LINTAS PERISTIWA

Revitalisasi KBG Setelah 25 Tahun Jadi Cara Baru Hidup Menggereja di Keuskupan Denpasar

Perjalanan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) di Keuskupan Denpasar, sudah mencapai 25 tahun, terhitung sejak Sinode I tahun 2001. Salah satu keputusan penting Sinode I adalah menjadikan KBG sebagai cara baru hidup menggereja atau berpastoral.

Selaras dengan keputusan tersebut, di paroki-paroki setelah Sinode itu mulai membentuk KBG-KBG. Awalnya, tidak langsung semua paroki memiliki KBG, tetapi dengan terus melakukan sosialisasi dan pembekalan, hingga saat ini hampir seluruh paroki di Keuskupan Denpasar telah memiliki KBG, yang secara struktur teritorial Keuskupan Denpasar, KBG berada di bawah Lingkungan.

Tahun 2026, menjadi momentum penting untuk revitalisasi dan melihat kembali keberadaan KBG, apakah sudah sesuai dengan harapan Sinode I, baik secara territorial, jumlah KK maupun kegiatan-kegiatannya.

Semangat pembenahan ini menemukan momentumnya dalam Sinode V tahun 2023 lalu. Salah satu keputusan terpenting Sinode V yaitu penetapan tema karya pastoral tahun 2026 yaitu ‘Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal Melalui Keluarga, Sekami, OMK dan KBG yang Solid dan Solider.’ Tema ini memberikan ruang untuk KBG kembali menjadi fokus perhatian.

Vikjen/Direktur PUSPAS RD. Herman Yoseph Babay (berdiri) didampingi Pastor Paroki Tabanan Rm. Dami (kiri) dan Ketua BPI Ferdy Hardi, saat sambutan pembukaan. Rm. Babey juga selaku narasumber pembekalan KBG di Tabanan

Untuk menjawab tema umum di atas, Bidang Pembinaan Iman (BPI) Pusat Pastoral, dalam Sidang Pleno Dewan Pastoral Keuskupan Denpasar, akhir tahun 2025, mengusung progam unggulan Workshop bagi Para Penggerak KBG untuk Mewujudkan KBG yang Solid dan Solider.

Dalam merealisasikan tema itu, maka sejak Mei 2026 lalu BPI bersama Tim dari Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar melakukan Turba (turun ke bawah) untuk melakukan workshop yang diisi dengan pembekalan dan pemberdayaan (kembali) KBG di paroki-paroki. BPI Puspas membentuk dua Tim untuk melakukan worhsop tersebut, sehingga dalam satu hari pertemuan, bisa turun ke dua zona berbeda.

Perjalanan Turba ini dimulai di Dekenat Nusa Tenggara Barat. Kegiatan di dekenat itu tuntas dilaksanakan di tiga tempat (zona) berbeda. Untuk Paroki Mataram, Ampenan dan Praya telah dilaksanakan di Ampenan, Paroki Sumbawa sendiri dilaksanakan di paroki itu, dan untuk Paroki Bima, Donggo dan Dompu telah dilaksanakan di Paroki Donggo.

Untuk Dekenat Bali Timur, baru dua paroki dan satu stasi mandiri yang telah mendapatkan pembekalan yaitu Gianyar, Amlapura (Karangasem) dan Stasi Klungkung, yang dilaksanakan di Stasi Klungkung. Sementara paroki-paroki lain di Dekenat Bali Timur dan Bali Tengah akan menyusul.

Dekenat Bali Barat

Memanfaatkan hari libur, 1 Juni 2026, dua Tim BPI langsung terjun di dua zona Dekenat Bali Barat, yaitu di Palasari untuk Paroki Negara, Gumbrih dan Palasari; dan di Tabanan untuk Paroki Singaraja dan Tabanan.

Di Palasari, dipimpin oleh RD. Agustinus Sugiyarto (Ketua BPI) bersama anggota tim terdiri dari Rm. Tony, Kustati, Lorens dan Dyandra. Sedangkan di Tabanan dibawa koordinasi RD. Herman Yoseph Babey (Direktur Puspas) bersama anggota tim yakni Rm. Maxi, Kristin, Blasius dan Hiro.

RD. Agustinus Sugiyarto, narasumber pembekalan KBG di Palasari

Di Tabanan (termasuk di zona lainnya) alur proses Worhshop dibuka dengan doa, dilanjutkan sapaan kasih dari tuan rumah dan sambutan. Sapaan tuan rumah disampaikan oleh Ketua BPI Paroki Tabanan, Ferdy Hardi. Kemudian, sambutan dan membuka secara resmi kegiatan oleh Vikjen/Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey.

Selesai dibuka, dilanjutkan dengan panorama KBG di paroki yang disampaikan oleh masing-masing Ketua BPI yakni Paroki Singaraja oleh Felix Adit, dan Ketua BPI Tabanan Ferdy Hardi.

Adit melaporkan, Paroki St. Paulus Singaraja saat ini memiliki 1 stasi, 7 Lingkungan dan 17 KBG. Total KK ada 366 dengan jumlah jiwa 1.208 orang, terdiri dari laki-laki 557 dan perempuan 651, ditambah mahasiswa yang kuliah di kota itu sekitar 500 orang.

Ketua BPI Singaraja Felix Adit

Paroki Tabanan, Ketua BPI melaporkan: Stasi 2, Lingkungan 13 dan KBG 46. Jumlah KK 674, dengan total jiwa 2.200 orang. “Jumlah ini masih bisa lebih besar, mengingat masih cukup banyak yang belum terdaftar,” kata Ferdy.

Usai panorama, proses selanjutnya sepenuhnya diserahkan Tim BPI Puspas. Dimulai dengan pemaparan materi pembekalan dan pemberdayaan KBG oleh RD. Herman Yoseph Babey, dengan judul besar ‘Membangun Gereja dari Bawah.

Ketua BPI Tabanan Ferdy Hardi

Beberapa penekanan yang disampaikan Rm. Babey, terkait dengan KBG, menegaskan bahwa lokus utama KBG, bukan sekedar unit organisasi, melainkan tempat Gereja hadir nyata di rumah umat. Diingatkan kembali menganai struktur ideal KBG terdiri dari 10 – 15 Kepala Keluarga dan tinggal berdekatan dalam satu teritori tertentu.

“Jumlahnya kecil agar setiap anggota saling mengenail nama dan situasi, mencegah komunikasi formal birokratis dan menjadi garda terdepan mendeteksi umat yang sakit/susah,” kata Rm. Babey.

Pola keberhasilan sebuah KBG, menurut Rm. Babey adalah umat aktif (subyek), relasi kuat dan peduli, aksi nyata dan kongkret. Di sisi lain, kata Rm. Babey, peran kepemimpinan dalam KBG sangat strategis, karena itu sangat penting spiritualitas pemimpin KBG ‘berbau domba’.

Sekitar 200 peserta mendengarkan pembekalan yg disampaikan Rm. Babey

Dijelaskan, spiritualitas berbau domba itu kongkretnya adalah memiliki inisiatif: berani mencari yang jauh dan terluka; kedua harus menyentuh ‘daging’: melayani yang sulit, sakit dan tidak aktif. Di samping itu, pemimpin juga harus memelihara kesatuan, melayani dan inklusif. “Dilarang membuang anggota yang lemah tetapi harus dirangkul,” tegasnya.

Rm. Babey kemudian menyampaikan pedoman praktis untuk pengurus KBG yaitu dilarang menghapus nama anggota yang tidak aktif, prioritas kunjungan anggota yang menjauh dan gunakan bahasa kasih yang merangkul.

Rm. Babey juga menjelaskan prinsip dasar pemekaran KBG yaitu kedekatan relasional yaitu relasi personal, saling mengenal nama dan situasi keluarga dan prinsip territorial yaitu tetap dalam satu wilayah geografis yang jelas dan berdekatan.

Dalam kesempatan yang sama, Rm. Babey juga menjelaskan tentang liturgi sabda yang kerap kali dilaksanakan di KBG-KBG atau Lingkungan.

Suasana simulasi di Palasari

Selain Rm. Babey, tampil juga Rm. Maxi untuk memberikan pembekala terkait dasar biblis KBG. Kitab Suci, kata Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Denpasar ini, merupakan Sabda yang hidup, bukan sekadar buku cerita masa lalu.

Setelah pembekalan materi, peserta kemudian dibagi dalam 4 kelompok besar untuk simulasi pelatihan dan pemberdayaan penggerak KBG dengan metode AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach). Simulasi ini dipandu oleh Tm BPI Puspas yaitu Rm. Maxi, Kristin, Blasius dan Hiro.

Gerak-gerak melemaskan otot supaya tetap konsetrasi

Hal yang sama juga dilaksanakan di Palasari, dengan materi serupa yang disampaikan Rm. Agustinus Sugiyarto dan Rm. Tony Ekadana Putra. Sedangkan simulasi dipandu oleh Tim yang terdiri dari Rm. Agus, Rm. Tony, Kustati dan Lorens, juga di 4 kelompok berbeda.

Usai simulasi, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi dan beberapa penegasan dari narasumber. Antuasis penggerak KBG dalam mengikuti kegiatan ini cukup tinggi. Kehadiran peserta di Palasari mencapai sekitar 100 orang dan di Tabanan sekitar 200 peserta. *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button