Penguatan Spiritualitas, WKRI Santo Yoseph Denpasar Diajak Hidupi Nilai-Nilai ASG

DENPASAR – Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPC Santo Yoseph Denpasar menggelar kegiatan Penguatan Spiritualitas dengan tema “Menjadi Wanita Katolik yang Menghadirkan Wajah Kristus di Tengah Dunia” pada Minggu (7/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Susteran CB ini menghadirkan RD Herman Y. Babey sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Romo Herman Yoseph Babey mengajak para anggota WKRI untuk semakin memahami dan menghidupi Ajaran Sosial Gereja (ASG) sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Rm. Babey, banyak umat menganggap Ajaran Sosial Gereja sebagai kumpulan dokumen yang tebal dan sulit dipahami, padahal isinya sangat dekat dengan realitas kehidupan manusia.
“Sesungguhnya Ajaran Sosial Gereja berbicara tentang keluarga, pekerjaan, lingkungan, pelayanan, dan relasi dengan sesama. Ajaran ini lahir dari keprihatinan Gereja terhadap manusia dan dunia. Gereja tidak tinggal diam melihat penderitaan manusia,” ujarnya. Karena itu, anggota WKRI dipanggil menjadi wajah Gereja yang hadir di tengah masyarakat, membawa kasih, kepedulian, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam refleksinya, RD. Babey mengulas dokumen penting Ajaran Sosial Gereja yang relevan dengan kehidupan perempuan Katolik masa kini. Dokumen Gaudium et Spes mengajarkan bahwa Gereja hadir di tengah dunia dan ikut merasakan suka duka umat manusia. Melalui semangat ini, anggota WKRI tidak dipanggil menjadi penonton yang hanya melihat persoalan sosial dari kejauhan, melainkan terlibat secara nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Ketika ada keluarga yang berduka, kita hadir. Ketika ada anak yang mengalami kesulitan pendidikan, kita peduli. Ketika ada perempuan yang mengalami kekerasan, kita tidak boleh menutup mata,” tegasnya.
Menurutnya, WKRI harus menjadi organisasi yang mampu mendengar jeritan masyarakat sekaligus menghadirkan harapan di tengah berbagai persoalan sosial.
Sementara itu, melalui dokumen Rerum Novarum, Gereja menegaskan pentingnya membela martabat manusia. Pesan yang lahir dari keprihatinan terhadap kondisi para pekerja pada masa revolusi industri itu dinilai tetap relevan hingga saat ini.
“Masih banyak keluarga miskin, pekerja yang dieksploitasi, perempuan yang tidak dihargai, lansia yang diabaikan, dan anak-anak yang kehilangan perhatian. WKRI dipanggil menjadi pembela martabat manusia,” katanya.
Ia menambahkan, WKRI harus menjadi rumah yang menerima dan menghargai setiap pribadi tanpa membedakan status sosial, pendidikan, suku, maupun usia.
Melalui ensiklik Laudato Si’, para peserta diajak menyadari bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat. Kerusakan lingkungan tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral dan iman.
Karena itu, perempuan Katolik diajak menjadi pelopor gaya hidup sederhana, peduli lingkungan, serta bertanggung jawab terhadap kelestarian ciptaan Tuhan.
Selanjutnya, dokumen Fratelli Tutti mengingatkan bahwa seluruh umat manusia adalah saudara. Di tengah dunia yang mudah terpecah karena perbedaan politik, agama, suku, maupun status sosial, umat Kristiani dipanggil untuk membangun persaudaraan dan dialog.
“WKRI harus menjadi pembangun jembatan, bukan penyebar perpecahan. Kita dipanggil menjadi teladan solidaritas, persaudaraan, dan kasih bagi semua orang,” ujarnya.
Selain membahas empat dokumen besar tersebut, RD. Babey juga mengangkat refleksi mengenai pesan sosial Gereja di era digital, khususnya terkait perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang tertuang dalam dokumen Magnifica Humanitas tentang hubungan antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.
Ia menekankan lima pesan utama yang perlu diperhatikan umat Katolik. Pertama, martabat manusia harus selalu ditempatkan di atas teknologi. Kedua, teknologi harus melayani kesejahteraan bersama. Ketiga, dunia kerja harus tetap menghormati nilai dan martabat manusia. Keempat, kebenaran harus dijaga di tengah maraknya informasi palsu dan disinformasi. Kelima, perkembangan teknologi harus diarahkan untuk membangun peradaban kasih.
“Teknologi yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah menggantikan hati manusia yang dipenuhi kasih Kristus,” tegasnya.

Melalui refleksi tersebut, anggota WKRI diajak menggunakan teknologi secara bijaksana, menjaga martabat setiap manusia, membela keluarga dan kelompok rentan, serta menjadi saksi kebenaran di era digital.
Menutup kegiatan tersebut, RD. Herman Babey menegaskan bahwa seluruh ajaran sosial Gereja pada akhirnya mengarahkan umat untuk semakin peduli terhadap sesama, menghormati martabat manusia, merawat ciptaan, dan membangun persaudaraan.
“Inilah spiritualitas pelayanan WKRI. Bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan atau menjalankan program kerja, tetapi menghadirkan Kristus melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. *
Penulis: Karolina Ida-Komsos Paroki YGYB
Editor: Hiro/KomsosKD



