WKRI DPD Bali-NTB Bekali Diri dengan Wawasan Kepemimpinan yang Membebaskan

DENPASAR – Demi meningkatkan kapasitas dan wawasannya, WKRI DPD Bali-NTB menyelengarakan pembekalan pengurus baru periode 2025-2030. Dilaksanakan Selasa (13/5/2025) petang di Griya Pastoral (Catholic Centre) Keuskupan Denpasar.
Hampir semua Pengurus DPD hadir dalam pembekalan tersebut. Dalam giat itu, menghadirkan Penasehat Rohani WKRI DPD Bali-NTB, RD. Herman Yoseph Babey, sebagai narasumber. Narasumber berikutnya adalah Presidium DPP WKRI yang terhubung secara online melalui zoom meeting.
Ketua WKRI DPD Bali-NTB, dr. Nisa Setiati, mengawali acara pembekalan itu dengan memberikan arahan singkat kepada para pengurus bahwa pembekalan ini sangat strategis dan penting untuk meluaskan wawasan dan peningkatan kapasitas serta tanggung jawab pengurus demi menata organisasi menjadi lebih baik.
WKRI menyadari dalam menghadapi berbagai nuansa perkembangan jaman, kualitas kehadiran Wanita Katolik RI sangat ditentukan oleh semangat melayani, kesetiaan serta tanggung-jawab para pengurus dan anggotanya untuk memadukan talenta dalam menjalankan panggilan berorganisasi.
RD. Herman Yoseph Babey, selaku penasehat rohani membekali para pengurus organisasi Wanita Katolik dengan materi menarik “Menjadi Pemimpin yang Membebaskan.”

Di awal pemaparannya, Romo Babey, demikian akrab disapa, mengungkapkan tentang makna Pempin secara umum, kemudian Pemimpin Kristiani dan WKRI sebagai Pemimpin. Dikatakan Pemimpin, secara umum dimaknai sebagai seorang yang mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan orang lain untuk tujuan bersama.
“Bukan sekedar ‘atasan’ tapi penentu arah, pemberi semangat dan penggerak perubahan,” imbuhnya.
Sementara dalam pandangan Kristiani, Pemimpin adalah pelayan, bukan penguasa. Kepemimpinan merupakan panggilan untuk membebaskan, bukan untuk mengekang. Dalam Injil Matius 20:26, mengatakan: “Barang siapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
“Sebagai serorang pemimpin Kristiani harus mendasarkan diri pada Firman Tuhan, dan punya relasi yang baik dengan Tuhan, serta bersikap rendah hati seperti seorang pelayan,” tegasnya.
Dengan demikian pemimpin dalam konteks WKRI adalah perempuan Katolik yang siap melayani dan membangun martabat sesama perempuan dan keluarganya. Romo Babey mengingatkan, bahwa WKRI itu Ormas yang diutus ke tengah dunia, bukan dalam Gereja.
Dalam kesempatan yang sama, Penasehat Rohani WKRI itu juga mengutip John Maxwell tentang Pemimpin Sejati. Dalam pandangan Maxwell, pemimpin sejati itu bukan dia yang memiliki banyak pengikut, tetapi dia yang menciptakan pemimpin-pemimpin baru. Oleh sebab itu, kata Romo Babey, kaderisasi kepemimpinan dalam organisasi termasuk WKRI mutlak dilakukan.
Ciri dari seorang pemimpin sejati, lanjut Romo Babey, antara lain harus visioner (punya arah dan tujuan jelas), berintegritas (dapat dipercaya, jujur, dan konsisten), empatik (mampu memahami dan merasakan kebutuhan orang lain, bukan sekedar simpatik), berani mengambil keputusan dan siap bertanggung jawab, serta membentuk orang lain (melatih dan memberdayakan).
Pemimpin yang Membebaskan
Bicara mengenai pemimpin yang membebaskan, menurut Vikjen Keuskupan Denpasar ini, dapat meneladani gaya kepemimpinan Yesus yang tidak menindas tapi mengangkat martabat manusia khususnya kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.
Dikatakan Romo Babey, ada tujuh ciri pemimpin yang membebaskan yaitu (1) melayani bukan menguasasi; (2) mengangkat martabat manusia; (3) memberdayakan orang lain; (4) memiliki hati yang peka terhadap ketidakadilan; (5) rendah hati dan mau dikoreksi; (6) membuka jalan, bukan menghalangi; (7) berakar pada spiritual (hidup doanya kuat, keputusannya dilandasi nilai Injil serta mencari kehendak Tuhan, bukan ambisi pribadi).

Sedangkan ciri dari pemimpin yang tidak membebaskan, antara lain: (1) otoriter dan tidak mau mendengarkan; (2) menindas dengan aturan; (3) tidak mau bertanggung jawab; (4) mengutamakan citra daripada kebenaran; (5) menyebabkan ketergantungan; (6) tidak peka terhadap ketidakadilan; (7) mengabaikan spiritualitas.
Romo Babey menegaskan agar WKRI sebagai pemimpin harus menerapkan kepemimpinan yang membebaskan dengan meneladani Yesus serta menghayati ciri-ciri pemimpin yang membebaskan.

“Yang penting tentang pemimpin, terutama WKRI adalah berakar dalam doa dan firman, oleh karena itu harus menyertakan Tuhan dan mengandalkan RohNya dalam menjalankan kepemimpinan organisasi,” ungkap Direktur Puspas ini.
WKRI Bali-NTB juga diingatkan Romo Babey, untuk mengembangkan Kepemimpinan yang berdasarkan keadilan dan kepedulian. Juga pemimpin yang berani dan berdasarkan kebenaran. Dengan mengutip Gaudium et Spes Rm. Babey, menegaskan “Pemimpin sejati harus berpihak kepada yang lemah dan menderita.”
WKRI juga diharapkan menjadi suara bagi yang tidak terdengar dan melindungi hak-hak mereka yang terpinggirkan, dan menjadi pemimpin yang mengabdi dan melayani.
Sebagai ajakan Romo Babey mengingatkan bahwa seorang pemimpin yang membebaskan harus mengikuti teladan Yesus Kristus yang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani (Mat. 20:28).
Diingatkan tentang Ajaran Sosial Gereja yang menegaskan bahwa pemimpin yang membebaskan biasanya menghormati dan memeperjuangkan martabat setiap orang tanpa diskriminatif dan harus memandang pelayanan sebagai panggilan yang mulia, tidak sekedar sebagai sebuah kekuasaan.
Setelah mendapatkan pencerahan selama kurang lebih satu jam dari Penasehat Rohaninya, para pengurus WKRI DPD Bali-NTB, lanjut dengan mendengarkan penjelasan dari Presidium II DPP WKRI Veronika Kho Hwie Hong, melalui zoom meeting.
Dari DPP menjelaskan tentang Petunjuk Pelakasa (Juklak) Atribut Organisasi WKRI serta sosialisasi hasil Kongres WKRI ke XXI tahun 2023. Hasil kongres WKRI antara lain tentang 4 isu kritis yang perlu disikapi, yaitu korupsi dan pengeroposan ideologi bangsa, perempuan dan anak dalam konteks kemiskinan (struktural), Lingkungan hidup dan perubahan iklim, serta perempuan dan perkembangan teknologi dan informasi.*
Hironimus Adil


