LINTAS PAROKI

Uskup Labuan Bajo Berkunjung ke Paroki MBSB Nusa Dua

NUSA DUA – Paroki Santa Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB) Nusa Dua menerima kunjungan Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Minggu (12/10/2025).

Dalam kunjungannya, Bapak Uskup Labuan Bajo didampingi oleh RD Yohanes Martanto, Pastor Paroki Santo Petrus Denpasar, yang merupakan sahabatnya saat menempuh Pendidikan di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere.

Kunjungan Mgr. Maximus di paroki itu dalam rangka memimpin misa hari Minggu, pukul 18.00 WITA, setelah berkoordinasi dengan Pastor Paroki Nusa Dua RD. Adianto Paulus Harun.

Misa Minggu sore pukul 18.00 di Paroki MBSB, seperti biasa menggunakan bahasa Inggris. Turut mendampingi Bapak Uskup sebagai imam konselebrasi adalah Pastor Paroki RD Adianto Paulus Harun, serta Pastor Rekan RD Ferdy Panggur Burhan dan RD Johannes Handrijanto Widjaja, serta RD. Yohanes Martanto.

Bacaan Injil Misa Minggu Biasa ke XXVIII ini mengambil kisah dari Injil Markus mengenai sepuluh orang kusta yang bertemu dengan Yesus di perbatasan Samaria dan Galilea. Saat mereka semua disembuhkan, hanya seorang Samaria yang kembali untuk memuliakan Allah dan mengucapkan terima kasih kepada Yesus di hadapan-Nya, sementara sembilan lainnya tidak kembali.

Dalam homilinya, Mgr. Maksimus, mengatakan bahwa momen tersebut bukan hanya sekadar tentang sopan santun dan terima kasih, tetapi tentang kekuatan iman yang mengenali anugerah, serta hubungan yang mengubah penyembuhan menjadi kekudusan.

Lebih lanjut diuraikan, dalam bacaan pada hari itu, terdapat tiga makna penting yang dapat direnungkan oleh umat.

Pertama, tentang pemberian, yakni dengan mengenali rahmat Tuhan dalam hidup. Sepuluh orang kusta dalam Injil bukan disembuhkan karena mereka pantas, tetapi karena Yesus mendengar seruan mereka. Kesembuhan dimulai pada saat mereka mempercayai sabda-Nya.

“Setiap momen iman dalam hidup kita, setiap doa, setiap rekonsiliasi, bahkan setiap kesempatan kedua, adalah sebuah anugerah. Bagi kita sebagai orang Kristiani, terlebih bagi mereka yang sedang mempersiapkan diri menerima sakramen krisma atau memperbarui iman, langkah pertama menjadi murid Kristus adalah mengenal bahwa hidup itu sendiri adalah anugerah yang berasal dari Tuhan,” terang Uskup dari daerah destinasi wisata premium Labuan Bajo itu.

Kedua, tentang syukur, yakni dengan kembali kepada Sang Pemberi. Pemberi utama dimaknai sebagai Tuhan sendiri. Mgr. Maksimus mengatakan, dalam Injil, orang Samaria yang kembali tidak berhenti pada penerimaan anugerah semata, tetapi kembali kepada Sang Pemberi itu sendiri. Dia tersungkur di kaki Yesus dan memuji Allah dengan suara nyaring.

“Rasa syukur adalah jembatan yang menjaga hubungan itu tetap kuat. Ketika kita bersyukur kepada Tuhan, kita tidak menambah apa pun kepada-Nya, melainkan membangkitkan kembali kebenaran di dalam diri kita bahwa segala sesuatu berasal dari kasih-Nya semata. Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, dan apa yang kita lakukan menjadi bernilai,” katanya.

Ketiga, adalah tentang pertumbuhan dalam iman, yaitu dengan menghidupi rahmat yang telah kita terima dari Tuhan. Satu-satunya yang kembali kepada Yesus mengalami sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kesembuhan jasmani, yakni diselamatkan. Mantan Rektor Universitas Katolik St. Paulus Ruteng ini menyebut, hal tersebut merupakan pendalaman hidup dalam rahmat.

“Melalui kesembuhan, seseorang mengalami transformasi ke arah hidup yang baru, hubungan yang baru dengan Tuhan dan sesama. Iman kita pun harus bertumbuh dengan cara yang sama. Tidak cukup hanya menerima berkat, kita juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Hidup yang penuh rasa syukur akan matang menjadi kasih yang murah hati,” ungkapnya.

Setelah misa, Mgr. Maksimus mengungkap bahwa kunjungannya bertepatan dengan retret para pastor dari Labuan Bajo di Catholic Centre Denpasar. Selain itu, Mgr. Maksimus ingin singgah untuk merayakan ekaristi bersama umat di Paroki MBSB.

“Saya kira luar biasa. Suasana liturgis yang bagus, kemudian partisipasi umat juga luar biasa. Persiapan sangat dengan liturgis dan hikmat,” kesannya setelah memimpin Ekaristi.

Uskup paling bungsu di Regio Nusra ini berpesan kepada umat Paroki MBSB untuk terus semangat membangun kebersamaan yang kuat. Sebab Paroki MBSB cukup heterogen, sehingga kekompakan, kebersamaan, dan kesatuan harus dibangun dengan semangat solidaritas. *

Penulis :

Sandra Gisela

Sandra Gisela
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button