannya, paroki ini meliputi dua Kabupaten yaitu Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat, terdiri dari beberapa stasi yaitu Tanjung Menangis, Lunyuk, Empang, Alas dan Maluk serta Kota Sumbawa Besar sebagai pusat paroki.

Umat yang hadir saat acara visitasi

Keadaan umat saat ini berjumlah 2.881 jiwa, terdiri dari 1.340 pria dan 1.541 perempuan, dengan jumlah KK 960. Sumbawa Besar sebagai pusat paroki memiliki 8 Lingkungan dan 25 KBG, Stasi Maluk 5 KBG dan Stasi Tanjung Menangis 3 KBG. Umat di paroki ini umumnya pendatang dari luar pulau dengan beragam jenis pekerjaan/profesi.

Dalam kesempatan yang sama Pak Hubert juga menyampaikan tentang transparansi pengelolaan keuangan, termasuk kondisi keuangan terakhir sesuai laporan bulan Mei. Berikutnya tentang asset-aset yang dimiliki Gereja, termasuk kondisi dan pemeliharaannya. Dilaporkan pula secara rinci tentang asset berupa tanah yang dimiliki paroki yang tersebar di beberapa tempat.

Lalu dilaporkan pula buku-buku penerimaan Sakramen-sakramen, hingga kehidupan iman, partisipasi umat dalam berbagai pelayanan, serta beragam karya pastoral yang sudah dan akan dilaksanakan di paroki ini yang menjangkau semua usia, baik anak-anak dan remaja yang tergabung dalam Sekami, OMK, Keluarga dan umat dewasa, juga keterlibatan kelompok Kategorial.

Menurut Pak Hubert, Sekami dan OMK menjadi tulang punggung gereja masa depan. OMK Paroki Sumbawa Besar saat ini cukup berperan terutama sejak TOT yang dibuat oleh Komisi Kepemudaan di sini, dan sekarang mereka berperan untuk mengorganisir JOMK tingkat Dekenat NTB yang akan dilaksanakan di Paroki Sumbawa Besar 24-27 Juni 2025 ini.

Turut disampaikan pula mengenai tantangan dan harapan umat. Tantangan yang dihadapi adalah masalah sosial dan tantangan pastoral dengan medan pelayanan yang luas. Juga ada stasi yang belum memiliki kapel seperti Empang, Tanjung Menangis, dan Alas. Sementara di Maluk sedang dalam proses pembangunan dan pengurusan ijin.

Masalah internal antara lain masih ada umat yang hidup bersama tanpa ikatan Sakramen Perkawinan, serta ber-KBG yang belum sesuai territorial.

Sementara itu beberapa harapan juga disampaikan, salah satunya adalah minta penambahan imam agar bisa menjangkau wilayah paroki yang cukup luas. Termasuk sarana transportasi berupa sepeda motor karena yang lama sudah tidak layak dipakai.

Pak Hubert juga menyampaikan secara khusus laporan dari Stasi Maluk, antara lain tentang progress perijinan pembangunan Kapela yang telah memasuki verifikasi data faktual dari warga sekitar. Di stasi itu jumlah umat terdiri dari 60 KK. Dari Stasi Maluk juga ada harapan Bapak Uskup mengunjungi stasi itu. Lalu, dengan adanya Kapel, jika perijinan sudah lengkap, suatu waktu bisa ditingkatkan statusnya menjadi paroki.

Tanggapan Bapak Uskup

Bapak Uskup mulai menanggapi dengan sejarah paroki. “Sejarah paroki umat di sini lebih tahu,” kata Bapak Uskup, seraya menambahkan, tapi yang pasti cukup lama wilayah Sumbawa ini bagian dari Keuskupan Weetebula, lalu tahun 1990 masuk Keuskupan Denpasar.

Bapak Uskup juga bersyukur bahwa Sultan Sumbawa dulu memberikan tanah yang cukup luas. “Umat kita diaspora. Kita bersyukur kepada Sultan Sumbawa menyerahkan tempat ini dulu untuk gereja dan cukup luas,’ Imbuh Bapak Uskup.

Tentang Stasi, menjurut Mgr. San, stasi adalah lingkungan yang memiliki kapel dan bisa merayakan ibadat sendiri.

Bapak Uskup juga menanggapi tentang laporan keuangan, sambil berharap tidak boleh sampai defisit, minimal seimbang antar pemasukan dan pengeluaran, dan syukur kalau surplus, karena itu perlu pengelolaan yang tepat dan benar. Bapak Uskup juga apresiasi terkait pengurusan sertifikat asset tanah gereja ini sangat bagus untuk penertiban.

Dari laporan terkait pelayanan pastoral dan Sakramen-sakramen Bapak Uskup menanggapinya bahwa itu sangat positif terutama pelayanan sakramen. “Saya juga senang Gereja memberi perhatian pada Sekami dan kaum muda. Mereka berperan aktif itu sangat baik karena kaum muda merupakan bagian dari masa kini dan masa depan gereja,” kata Bapak Uskup.

Mgr. San juga menyampaikan supaya kelompok kategorial juga diperhatikan dengan baik, mereka juga berperan dalam pelayanan di gereja sehingga gereja bertumbuh dan berkembang. Sementara masalah keluarga itu, banyak sekali dan itu terjadi juga di paroki lainnya.

“Ini harus disikapi dengan baik melalui pastoral keluarga di paroki, termasuk mereka yang tinggal bersama sebelum sakramen perkawinan. Ini harus diselasaikan oleh DPP dan Pastor Paroki. Perhatian pada keluarga itu penting. Tugas komisi/Seksi keluarga adalah mengurus keluarga yang merupakan gereja kecil/rumah tangga,” kata Bapak Uskup.

Sarana-prasaran gereja juga dilaporkan baik. Termasuk pengurusan ijin stasi Maluk yang progresnya bagus, ini perlu didukung terus. Fasilitas disebutkan seperti kendaraan sepeda motor, dijual saja yang lama dan ajukan dana ke DSAK untuk beli motor baru.

Tantangan tentangan wilayah luas dan permintaan tambahan imam, menurut Uskup, dua imam di sini masih kuat apalagi pastor rekan. “Imam kita tidak banyak, sehingga permintaan tambahan imam harus bersabar demikian pula pembentukan paroki baru. Sehingga peningkatan status stasi Maluk tidak perlu dulu, apalagi IMB untuk kapel masih dalam proses.”

Pemekaran lingkungan dan KBG silahkan itu menjadi wewenang paroki. Termasuk pemanfaatan sarana dan asset-aset paroki itu menjadi wewenang Pastor Paroki bersama DPP-DKP.

Para Fungsionaris Pastoral Paroki aktif menanggapi dan bertanya serta beri masukan

Sekretaris/Ekonom RD. Agustinus Sugiyarto menambakan berkenaan dengan sertifikat, ada sertifikat hak milik, apakah sudah atas nama gereja paroki atau keuskupan atau pribadi. Semua sertifikat tanah juga, menurut Romo Agus, supaya aslinya harus dikirim keuskupan untuk disimpan di box khusus supaya aman.

Berkaitan dengan laporan keuangan, perlu ada laporan bulanan ke keuskupan tepat waktu. Transaksi harian dicatat secara disiplin setiap ada transaksi. Juga dana-dana aksi tertentu harus segera dikirimkan ke keuskupan. Laporam keuangan bulan lebih dulu dikirm soft copynya dulu demi kepentingan laporan pajak.

Rangkaian pertemuan ini juga diberi kesempatan kepada yang hadir untuk memberikan tanggapan, masukan serta pertanyaan dan dipandu Rm. Hyoga. Semuannya dijawab secara bijak oleh Bapak Uskup dan lanjut dengan penegasan. Acara dakhiri foto bersama.*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button