WULAN SANMARI Tetap Berbuah di Masa Senja

GIANYAR – “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar” (Mazmur 92:15–16).
Usia lanjut bukanlah masa kemunduran, melainkan masa pematangan. Di dalam perjalanan panjang kehidupan, setiap kerut wajah menyimpan kisah, setiap langkah menyimpan pengalaman, dan setiap doa menyimpan kesetiaan. Para lansia adalah saksi hidup karya Allah yang setia dari masa ke masa.
Dalam semangat itulah Warga Usia Lanjut (WULAN) Paroki Santa Maria Ratu Rosari (Sanmari) Gianyar, pada 11 Februari 2026, kembali berkumpul di Kapela Santa Faustina Ubud dengan agenda pertemuan bulanan.
Pertemuan Wulan yang telah rutin dilaksanakan setiap tanggal 11 sejak tahun 2023 itu, bukan sekadar agenda bulanan, melainkan ruang perjumpaan kasih dan peneguhan iman.

Dalam pertemuan yang berpuncak pada perayaan Ekaristi kali ini, dihadiri sebanyak 45 anggota, membawa sukacita sederhana yang lahir dari hati yang saling menerima. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD I Gst Bagus Kusumawanta.
Perayaan ini bertepatan dengan Hari Orang Sakit Sedunia. Dalam homilinya, Pastor Paroki Gianyar itu, mengungkapkan menyambut Hari Orang Sakit Sedunia, disampaikan pesan Gereja tentang pentingnya kepedulian terhadap mereka yang lemah dan sakit.

“Di usia yang semakin renta, panggilan untuk saling memperhatikan justru semakin nyata. Sebab di dalam kunjungan sederhana, sapaan hangat, dan doa bersama, kasih Kristus menjadi nyata,” katanya.
Seperti sabda Tuhan dalam Yesaya, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu” (Yes 46:4), Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Penyertaan itu dialami secara konkret ketika anggota WULAN saling menguatkan, mengunjungi yang sakit, dan merangkul mereka yang mulai terbatas oleh usia.
Semangat kebersamaan ini juga tampak dalam perhatian dan dukungan banyak pihak. Bapak Basuki sebagai Ketua WULAN, menyampaikan syukur dan terimakasih kepada Romo yang memimpin Ekaristi, juga kepada Bapak Hendrik dan Ibu Ola atas kebaikan hati menyediakan tempat, serta kepada Bapak Bruno Rangga sebagai Ketua lingkungan Mikael Ubud atas izin penggunaan Kapela St. Faustina.
“Semua menjadi tanda bahwa Gereja hidup karena kasih yang dibagikan,” imbuhnya.
Pertemuan dilanjutkan dengan ramah tamah dan pembahasan rencana kegiatan, termasuk pendalaman Kitab Suci dalam rangka Aksi Puasa Pembangunan serta rencana ziarah rohani ke Jawa pada Oktober 2026.

Rencana-rencana ini menunjukkan bahwa semangat rohani tidak pernah berhenti bertumbuh. Lansia tetap berjalan, tetap belajar, tetap berziarah — bukan hanya secara fisik, tetapi terutama secara batin.
Dalam suasana makan siang bersama, kisah tentang sejarah Kapela St. Faustina turut dibagikan. Kisah itu mengingatkan bahwa iman selalu lahir dari kesetiaan kecil yang dirawat dari waktu ke waktu — sebagaimana kehidupan para lansia sendiri yang menjadi fondasi bagi generasi berikutnya.
WULAN Paroki Sanmari Gianyar menjadi tanda bahwa masa senja adalah masa berkat. Para lansia bukan beban, melainkan mahkota kehidupan. Seperti dikatakan dalam Amsal, “Rambut putih adalah mahkota yang indah” (Ams 16:31). Di dalam diri mereka, Gereja melihat kebijaksanaan, ketekunan, dan iman yang teruji.

Kiranya setiap pertemuan WULAN semakin meneguhkan para lansia sebagai saksi kesetiaan Allah, penjaga nilai kehidupan, dan sumber inspirasi bagi keluarga, paroki, dan masyarakat. Sebab pada masa tua pun, mereka tetap berbuah.
Penulis: Agus Anagoga-Gianyar
Editor: Hiro/KomsosKD



