PUSAT PASTORAL

Pembekalan Teknologi AI untuk Para Imam Keuskupan Denpasar

DENPASAR – Hampir semua imam yang berkarya di Keuskupan Denpasar, baik Pastor Paroki, Pastor Rekan maupun yang berkarya di lembaga pendidikan, saat ini berkumpul di Catholic Center. Total ada 46 imam.

Para imam ini dihadirkan oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Denpasar dalam rangka mengikuti giat ‘Pembekalan Teknologi Digital AI (Artificial Intelegence) atau kecerdasan buatan.

Berdasarkan kerangka acuan, kegiatan ini merupakan program unggulan Komisi Komsos 2026 yang bertujuan antara lain membekali para imam untuk memahami dengan baik Dokumen ‘Antiqua et Nova’ dokumen tentang catatan penting hubungan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia.

Diharapkan melalui kegiatan ini, para imam selain meningkatkan kesadaran akan pentingnya dunia digital sebagai medan pewartaan Gereja masa kini, juga memahami keterampilan dasar teknologi digital AI untuk mengembangkan katekese dan pewartaan kontekstual, kreatif, relevan dan selaras zaman.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc, MBA, M.Phil, MA. Prof. Eko adalah seorang Pakar Teknologi Informasi, dan salah satu pengurus Komisi Komsos KWI, sebagai narasumber utama dalam kegiatan yang berlangsung pada 2 – 4 Februari 2026.

Pembekalan ini dibuka oleh Vikjen sekaligus Ketua Komsos Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey, Senin (2/2) di Ballroom Catholic Center Denpasar.

Vikjen sekaligus Ketua Komsos Keuskupan Denpsar RD. Herman Yoseph Babey

Dalam sambutannya, Rm. Babey menerangkan, saat ini kita hidup dalam era transformasi digital yang berlangsung sangat cepat dan mendalam. Budaya digital, termasuk perkembangan kecerdasan artifisial, telah memengaruhi cara manusia berkomunikasi, belajar, mengambil keputusan, dan membangun relasi.

Dikatakan Rm. Babey, Gereja dipanggil untuk tidak bersikap pasif, melainkan untuk membaca dan menafsirkan realitas ini sebagai tanda-tanda zaman, sebagaimana ditegaskan oleh Konsili Vatikan II: “Gereja menyelami tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil.” (Gaudium et Spes, art. 4)

Lebih lanjut dikatakan, Dokumen Gereja Antiqua et Nova menegaskan bahwa kecerdasan manusia adalah anugerah Allah, dan teknologi merupakan buah dari anugerah atau kemampuan yang telah dipercayakan-Nya kepada manusia (bdk. Antiqua et Nova, art. 1).

Romo Babey menandaskan bahwa para imam, baik imam yang berkarya di paroki maupun imam yang terlibat dalam karya-karya kategorial, memiliki peran yang sangat strategis.

“Paroki dan karya kategorial adalah ruang pastoral terdekat dengan kehidupan konkret umat. Di sanalah umat belajar menggunakan teknologi, membentuk sikap, dan menumbuhkan iman dalam keseharian,” katanya.

Membedah Antiqua et Nova

Usai sambutan Vikjen, giat pada hari pertama ini dilanjutkan dengan “Membedah Dokumen Antiqua et Nova” dengan narasumber Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI RD. Petrus Noegroho Agoeng Sriwidodo.

Romo Agung, demikian Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI biasa disapa, menegaskan bahwa perkembangan AI harus berpusat pada martabat manusia sebagai gambar Allah (imago Dei) dengan penekanan pada etika, tanggung jawab manusia dan pelayanan bagi kebaikan umum.

RD. Petrus Agoeng Noegroho Sriwidodo, Sekretris Komsos KWI (kanan) saat tampil membeda Antiqua et Nova, didampingi Ketua Komsos Keuskupan Denpasar sebagai moderator

“AI dipandang sebagai buah kreativitas manusia yang ikut serta dalam ciptaan Tuhan, tetapi tidak boleh menggantikan keputusan moral manusia atau merusak hubungan antar-manusia,” tegasnya.

Kemudian Rm. Agung, mengingatkan para imam yang menjadi peserta kegiatan ini akan pesan dua Paus yaitu Paus Fransiskus dan Paus dan Paus Leo XIV (Paus sekarang).

Paus Fransiskus, kata Romo Agung, menegaskan bahwa teknologi AI memerlukan etika kebebasan, tanggung jawab dan persaudaraan untuk kebaikan umum. Paus yang sama juga menegaskan bahwa AI memengaruhi keputusan medis, ekonomi, sosial, tetapi butuh PENGAWASAN MANUSIA. Karena itu AI berpusat pada manusia, beretika dan diarahkan pada kebaikan (bdk. Common Good In the Digital Age-2019; Pontifical Academy For Life-2020; dan Minerva Dialogues-2023).

Sementara Bapa Suci saat ini Paus Leo XIV kepada Builders AI Forum-2025, mengatakan AI sebagai partisipasi dalam ciptaan Ilahi tetapi setiap design harus mencerminkan visi kemanusiaan yang adil. Paus Leo XIV juga mengingatkan bahwa AI harus dikembangkan dengan moral dan etika yang kuat, mencerminkan keadilan, solidaritas dan penghormatan terhadap hidup manusia.

Di samping itu Paus Leo XIV menegaskan, “AI harus ditempatkan di ‘pelayanan misi Gereja’ termasuk Pendidikan Katolik, pelayanan Kesehatan yang penuh belas kasih, dan platform kreatif untuk menyampaikan kisah dan nilai Kristiani dengan kebenaran dan keindahan.”

Lebih lanjut, Romo Agung membedah Antiqua et Nova. Isi singkat dari dokumen itu, menurut Mantan Ketua Komsos Keuskupan Agung Semarang, ini antara lain AI harus mendukung pembangunan integral manusia dan masyarakat, menghindari bias algoritma yang mendiskriminasikan kelompok tertentu.

“Keputusan akhir tetap pada manusia, dan keputusan harus selalu diserahkan kepada manusia untuk menjaga harapan dan kebebasan,” ungkap Rm. Agung, tentang isi lain dokumen Antiqua et Nova.

Antiqua et Nova juga menekankan nilai-nilai seperti inklusi, transparansi, keamanan, ekuitas, privasi dan keandalan. Isi dokumen ini juga memberikan kritik terhadap transhumanisme yang merendahkan tubuh manusia.

Ada beberapa bagian isi dokumen itu, bagian pertama adalah Pendahuluan. Bagian kedua, berisi ‘Apa itu Kecerdasan Buatan.’ Dalam bagian ini, definisi AI adalah sebagai system yang meniru aspek-aspek kecerdasan manusia, terutama dalam tugas terbatas.

AI modern, terutama berbasis ‘machine learning, bekerja berdasarkan ‘Inferensi statistic’ bukan penalaran filosofis atau moral.

“Istilah ‘kecerdasan’ dalam AI bersifat fungsional dan reduksionis, berbeda dari kecerdasan manusia yang integral – melibatkan tubuh, jiwa, relasi dan trasendensi,” katanya.

Bagian ketiga dari dokumen itu berisi tentang ‘Kecerdasan dalam Tradisi Filsafat dan Teologi’; Bagian keempat mengenai ‘Peran Etika dalam Pengembangan dan Penggunaan AI.’

Bagian kelima tentang ‘Pertanyaan-pertanyaan Khusus (Aplikasi Konkret); dan bagian keenam “Refleksi Penutup: Kebijaksanaan Sejati.

Membedah dokumen Antiqua et Nova, ini menutup kegiatan hari pertama. Selanjutnya, di hari yang sama pada petang harinya, seluruh imam ini mengikuti perayaan HUT Perak (25 Tahun) Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

Memasuki hari kedua, kegiatan pembekalan itu diserahkan sepenuhnya kepada narasumber utama, Prof. Eko Indrajit*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button