LINTAS PAROKI

Vikjen : Dari Takut Menjadi Percaya, Dari Luka Menjadi Rahmat

Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi di Paroki Praya

PRAYA, LOMBOK TENGAH – Dalam masa liturgi Gereja Katolik, Minggu Paskah Kedua merupakan Minggu Kerahiman Ilahi. Di seluruh gereja Katolik, Minggu Kerahiman Ilahi, tahun ini jatuh pada Minggu, 12 April 2026.

Ada yang sedikit yang beda di Paroki Yohanes Pemandi Praya dalam merayakan Minggu Kerahiman Ilahi tahun ini. Umat paroki itu mendapat kunjungan dari Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, sekaligus menjadi Selebrant Utama misa itu.

Sukacita merayakan Minggu Paskah Kudua ini, menjadi sempurna sebab seluruh umat paroki baik dari Stasi Pringgabaya, Stasi Selong (kedua stasi ini terletak di Kabupaten Lombok Timur) serta umat di pusat paroki di Praya (Lombok Tengah) mengikuti perayaan di gereja Katolik yang terletak di kompleks IPDN Praya.

Dalam memimpin perayaan Minggu Kerahiman Ilahi itu, Vikjen didampingi Pastor Paroki Praya RD. Klemens Bere. Misa berlangsung dalam suasana teduh penuh sakral.

Dalam homilinya mengungkapkan bahwa dalam hidup ini, setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat gelap. Ada masa ketika hati lelah, doa terasa hampa, harapan menipis, dan hidup seperti kehilangan arah. Ada orang yang tersenyum di luar, tetapi menyimpan luka di dalam. Ada keluarga yang tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang memikul beban berat.

Ada juga umat yang datang ke gereja, tetapi hatinya penuh pertanyaan: Tuhan, apakah Engkau masih peduli?; Apakah Engkau masih melihat air mataku?; Apakah hidupku masih bisa dipulihkan?

“Hari ini, pada Minggu Kerahiman Ilahi, Tuhan menjawab semua pertanyaan itu dengan satu pesan besar: ‘Ya, Aku peduli. Ya, Aku datang kepadamu. Ya, kasih-Ku lebih besar daripada lukamu,’” ungkap Rm. Babey menguatkan iman umat.

Menurut Rm. Babey, dalam perayaan Hari Kerahiman Ilahi ini, Sabda Tuhan menunjukkan kepada pengikutNya tiga jalan agar iman kita dikuatkan. (1) Tuhan Datang Menembus Pintu yang Tertutup (Bdk. Yoh 20:19-31)

Dalam Injil, lanjut Rm. Babey, menceritakan para murid berkumpul di ruangan tertutup. Pintu terkunci. Hati mereka penuh takut, mereka trauma, mereka bingung. Mereka merasa masa depan sudah berakhir.

“Bukankah itu juga sering terjadi pada kita? Kadang hati kita juga seperti ruangan tertutup: tertutup karena kecewa, tertutup karena dosa, tertutup karena kegagalan, ertutup karena kehilangan, tertutup karena takut akan masa depan,” ungkap Rm. Babey.

Rm. Babey, kemudian menyampaikan bahwa kabar baiknya adalah pintu tertutup tidak pernah bisa menghalangi Yesus.Yesus datang dan berdiri di tengah mereka. Ia tidak marah karena para murid lari meninggalkan-Nya. Ia tidak menghukum karena mereka kurang percaya. Ia datang membawa salam:’Damai sejahtera bagi kamu.’

Lalu Rm. Babey, menerangkan bahwa itulah wajah Kerahiman Ilahi. “Tuhan tidak datang untuk menghakimi kita, tetapi memulihkan kita. Tuhan tidak datang menambah beban, tetapi memberi damai. Mungkin hari ini hati kita tertutup. Tidak apa-apa. Undang saja Yesus masuk. Karena Dia sanggup masuk ke hati yang paling terluka sekalipun,” imbuhnya.

Jalan ke (2) Luka Tidak Disembunyikan, Tetapi Menjadi Sumber Iman (bdk. Yoh 20:24-29)
Rm. Babey mengingatkan umat tentang Tomas.

“Kita mendengar tentang Tomas. Ia ragu. Ia sulit percaya. Ia ingin bukti. Banyak orang sering menyalahkan Tomas. Tetapi sebenarnya Tomas adalah gambaran kita semua. Bukankah kadang kita juga seperti Tomas?, Kalau doa belum dijawab, kita ragu. Kalau sakit tak sembuh, kita bertanya. Kalau masalah datang bertubi-tubi, kita goyah. Kalau hidup tak sesuai harapan, kita bertanya: Tuhan ada di mana?,” tanya Rm. Babey penuh reflektif.

Rm. Babey kemudian menegaskan, “Namun Yesus tidak menolak Tomas. Yesus datang lagi. Dengan sabar Ia berkata: ‘Taruhlah jarimu di sini. Jangan tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ Perhatikan: Yesus menunjukkan luka-Nya. Mengapa? Karena luka Kristus adalah bukti cinta-Nya. Luka-luka itu berkata: Aku tahu penderitaanmu. Aku pernah terluka. Aku tidak meninggalkanmu. Dari luka-Ku mengalir keselamatan bagimu.”

Rm. Babey, lantas mengingatkan, “Kadang kita malu dengan luka hidup kita: masa lalu kita, kegagalan kita, air mata kita. Tetapi di tangan Tuhan, luka bukan akhir cerita. Luka bisa menjadi tempat rahmat bekerja. Air mata bisa melahirkan kedewasaan. Kegagalan bisa melahirkan kerendahan hati. Penderitaan bisa melahirkan iman yang lebih murni.

Teladan Jemaat Perdana

Jalan ke (3), Iman Hidup Dalam Persekutuan dan Pengharapan (bdk. Kis 2:42-47; 1Ptr 1:3-9)
Rm. Babey lebih lanjut mengajak umat untuk mengingatkan kembali bacaan pertama yang menunjukkan bagaimana jemaat perdana hidup setelah mengalami Yesus yang bangkit.

Jemaat perdana adalah orang yang tekun dalam pengajaran rasul, hidup dalam persekutuan, memecahkan roti, berdoa bersama, saling berbagi.

“Mengapa mereka kuat? Karena mereka tidak berjalan sendiri. Salah satu alasan iman melemah adalah karena kita mencoba berjuang sendirian. Kita mau kuat sendiri. Kita mau sembuh sendiri. Kita mau menghadapi masalah sendiri,” tegasnya.
Padahal, kata Rm. Babey, Tuhan memberi Gereja, komunitas, keluarga, lingkungan, dan sesama umat supaya saling menguatkan.

“Surat Petrus berkata bahwa kita memiliki pengharapan hidup melalui kebangkitan Kristus. Walau sekarang kita mengalami berbagai pencobaan, iman kita sedang dimurnikan seperti emas dalam api. Artinya, penderitaan bukan tanda Tuhan meninggalkan kita. Bisa jadi justru Tuhan sedang membentuk kita menjadi lebih kuat,” katanya.

Lantas apa yang harus diakukan? Rm. Babey mengungkapkan bahwa Sabda Tuhan hari itu bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dijalankan, dengan tiga hal sederhana yaitu: Pertama, Bukalah pintu hati bagi Yesus.

Rm. Babey mengajak untuk berhenti menutup diri. Datanglah dalam doa. Datanglah ke gereja. Datanglah dalam adorasi. Datanglah dalam Sakramen Tobat. Biarkan Yesus masuk dan berkata: ‘Damai sejahtera bagimu.’

Kedua, Serahkan luka kita kepada Kerahiman Tuhan. “Jangan simpan semua beban sendirian. Ceritakan kepada Tuhan. Sebut nama masalahmu dalam doa. Katakan: ‘Yesus, aku percaya pada-Mu’. Kalimat sederhana ini sangat kuat,” katanya.

Ketiga, Hiduplah dalam kasih dan persekutuan. Rm. Babey mengajak “Mari saling menolong. Saling mengampuni. Saling menguatkan dalam keluarga dan lingkungan. Jangan hanya datang ke gereja, tetapi jadilah gereja yang hidup bagi sesama.”

Di bagian akhir homilinya Vikjen menegaskan kembali “Hari ini Tuhan tidak menanyakan seberapa sempurna iman kita. Tuhan hanya bertanya: maukah engkau membuka hati?
Kalau hari ini engkau lelah, datanglah. Kalau hari ini engkau ragu, datanglah. Kalau hari ini engkau terluka, datanglah. Kalau hari ini engkau merasa berdosa, datanglah. Karena Kerahiman Tuhan lebih besar dari dosa kita. Kasih Tuhan lebih besar dari luka kita. Dan kebangkitan Kristus lebih besar dari semua ketakutan kita. Mari bersama berkata dari hati:
Yesus, Engkau andalanku. Yesus, Engkau harapanku. Yesus, aku percaya pada-Mu, Amin.”

Usai perayaan, para Ketua KBG bersama Pastor Paroki Praya RD. Klemens Bere mengikuti pertemuan ‘Konsolidasi KBG se-Pulau Lombok di Paroki Mataram.*

Editor: Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button