LINTAS PAROKI

Paroki MBSB Berkunjung dan Misa di Lapas IIA Kerobokan

BADUNG – Paroki Santa Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua mengadakan kunjungan dan misa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) IIA Kerobokan, Minggu (02/11/2025).

Agenda tersebut diadakan sebagai bentuk dukungan spiritual yang diberikan kepada para narapidana beragama Katolik yang berada di dalam lapas.

Pelaksanaan misa dipimpin oleh Pastor Rekan Paroki MBSB Nusa Dua, RD. Fredy Panggur Burhan, dengan diikuti oleh para narapidana.

Pastor Rekan Paroki Nusa Dua RD. Ferdy Panggur Burhan saat berkotbah

Dalam homilinya, RD. Fredy menjelaskan bahwa umat Katolik memperingati dua perayaan yang penting di awal November, yakni Hari Raya Semua Orang Kudus pada 1 November dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman pada 2 November.

“Dalam Gereja Katolik diyakini bahwa setiap orang yang sudah meninggal, dia masuk dalam sebuah kehidupan yang kekal. Namun, meskipun dia sudah mengalami kematian dan masuk ke dalam kehidupan yang kekal, ada tiga persekutuan dalam ajaran Katolik: kita yang masih berziarah di dunia ini, mereka yang sudah meninggal dan bebas dari semua dosa, serta orang yang sudah meninggal, tetapi masih dalam keadaan adanya dosa,” jelas RD. Fredy dalam homilinya kepada para narapidana, Minggu (02/11/2025).

RD. Fredy memaparkan orang yang sudah meninggal dan bebas dari segala dosa merupakan orang-orang yang berada di surga atau disebut sebagai para kudus. Di sisi lain, orang yang sudah meninggal dalam keadaan masih adanya dosa berada di dalam api penyucian dan sedang melalui proses pemurnian agar dipulihkan dari dosa-dosa.

Sebagian umat Nusa Dua (depan kanan) yang ikut kunjungan dan misa bersama warga binaan di LP

“Ini yang disebut jiwa-jiwa masih dalam proses pemurnian. Mereka yang di api penyucian, mereka sudah tidak diberi kesempatan untuk bertobat. Tidak ada waktu lagi untuk mengaku, seperti kita masih di bumi yang bisa mengaku ketika berbuat dosa,” terangnya.

Manusia tidak akan mengetahui sampai kapan mereka akan berada di dalam api penyucian. Oleh sebab itu, menurut RD. Fredy, manusia yang berada di dalam tempat tersebut membutuhkan perhatian dalam doa-doa. Maka, Gereja Katolik memperingati tanggal 2 November untuk mendoakan jiwa-jiwa yang berada di api penyucian tersebut.

“Meskipun sudah dipisahkan oleh kematian, tetapi kita masih satu dalam Kristus. Kita hidup dalam suasana yang berbeda, orang yang kudus dalam kejayaan, mereka yang ada dalam api penyucian masih dalam proses, dan kita di bumi masih berziarah dengan pergumulan-pergumulan kita,” ucap RD. Fredy.

RD. Fredy berpesan agar tetap selalu berdoa, sebab dalam tuntunan kekuatan Tuhan, semuanya akan dipulihkan. Tuhan menjadi senjata utama untuk mengatasi setiap persoalan atau permasalahan yang terjadi dalam hidup.

Sementara itu, Febri, seorang warga binaan di Lapas Kerobokan bertugas sebagai tahanan pendamping di Gereja Immanuel. Sebagai tahanan pendamping, dia bertanggung jawab untuk pelaksanaan ibadah di gereja agar berjalan dengan lancar. Para tahanan diberi kebebasan untuk mengadakan misa atau ibadah setiap harinya.

“Untuk Gereja Katolik, kami dilayani setiap minggu pertama dalam bulan. Itu pasti akan dilayani oleh Gereja Katolik yang ada di seluruh wilayah Bali dengan jadwal tertentu, kemudian setiap hari yang lain, kami beribadah secara Kristen. Ada juga yayasan-yayasan yang melayani kembali di tempat ini,” kata Febri.

Febri juga mengungkap, secara internal, tahanan diberi kesempatan untuk berbagi dan berdiskusi di dalam gereja. Oleh sebab itu, dia bersyukur karena diberi kesempatan untuk melayani dan beribadah sebagai umat Katolik di Lapas Kerobokan. Dia juga menyebut, tidak semua lapas memberikan kesempatan bagi tahanannya untuk mengakses tempat ibadah kapan pun.

“Kami, di tempat ini, diberi kesempatan yang sangat luas untuk beribadah, untuk lebih dekat dengan Tuhan. Jadi saya menyarankan kepada teman-teman, silakan manfaatkan kesempatan ini untuk beribadah, boleh datang untuk misa, boleh untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan di gereja,” imbuhnya.

Dengan wajah sumringah, Febri menyatakan bahwa dia akan dibebaskan dua minggu lagi. Oleh sebab itu, dia ingin secara konsisten membawa perubahan yang baik ke luar lapas, serta diterima secara baik oleh masyarakat.

“Kalau di tempat ini saya pakai Tuhan untuk melayani, di luar pun saya boleh pakai Tuhan untuk melayani,” tutupnya. *

Penulis: Sandra Gisela/ Bobo Tandiono
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button