Pemberkatan Pastoran dan Penerimaan Sakramen Krisma 85 Umat, Memahkotai HUT ke-85 Paroki Palasari

PALASARI – Pastor Simon Buis, SVD, misionaris asal Belanda, menggagas dan merintis pemukiman baru di Bali Barat, tepatnya di Palasari.
Untuk mewujudkan gagasannya, Pater Simon Buis mengajak serta sejumlah umat Katolik dari Tuka, Kabupaten Badung, untuk membuka lahan dan pemukiman baru yang saat itu masih berupa hutan setelah mendapat persetujuan dari Pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai tanah air kala itu.
Pater Simon Buis dan rombongan tiba di tempat tujuan, sekaligus mulai menetap dan melakukan berbagai aktivitas termasuk menerabas hutan di Palasari (lama) pada 15 September 1940.
Sejatinya, ada misi istimewa yang mereka bawa, lebih dari sekedar demi lahan dan pemukiman baru. Pater Simon dan rombongan ingin mengepakkan sayap hingga Bali Barat, membawa Iman dan Gereja Katolik.
Proses itu terbilang cepat, sebab hanya berselang lima tahun sejak misi itu mulai tumbuh di selatan Bali. Berawal dari Denpasar, ditandai tibanya Pater Kersten,SVD dan mulai menetap di Denpasar tahun 1935.
Lalu, benih iman itu bersemi dan berkembang di Tuka, diawali diterimanya dua katekis Kristen Protestan Wayan Diblug dan Made Bronong dalam pangkuan Gereja Katolik, diserta pembaptisan sejumlah umat Tuka pada Perayaan Pentakosta tahun 1936.
Dalam catatan sejarah, Pater Simon Buis tiba di Bali tahun 1936 untuk membantu Pater Kersten.
Pater Simon Buis rupanya memiliki visi yang besar, dibuktikan dengan gagasannya memiliki lahan baru, diikuti keberanianya mengajak sejumlah umat yang baru mengenal iman Katolik itu melangkah jauh ke Bali Barat, hingga tiba di sana pada 15 September 1940.

Tanggal 15 September menjadi hari bersejarah bagi Palasari, ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Palasari. Kini ziarah iman itu telah berusia 85 tahun.
Mebat dan Pemberkatan Pastoran
Memaknai HUT ke-85, umat Paroki Palasari menyambutnya dengan penuh sukacita. Tidak hanya perayaan iman, tapi mereka merayakannya juga dengan semangat gotong royong dan persaudaraan. Sehari sebelum perayaan Ekaristi, mereka ‘berpesta’ dengan menggelar ‘Mebat.’
Mebat adalah tradisi masyarakat Bali untuk mengerat tali kekeluargaan dan persadaraan dengan cara mengumpulkan bahan makanan secara gotong royong, memasak atau mengolahnya bersama-sama dan diakhiri dengan makan bersama. Sisanya mereka berbagi. Hal ini mirip dengan teladan umat perdana dalam sejarah Gereja.

Tradisi yang mengagungkan gotong royong itu biasanya digelar menjelang hari raya keagamaan, seperti halnya dilakukan umat Palasari. Mereka melakukan Mebat, di banjar Palasari, Sabtu (20/9), sehari sebelum Ekaristi yang merupakan puncak perayaan syukur itu.
Perayaan Ekaristi, sebagai ucapan syukur 85 HUT ke 85 dilaksanakan di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Palasari. HUT kali ini dimahkotai dengan pemberkatan pastoran Palasari, setelah direnovasi.

Tampilan pastoran Palasari saat ini menjadi lebih kokoh, megah dan rapi serta terasa lebih lapang. Konstruksi bangunan lama memang tetap dipertahankan, hanya atap lama semua dibongkar dan dipasang yang baru serta sedikit dinaikan lebih tinggi.
Pintu masuk lebih lebar dengan dua daun pintu. Penataan kamar tidur termasuk ruang makan juga banyak perubahan. Bagian lantai seluruh bangunan dipasang keramik sejenis. Demikin pula teras depan pastoran dinaikkan, dan ada nuansa batu alam menempel mengelilingi tembok, dan terkesan lebih modren.
Pemberkatan pastoran dilakukan pada pukul 08.30, atau 30 menit lebih awal dari misa syukur dalam rangka HUT ke-85 di gereja, Minggu, 21 September 2025.
Sebelum upacara pemberkatan, Bapak Uskup disambut dengan pengalungan selendang khas Bali oleh Pastor Paroki diiringi bleganjur. Uniknya penabuh bleganjur ini didominasi kaum perempuan, ada juga anak-anak dan beberapa pria dewasa.

Pastor Paroki Palasari, Rm. Komang, dalam sambuatan jelang selesai misa menyebut penabuh ibu-ibu itu memiliki semangat Bunda Maria. “Ada juga anak SD kelas lima sebagai penabuh,” katanya.
Ibadat Pemberkatan Pastoran maupun perayaan Ekaristi dipimpin Gembala Keuksupan Denpasar Mgr. Silvester San. Selepas pemberkatan pastoran, Bapak Uskup San, membubuhkan tanda tangan di atas prasasti pemberkatan gedung pastoran itu.
Acara dilanjutkan dengan misa meriah sebagai puncak syukur 85 tahun Paroki Palasari, yang dimahkotai dengan penerimaan Sakramen Krisma bagi 85 umat setempat.
Ekaristi Syukur dan Krisma
Empat orang imam turut mendampingi Bapak Uskup, antara lain RD. Y.B. Nyoman Suryana (Pastor Paroki Palasari), dan Pastor Rekan Palasari RD. Yohan F. Castillo, Sekretaris Uskup RD. Agustinus Sugiyarto dan Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Denpasar, yang juga Pembina Seminari Tuka RD. Antonius I Gede Ekadana Putra. Misa ini dimeriahkan oleh koor paroki itu, dengan dua dirigen energik Frans dan Feby.

Di awal misa, Bapak Uskup mengajak umat untuk bersyukur kepada Tuhan atas penyertaanNya selama 85 tahun perjalanan paroki itu. Juga bersyukur dan menjadi lengkap sukacita umat Palasari sebab renovesi pastoran telah rampung dan baru saja diberkati. Juga bersyukur atas penerimaan Sakramen Krisma 85 orang umat setempat, yang sebagian besar berusia remaja.
Bacaan Injil pada Misa Minggu itu tentang bendahara yang tidak jujur tetapi sangat cekatan (cerdik) memikirkan masa depannya setelah dipecat oleh tuannya. Dia dipuji Tuannya karena kecerdikannya itu, bukan karena ketidajujurannya.

Dalam homilinya Bapak Uskup meminta umat agar cekatan juga dalam mengurus Kerajaan Allah, melalui keterlibatan secara aktif, terutama ketika berhadapan dengan situasi tidak adil. Bapak Uskup minta umat berbuat sesuatu dan berjuang demi terwujudnya Keadilan di tengah masyarakat.
Bapak Uskup mencontohkan Nabi Amos yang cekatan membangun Kerajaan Allah, ketika Allah memintanya untuk berbuat sesuatu mengatasi ketidak adilan.
“Nabi Amos adalah orang yang cekatan dalam mengurus Kerajaan Allah. Dia berbuat sesuatu dengan mengecam orang kaya (kaum pedagang) yang memperlakukan ketikadilan pada org miskin. Tujuannya supaya segelintir orang kaya itu bertobat,” kata Bapak Uskup.

Setelah homili, dilanjutkan dengan upacara penerimaan Sakramen Krisma. Upacara berlangsung hikmat diiringi lagu-lagu liturgis yang indah dari koor terus. Setelah upacara krisma, misa dilanjutkan seperti biasa.
Sebelum berkat penutup diisi beberapa sambutan, antara lain dari Ketua Panitia, Pembimas Katolik Kememterian Agama Provinsi Bali, Pastor Paroki Palasari dan Bapak Uskup Denpasar.

Ketua Panitia Made Sudirta mengucapkan syukur atas segala kemurahan Tuhan yang menyertai perjalanan panjang Paroki Palasari hingga merayakan HUT ke-85.
“Syukur hari ini kita persembahkan, karena semua atas kemurahan Tuhan, termasuk rampungnya renovasi pastoran yang menghabiskan dana lebih dari 2 miliar rupiah,” katanya.
Pembimas Katolik Provinsi Bali Robert Bilarminus Made Suryanta, mengungkapkan rasa sukacaita dan turut bersukacita bersama umat Palasari. “Saya bersukacita dan ikut bersukacita bersama umat Palasari. Dari paroki ini tumbuh sinar sukacita yang datang dari barat pulau Bali,” kata pria kelahiran Paroki Gumbrih ini.

Sementara Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Palasari, RD. Y.B. Nyoman Suryana, yang akrab disapa Romo Komang, dalam kesempatan itu mengatakan bahwa semua yang terjadi hingga 85 tahun ini semua karena rahmat Allah.
Peran berbagai pihak juga sangat dirasakan, karena itu Rm. Komang mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup, dan para imam konselebrasi dalam perayaan itu, Pembimas Katolik, DPP-DKP, Pemaksan Palasari, seluruh fungsionaris pastoral, umat, para penjasa, donatur dan lain-lain.
Rm. Komang lantas berpesan khusus kepada para krismawan-krismawati. “Salah satu pesan saya untuk adik-adik yang terima Sakramen Krisma, supaya menghayatinya dengan baik, tidak ada lagi motor maraung-raung, tidak ada lagi yang buang sampah sembarangn. Anda sudah dewasa, sudah bisa atur diri sendiri secara dewasa dan Roh Kudus menyertai kalian,” katanya.
Kepada seluruh umat, Romo Komang juga berpesan supaya banyaklah melakukan perbuatan baik, termasuk memperhatikan perkembangan dan kemajuan Gereja Palasari.
Dalam sambutan pemuncak, Bapak Uskup, pertama-tama menyampiakan profisiat kepada pastor paroki dan rekan, serta seluruh yang merayakan HUT ke-85 paroki itu. Tak lupa Bapak Uskup berterima kasih kepada Pater Simon dan para perintis, penjasa, dan semua pihak yang memungkinkan paroki di ujung barat pulau Bali itu terus bertumbuh dan berkembang menjadi paroki yang hebat terutama dalam melahirkan banyak panggilan menjadi imam, biarawan, biarawati.
Bapak Uskup berharap agar panggilan khusus terus diperhatikan dengan doa dan usaha nyata dari para orang tua. Bapak Uskup juga minta agar umat aktif dalam pendalaman BKSN serta memanfaatkan tahun yubileum ini untuk mengunjungi Pintu Suci di Gereja Katedral Denpasar atau pintu Suci lainnya.
Setelah misa, dilanjutkan dengan pesta umat dengan acara resepsi yang berlangsung di Pastoran Palasari. *
Hironimus Adil



